Cross Training, Latihan-Latihan Alternatif Pengusir Kebosanan

Cross Training, Latihan-Latihan Alternatif Pengusir Kebosanan
Cross Training. Sumber gambar: topspeedrunning.com

Melakukan satu jenis olahraga terus-menerus dalam jangka panjang memang wajar jika kemudian memicu rasa bosan. Berkurangnya durasi latihan lalu ditambah dengan alasan-alasan untuk tidak berolahraga pada akhirnya akan merugikan diri sendiri. Sementara tubuh perlu terus dilatih sekaligus menjaga kebugaran. Bagaimana jika fase bosan telah datang?

Selama tahun 2016, saya hanya bersepeda. Ada variasi tentu saja dalam latihan-latihan yang saya lakukan. Mulai dari kecepatan, kekuatan, hingga ketahanan. Namun intinya tetap saja bersepeda. Menjelang pergantian tahun, saya mulai mengurangi porsi latihan. Malas, intinya begitu.

Di awal tahun 2017, saya tergelitik untuk mulai lari. Olahraga yang sebenarnya tidak terlalu saya sukai. Melelahkan, karena dulu saya pernah mencobanya. Tapi, rasa penasaran untuk mencoba lagi, dan “berselingkuh” dari bersepeda rasanya tidak salah. Dari sebuah situs tentang lari, saya mendapat istilah cross training.

Lari juga bagian dari latihan kardio. Latihan untuk memperkuat jantung dan mengatur napas sebaik-baiknya. Hanya saja, kita perlu bersabar untuk bisa menempuh jarak jauh. Mulailah latihan dengan perlahan-lahan. Bagi para pesepeda, perkara kekuatan kaki bisa dilewatkan begitu saja. Mengayuh pedal bukanlah perkara enteng, walaupun sepeda yang ditunggangi berbahan ringan. Setidaknya otot-otot paha telah mengencang karena bersepeda.

Perkara mengatur napas adalah pelajaran inti. Saya memulai latihan pertama kali di malam hari. Maksudnya supaya tidak terlalu panas. Masalahnya, asap kendaraan di malam hari cukup mengganggu. Pagi hari adalah waktu paling ideal. Udara masih segar, kendaraan belum padat.

Jarak yang pertama kali saya tempuh adalah 1 kilometer. Jika bersepeda, dalam 2 menit sudah rampung. Dibawa berlari paling lama 15 menit. Keesokan harinya saya coba nambah sekilo lagi. Istirahat sehari lalu mulai lagi dengan jarak terakhir sudah saya tempuh. Rupanya saya sanggup. Bahkan ketika berhasil menyelesaikan 5 kilometer, rasanya sangat senang. Saya butuh 60 menit untuk menyelesaikannya. Keringat yang keluar jauh melebihi saat saya bersepeda. Bukan hanya di badan, muka pun basah kuyup.

Jumlah kalori yang dibakar ketika berlari selama 1 jam dan bersepeda selama 1 jam tidak jauh berbeda kok. Di kisaran 300-400 kalori. Namun rasa lelah ketika berlari jauh lebih tinggi. Dua jam setelah lari, saya pasti langsung merasa ngantuk dan tidur akan nyenyak.

Cross training saya tidak hanya lari, tapi juga jump rope. Sayangnya, aplikasi Strava belum bisa mengukur jump rope. Saya hanya bisa memakai aplikasi Instant Heart Rate untuk membandingkan detak jantung saat bersepeda, lari, dan jump rope. Meski kelihatannya hanya melompati tali, tapi cobalah dengan mempercepat putaran tali, detak jantung akan naik dengan cepat.

Dalam jump rope ada berbagai gaya yang bisa dicoba. Intinya adalah memperkuat otot kaki, koordinasi tangan, dan jantung. Belakangan, ketika berlatih jump rope, saya tidak tahu kenapa, bagian betis terasa sakit dan tidak hilang di hari berikutnya. Dengan kondisi seperti itu, mau melompat dengan dua kaki akan membuat titik tadi lebih sakit. Lari juga sama sakitnya. Untungnya, ketika bersepeda, rasa sakit itu sama sekali tidak muncul sebab pusat kekuatan kayuhan pedal ada pada otot paha.

Cross training perlu dilakukan. Pertama, untuk mencegah datangnya rasa bosan. Kedua, melatih lebih banyak otot-otot tubuh. Ketiga, menghindari risiko cedera. Keempat, supaya terlihat punya kemampuan di banyak macam olahraga.

 

Jogja, 28 Maret 2017

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response