Bersepeda ke Desa Wisata Brajan dengan Jogja Women Cyclists

Bersepeda ke Desa Wisata Brajan dengan Jogja Women Cyclists
Desa Wisata Brajan.

Pulang dengan kondisi basah kuyup adalah risiko ketika bersepeda di musim penghujan, terlebih sejak pagi langit sudah mendung. Jogja bagian barat hujan deras, sedangkan kosan saya yang berada di sebelah timur masih kering. Saya benar-benar lupa membawa jas hujan. Jadilah kami pulang menyusuri Jalan Godean setelah mampir makan soto, berpacu dengan waktu. Hujan sesekali mereda, lalu datang yang lebih deras. Saya yang bersama rombongan Jogja Women Cyclists berdua belas orang, melirik setiap toko di pinggir jalan, siapa tahu ada yang menjual mantel. Teman-teman saya yang lain sepertinya tidak ada niat berhenti untuk itu. Dan apa mau dikata, yang kami lewati justru warung-warung penjual makanan. Jersey saya semakin basah dan yang saya khawatirkan adalah ponsel saya apakah bisa bertahan sampai rumah. Akhirnya, saya menemukan penjual mantel dan membeli mantel plastik murahan untuk keadaan darurat ini.

Jadwal gowes bareng JWC kali ini adalah Desa Wisata Brajan. Terletak di Sendangagung, Minggir, Kabupaten Sleman. Di sana, merupakan sentra kerajinan bambu yang hasilnya dijual baik di dalam maupun luar negeri. Dari seorang penduduk, saya kemudian tahu bahwa bahan utama berupa bambu tidak mereka tanam sendiri. Tiap pagi, ada mobil yang datang dan membawa bambu dengan berbagai jenis. Para pengrajin ini kemudian membeli sesuai kebutuhan mereka. Kami mendatangi salah satu show room bernama Prink Mas. Karena kami datang agak pagi, tokonya masih tutup. Mbak Ninit-lah yang kemudian membukakan pintu untuk kami.

Di dalam show room yang tidak begitu besar, kami melihat berbagai hasil kerajinan mulai dari yang berbentuk besek, perahu, tas, pincuk, dan masih banyak lainnya. Bagi para penyuka barang-barang kerajinan, akan tertarik setidaknya membeli item-item yang tersedia di sana. Harganya beragam, tergantung bentuk, ukuran, dan juga fungsinya. Bagi yang berwisata ke sana pun bisa mengikuti kelas workshop.

Tentu saja di Desa Wisata Brajan tidak hanya dikembangkan kerajinan bambu. Dibutuhkan empat tahun, dimulai dari tahun 2016 hingga tahun 2020 hingga Brajan memiliki tempat outbond (pembangunan tahun 2016-2017), kemudian menyusul aula dan homestay (periode 2017-2018), dan terakhir adalah pembangun gazebo (2018-2019). Di tahun 2020, Brajan telah purna dalam hal pengembangan pertanian, kerajinan, dan juga festival. Mudah-mudahan saja semuanya berjalan dengan lancar.

Untuk mencapai Desa Wisata Brajan sangatlah mudah. Terdapat sejumlah papan penunjuk jalan. Kami memulai perjalanan dari Tugu Jogja, mengambil arah terus ke barat menyusuri Jalan Godean yang beraspal mulus dan cenderung turun, sesekali kami melewati tanjakan pendek namun tidak melelahkan karena cuaca tidaklah begitu panas. Sebelum mencapai Brajan, kami melewati beberapa papan petunjuk menuju desa wisata lainnya. Ya, potensi wisata di Jogja memang tidak lagi memulu tentang pantai dan gunung. Para turis tentunya juga memiliki ketertarikan pada nuansa pedesaan dan juga aktivitas para penduduk di pedesaan. Sepanjang perjalanan, kami dihidangkan dengan pemandangan sawah yang menghijau. Benar-benar menyegarkan kami dari segala kepenatan di kota.

Peta lokasi Desa Wisata Brajan:


Jogja, 13 November 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response