Critical Eleven (2017): Film Tentang Percintaan yang Bermula di Dalam Pesawat

Critical Eleven (2017): Film Tentang Percintaan yang Bermula di Dalam Pesawat
Critical Eleven (2017). Sumber gambar: IMDB

Diadaptasi dari novel laris karangan Ika Natassa (Gramedia, 2015), Critical Eleven menyusul sejumlah novel laris lainnya yang banyak ditunggu penggemarnya, atau sama sekali bukan pengggemar bahkan belum pernah membaca bukunya. Ya, itu saya. Yes, my bad. saya hanya tahu sedikit jalan ceritanya dari seorang kawan editor. Apa yang kemudian membuat saya membelanjakan 40.000 rupiah dan tinggal dalam gedung mall Ambarukmo Plaza hingga tengah malam, hanya karena saya mau menonton Adinia Wirasti. Banyak film terbarunya yang saya lewatkan, sebut saja Ada Apa dengan Cinta 2, Cek Toko  Sebelah, dan Kartini. Dua judul yang saya sebutkan, dia sudah pasti tertutupi pesona Dian Sastrowardoyo, bukan?

Disutradarai oleh Robert Ronny (Kartini) dan Monty Tiwa (Kapan Kawin), film yang bagi saya cukup panjang ini, berusaha untuk semaksimal mungkin memindahkan semua cerita dalam dimensi novel ke dalam layar lebar. Durasinya 2 jam 15 menit. Berpotensi besar untuk membuat penonton bosan jika cerita yang dihadirkan kurang memuaskan. Terlebih jam putarnya mulai jam 9 dan jam 10 malam. Kisah ini memang menampilkan sinematografis yang instagramable, seperti kota New York, rig oil, perkantoran Jakarta, tapi itu tidak mengalihkan sejumlah tanda tanya bagi saya yang notabene belum pernah membaca bukunya. Timeline dari satu adegan ke adegan lain membingungkan saya, dengan tidak adanya keterangan di layar.

Yang pertama, kebingungan saya muncul ketika setelah pertemuan di dalam pesawat yang berkesan bagi Ale (Reza Rahardian-Habibie & Ainun) dan Tanya (Adinia Wirasti-Selamat Pagi Malam) mereka langsung dekat lalu bertemu dengan orang tua Ale lalu menikah. Apakah mereka ingin menjalani kisah cinta yang instan atau cukup panjang? Ale adalah salah satu pekerja di sebuah pengeboran minyak di… Meksiko mungkin ya, atau mungkin Sidney entahlah, yang sepertinya baru saja pulang ke Indonesia untuk mengunjungi keluarganya. Percakapan keduanya di pesawat Singapore Airlines kelas 1 hanyalah percakapan ringan belaka. Oh ya, buat yang belum paham apa itu critical eleven (sebenarnya sebutannya adalah critical 11 minutes), merujuk pada menit-menit yang dianggap krisis dalam dunia penerbangan komersial, yaitu 3 menit sebelum take off dan 8 menit sebelum landing. Di saat-saat itulah paling banyak kecelakaan pesawat terjadi. Maka, kita harus mematikan telepon genggam, memasang sabuk pengaman, duduk manis, berdoa, tidur (terlebih jika menunggu antrean take off sampai sejam lamanya dan begitu bangun udah di atas awan aja).

Tapi jangan berpikir bahwa ini adalah film tentang kecelakaan pesawat. Sama sekali tidak ada yang begituan. Hanya sekali turbulensi yang terlihat “aneh”. Perhatikan sajalah nanti ketika menonton. Perkenalan Ale dan Tanya berlangsung di 3 menit sebelum penerbangan. Dan 8 menit sebelum mendarat, mereka berciuman di kamar mandi. NOOOO! Bercanda. Jangan khawatir, keduanya sering beradegan ciuman sepanjang film ini meskipun buat saya biasa-biasa saja.

Setelah itu, kita dibawa melaju memasuki dunia pernikahan Ale dan Tanya yang penuh kemesraan, dan juga kesepian sebab Ale sebagai pekerja di pabrik pengeboran harus sering pergi meninggalkan Tanya. Oh ya, sebelum menikah, Tanya adalah seorang workaholic, dia independen, smart. Dia memiliki geng sekantor, salah satunya Don (Hamish Daud) yang saya agak bingung dengan karakternya yang sering disebut “Bencong” karena dia satu-satunya lelaki dalam lingkaran persahabatan Tanya. Dia menyimpan rasa pada Tanya, dan belakangan Tanya sempat menanyakan hubungannya dengan seorang perempuan. Oke, dia bukan gay, sayang sekali. Bencong di sini sebagai bentuk sebutan sarkas belaka.

