Dia yang Terlemah; Bahas Cerpen Nawal As-Sa’dawi

Dia yang Terlemah (Kanat Hiyal Ad’af) merupakan salah satu racikan supermantap Nawal as-Sa’dawi yang menyoroti tentang intimidasi perempuan di malam pertamanya. Mohon maaf dengan diksi yang kritis, bagaimanapun juga, pendekatan yang saya gunakan adalah kritik sastra feminis. Saya teringat dengan karya ini setelah membaca The Girls of Riyadh. Dia yang Terlemah diambil dari antologi cerpen berjudul sama, terpublikasikan tahun 1987 alias 18 tahun sebelum The Girls of Riyadh terbit dan langsung dibredel pemerintah setempat. Kesamaan antara kedua karya hanyalah latar budaya Arab, seingat saya bukan di Arab Saudi, tapi Mesir. Jangan bayangkan kota Kairo yang hiruk-pikuk. Tradisi tes keperawanan ini berlaku di pedalaman dan saya sulit percaya, seorang pengantin baru kehilangan keperawanan dengan cara yang tidak wajar dan itu disaksikan oleh ibu atau kerabatnya. Menjijikkan, tapi itu nyata. Jika ingin membaca keseluruhan analisisnya, silakan membaca skripsi saya.
Sekarang, simak dulu seperti apa cerita dalam Dia yang Terlemah:

Jari tengah selain jari-jari tangan kanannya. Tidak ada jari lain yang baik. Jari kelingking lebih panjang dari yang biasa. Ibu jari lebih menonjol dari bentuk normal. Kuku jari telunjuk telunjuknya tidak tumbuh lagi setelah terpotong kapak. Kuku itu penting, yang paling penting di jari-jari. Kuku itu yang membuka jalan. Dia mendesak ibunya untuk memotong sesuatu yang lain lebih keras seperti ujung tongkat, tetapi ibunya meremas pundaknya dengan jari-jari yang kuat kemudian mendorongnya ke tanah. Dia tidak kuasa meludah dan menjilat debu dengan lidahnya sambil memikirkan kedua kaki besar ibunya melangkah dengan kokoh. Tubuhnya yang tinggi sempuna menggetarkan bumi. Dengan jari-jarinya yang panjang dan kuat menggenggam kapak dan mengangkatnya ke atas seolah itu adalah kayu yang amat kecil. Kemudian dia memukulkannya ke tanah lalu membelahnya seperti semangka.
Dia kuat seperti sapi jantan. Dia membawa beban di kepalanya lebih banyak dari yang dibawa keledai. Dia mengaduk adonan, menyapu, memasak, membajak, mengandung dan melahirkan tanpa merasa lelah dan bosan. Hanya saja dia yang membentuk dari dagingnya dan minum darahnya, tetapi dia kuat dan tidak menyisakan apa-apa kecuali keburukan dan kelemahan.
Ini keinginan yang keji untuk berdekatan dengan ibunya, meletakkan kepalanya di dada ibunya, serta mencium aroma tubuhnya tanpa cinta. Dia ingin berdekatan dengan ibunya sekali lagi agar dia melahirkannya kembali dengan otot lebih kuat. Dia ingin berada di dalam tubuhnya yang kuat. Ketika mendekati ibunya dia tidak ingin mendekatinya, tetapi ingin menggigit dan memakan dagingnya yang sempurna sepotong demi sepotong. Tetapi, dia tidak bisa. Setiap apa yang dia bisa lakukan adalah meletakkan kepalanya di pangkuan ibunya dan dia membencinya. Kadang-kadang dia dia menangis, kadang-kadang dia berlari. Suatu hari dia pergi diam-diam dari ladang sambil menggigit ujung pakaiannya di antara kedua gigi. Dia terus berlari sampai memasuki sebuah tempat yang tidak dikenal dan gelap di sekelilingnya. Dia mendengar lolongan serigala di kejauhan maka segera dia berbalik pulang ke rumah. Sekali dia mencuri 5 keping Piaster dari saku ibunya dan menaiki K.A. Delta. Dia turun di sebuah kampung yang tidak diketahui namanya. Dia mulai berjalan di jalan yang besar sampai perutnya keroncongan dan betis kakinya panas. Kemudian dia memotong karcisnya dan kembali dengan kereta ke kampungnya. Sekali lagi dia mencuri sepuluh Piaster dan pergi diam-diam ke seorang dukun dan dia berdiri di depannya dengan terengah-engah.
-Katakan apa yang kamu inginkan, Nak?
Dia menyembunyikan lidah yang kering dalam langit-langit mulutnya serta menyembunyikan jari-jarinya di dalam pakaiannya.
-Jari-jariku …
-Kenapa jari-jarimu?
-Tidak bisa menggenggam kapak seperti ibuku.
Pria itu meletakkan tangan di atas pundaknya:
-Itu cacat. Pergi temuilah ibumu dan minta dibelikan Ritl daging, maka kamu akan kuat seperti kuda!
Lalu dia menangis di pangkuan ibunya yang lapang sampai ibunya membelikan sepotong daging yang dimakan sampai habis. Kemudian dia minum dan bersendawa. Dia merasakan hangat yang nikmat mengalir di jari-jarinya. Dia menggenggam, membuka, membengkokkan, dan meregangkan jari-jarinya dengan senang atas kekuatan barunya. Akan tetapi dia merasa kedua pelupuk matanya berat. Dia memejamkan mata dan beristirahat dengan nyenyak. Dua hari kemudian dia terjaga lalu memikirkan dinding yang masuk dalam otot-ototnya dari kekuatan daging dan masuk bersama kekuatan baru.
Tidak bisa dipungkiri. Di dalam kepalanya ada akal yang bekerja. Dia adalah pria terpandai di kampungnya. Dia membacakan koran untuk mereka, menuliskan khutbah untuk mereka, menyelesaikan masalah, dan dia juga berkhutbah Jumat ketika imam tidak hadir. Akan tetapi, menurut mereka lelaki adalah orang yang berbadan kuat walaupun memiliki otak yang bodoh. Akalnya bekerja tetapi otot-ototnya lemas. Hari-hari itu berlalu dan hari yang malang mendekat. Semua cara yang dicoba tidak memberi manfaat. Dia menutup semua kesempatan lain yang ada dalam dirinya. Dia mulai melemaskan otot-ototnya. Dia menggenggam, meregangkan, serta membunyikannya jari-jarinya. Setiap malam sungguh-sungguh menjadi lemas. Suatu ketika jari-jarinya menggenggam, kali yang lain menjadi lemas.
Tibalah hari itu. Dia melihat ibunya menyapu dan menyirami rumah sebelum fajar, dan menumpuk bangku-bangku kayu di depan rumah. Dia berusaha pura-pura tidur atau pura-pura mati tetapi ibunya meremas pundaknya dengan jari-jari tangan yang dia kenal maka dia menggerakkan kedua kakinya. Mulailah rombongan orang memenuhi halaman rumah. Para lelaki membawa tongkat dan berkumpul seraya menari. Para perempuan mengenakan pakaian mereka yang berwarna-warni. Mereka bersorak dan menyanyi. Mereka membicarakan sesuatu yang menarik tentangnya. Dia berjalan di tanah dengan kebodohan baru tentang jari-jari kedua kakinya. Di sekeliling lehernya ada tutup kepala baru yang diikat kencang sampai hampir mencekik jika otot-ototnya tidak selunak adonan. Tungkai kakinya tidak bergerak. Sesungguhnya dia mendorong dari belakang, kiri, dan kanan hingga membuatnya berayun seperti menari bersama para penari serta terhuyung-huyung bersama para pemabuk. Dia sampai di tangga ruangan. Dia mengangkat kepala di atas dada untuk melihat di depannya sesuatu yang menakjubkan. Sesuatu yang setengah di atas tertutupi oleh syal merah besar. Setengah yang di bawah adalah paha yang tinggi dan telanjang. Dari setiap sisi seorang perempuan mengangkat dengan kedua tangan sampai otot-ototnya terlihat. Dia terus berdiri di atas tangga pintu dengan kedua matanya silau. Mulutnya terbuka untuk berteriak namun tidak keluar dari kedua bibirnya, kecuali ludah yang mengalir dari sudut mulutnya dengan perlahan seperti ekor ular yang tidak menggigit.