Bagi seorang perempuan workaholic dan independen itu tadi, saya nggak paham kenapa Anya bisa dengan mudahnya meninggalkan pekerjaannya dan ikut suami ke New York, lalu hanya di rumah menunggu suami pulang. Ya, sebelum akhirnya dia mengambil pekerjaan part time. Seseorang yang sudah terbiasa dengan rutinitas, mengapa begitu mudahnya meninggalkan semua itu? Hanya karena cinta kepada suami. Nah lagi-lagi ada “missing point” terlewatkan oleh si penulis skenario, bahwa penonton pasti akan berpikir sama seperti saya. Bekerja itu asyik, terlebih suami jarang di rumah dan Anya sama sekali bukan tipe penyuka dunia hiburan malam.

Yang kedua, adalah tentang betapa antara Tanya dan Ale, okelah mereka soal mesra memang tidak perlu ditanya, komunikasi mereka untuk mendiskusikan sesuatu sangat kurang. Ketika Tanya hamil, Ale terus mendesak agar mereka pulang ke Indonesia. Ale mau begitu, Tanya sebaliknya. Ale yang sudah tinggal lama di New York seakan merasa harus kembali ke keluarga besar agar Tanya baik-baik saja ketika anak mereka lahir. Sementara Tanya justru mulai merasakan kenyamanan dengan hidup barunya. Tanya pun sehat-sehat saja, tidak ada perintah untuk harus bed rest. Tanya sempat mengalami kecelakaan kecil ketika diserempet sepeda. By the way, bagian ini saya agak gagal paham ya, bagaimana ceritanya Tanya bisa sampai disambar sepeda padahal dia berjalan di pinggir dan pesepeda itu berjalan di tengah.

Yang ketiga, keingintahuan saya atas jabatan pekerjaan Ale ada dasarnya. Ketika di suatu malam dia menghubungi temannya dan minta pindah. Minta pindah ke perusahaan lain di Indonesia yang notabene perusahaan besar. Tapi pekerjaannya itu masih berkutat dengan sledgehammer, artinya dia masih pekerja yang belum tinggi-tinggi amat kan posisinya? Tolong koreksi saya jika salah. Apakah semudah itu? Another missing point? Oh ya, ngomong-ngomong, untuk ukuran pekerja pengeboran minyak pakaian Ale dan lainnya tergolong bersih tanpa noda, ya? Hanya sedikit berkeringat pula. Padahal pengeboran terletak di tengah lautan dengan temperatur tinggi.

Yang keempat, ketika Tanya bisa mendapatkan pekerjaannya kembali setelah dia tinggalkan untuk menikah. Apakah posisi itu dibiarkan kosong hingga dengan mudahnya didapatkan tanpa susah payah? Dan berapa lama Tanya sudah meninggalkan kursinya? Missing point.

Yang kelima, sebenarnya bukan kebingungan, tapi lebih tepatnya kejengkelan saya akan film Indonesia yang tidak bisa meninggalkan budaya iklan eksplisit dalam film. Sangat mengganggu. Haruskah itu masuk ke dalam adegan dan dialog tokoh? Mulai dari Hooq, Telkomsel, Line. Bertaburan merusak pemandangan. Come on!

Yang keenam, penyebab Tanya keguguran. Ini pun saya tidak paham. Sebab, saya tidak melihat aktivitas Tanya di kantor yang terlalu berlebihan. Dia tidak harus ke sana-kemari untuk menemui klien, terbang ke luar negeri sering-sering seperti sebelum dia menikah, dan bayinya tiba-tiba bermasalah seminggu sebelum kelahiran hingga dilahirkan dalam kondisi tidak bernyawa. Tanya pun berada di dekat keluarga Ale yang sebegitu perhatiannya, melebihi perhatian mereka pada Ale. Anoter missing point for me.

Yang ketujuh, ketika dia pergi ke Sidney untuk beberapa hari dan hanya membawa koper kecil, sementara ketika ke Singapura dan untuk sehari, kopernya lebih besar. Kenapa begitu ya? Kedelapan, Tanya tidak pernah memberikan jawaban yang memuaskan penonton mengapa dirinya tidak pernah mendatangi makam anaknya. Kesembilan, adegan seks antara Tanya dan Ale fungsinya sebagai apa? Kesepuluh, Mike Lewis kok munculnya cuma sebentar ya? Ralat, Nino Fernandez ya. Makasih buat Mbak Ika Natassa yang mengingatkan saya.

Ya, mengadaptasi sebuah novel ke layar lebar memang tidak mudah. Tapi jika dilakukan dengan teknik yang tepat, maka versi adaptasi akan lebih bagus. Salah satu yang saya acungkan jempol adalah Big Little Lies yang diramu sedemikian rupa hingga membuat saya kehilangan minat menyelesaikan membaca buku setelah menonton serialnya. Serialnya saya akui lebih seru dan hidup tidak melulu bergantung pada novel Liane Moriarty. Salah satunya adalah di buku, Madeline punya 3 anak, di serialnya cuma ada 2. Dan bukunya sama sekali tidak musikal sementara musik bertaburan di serialnya.

Di luar faktor banyaknya kekurangan dan lambatnya cerita, pemutaran Critical Eleven disambut antusias hingga bangku-bangku penonton terisi penuh.

Trailer Critical Eleven:

Jogja, 11 Mei 2017

1 Comment

Leave a Response