Dia merasakan jari-jari yang kuat menyerupai jari-jari ibunya menekan pundaknya dan mendudukkannya di atas kursi. Dia merasa sedikit senang ketika menginjak tanah yang lembab karena disiram. Dia terus duduk sambil memejamkan mata seperti pingsan, tetapi sebuah tusukan lain di pundak membuatnya membuka mata langsung melihat kedua kaki telanjang. Dari jauh dia tampak bersungguh-sungguh. Dia menatap dengan sudut matanya rombongan lelaki dan perempuan dari belakangnya siap di halaman rumah memukul gendang, meniup seruling, berdiri, dan menunggu. Mereka saling menatap. Dia mengawasi pintu ruangan dengan gelisah dan sedih. Akan tetapi tidak. Dia tidak membiarkan penantian mereka dengan terbukanya aib. Sebenarnya dia tidak bodoh. Dia adalah lelaki terpandai di kampung itu. Dia membacakan koran untuk mereka, menulis khutbah untuk mereka, dan berkhutbah Jumat saat imam tidak hadir. Dia harus keluar dengan angkuh seperti apa yang dilakukan setiap pemuda di kampung itu.
Dia meregangkan tangan kanannya dan menekan jari-jarinya terlebih dahulu di antara kedua kaki, tetapi tangannya gemetar menggigil dengan lemas bagaikan ekor unta yang mati. Dia tidak ragu-ragu. Dia terus berupaya dan bertahan. Keringat bercucuran di wajahnya dan mengenai mulutnya. Dia menjilatnya dengan lidah di dalam mulutnya. Dia mencuri pandang ke dua perempuan yang duduk di sampingnya. Masing-masing yang memegangi kaki pengantin memalingkan wajah ke dinding. Keduanya berlaku sopan melihat yang seperti itu, atau menghindar dari sesuatu yang mereka sering lihat, atau keduanya mengingkari dengan menjadi pengawas kejantanan pria saat pesta perkawinan, atau menjadi malu, atau bersimpati, atau apa saja. Yang penting tidak melihatnya. Dia mengerling ke arah pintu dengan penuh waspada. Dia melihat orang-orang yang berdiri menanti. Di ujung matanya ada orang tua pengantin yang berdiri di dekat pintu dengan melirak-lirik ke arah orang-orang lalu ke pintu ruangan dengan gelisah dan takut. Dia menggosok jari-jarinya dengan tenang. Sesungguhnya dia tidak mengenalnya. Kedua perempuan itu hanya melihat dinding. Dia memiliki kepentingan yang tenggelam dalam kegelisahan atas kedudukannya. Tidak ada seorang pun yang tahu kejadian sebenarnya, kecuali pengantin perempuan. Dia? Siapa? Dia tidak mengenal pengantin itu. Dia bahkan belum pernah melihat pengantin itu. Dia belum pernah melihat wajah, mata, dan sehelai rambutnya. Ini pertama kali dia melihatnya. Dia tidak melihatnya sebagai seorang pengantin. Dia tidak melihatnya sebagai seorang manusia. Hanya syal merah besar di ujungnya ada dua paha tinggi yang telanjang seperti dua paha sapi lumpuh, tetapi dia ada di depannya memperjelas kelemahannya. Dia
menegakkan badannya seperti perangkap untuk menangkap kelemahan dan kegagalannya. Dia membencinya seperti membenci ibunya. Dia ingin seandainya bisa merobek dengan gigi-giginya yang tajam atau menyiramnya dengan air panas dan menggigitnya. Kebencian memberikan kepandaian dan kesombongan. Dia meludah ke tanah sambil menggerutu kemudian berkumur dengan bibir mengejek. Dia menahan roman mukanya seperti orang kuat lalu bangkit dari tempatnya pelan-pelan. Dia berbalik ke pintu sambil mengangkat kepalanya dengan angkuh. Dia menggantungkan handuk ke bawah kemudian melangkah dengan lambat dan tegap ke arah pria tua itu. Dia memandangnya dengan sombong lalu melemparkan handuk itu ke wajahnya. Bersih seperti dulu. Seperti baru dicuci. Tidak ada percikan darah merah. Kedua mata ayah pengantin itu menunduk malu. Lehernya menunduk sampai kepalanya menempel di dada. Para pria dari segala sisi pergi sambil bersedekap menuju pintu ruangan sambil mendorong. Pengantin perempuan itu muncul ke tangga pintu dan kepalanya yang kecil di bawah syal merah itu tertunduk lemas. Pandangan-pandangan yang membara dan menakutkan tertuju padanya dari segala sisi.

Leave a Response