Dimsum Terakhir (Gramedia, 2006); Novel Dengan Empat Konflik Perempuan

Dimsum Terakhir (Gramedia, 2006) Novel Dengan Empat Konflik Perempuan
Dimsum Terakhir (Gramedia, 2006)

Saya tidak tahu Dimsum Terakhir karya Clara Ng yang keberapa yang telah terbit, tapi yang jelas ini buku keduanya yang saya baca setelah Gerhana Kembar.

Dimsum Terakhir menampilkan empat tokoh utama, keempatnya kembar tapi punya kehidupan yang berbeda-beda, mulai dari orientasi karier hingga orientasi seksual. Awalnya saya sempat berpikir, membaca buku dengan empat karakter utama tentu saja membingungkan, tapi sejak awal, Clara Ng sudah mengantisipasi hal itu dengan pengenalan karakter yang signifikan.

Novel Dimsum Terakhir setebal 368 halaman, dibuka dengan prolog berupa pengenalan tokoh. Dimulai dari yang paling tua yaitu Siska yang sibuk dengan urusan kantornya, Indah yang cemas karena dibayang-bayangi ketakutan tidak bisa menulis novel kedua, Rosi yang di mata saya cukup unik karena dia bersama perempuan (saya pikir dia lesbian), lalu Novera yang seorang guru di sekolah swasta.

Clara Ng semakin menguatkan karakter-karakter empat perempuan lajang ini sepanjang cerita. Bahwa Siska adalah sosok pencinta kebebasan, punya prinsip tidak akan berkencan dengan kliennya sendiri (hlm. 89) meski akhirnya ia melanggar hal itu dengan kliennya Michael Mitch. Sikap enggan terlibat relationship serius dengan lelaki mana pun berawal ketika ia dikhianati Dicky, tunangannya (hlm. 90). Siska tinggal di Singapura dan memiliki sebuah perusahaan di sana.

Kemudian Indah, yang ternyata seorang jurnalis sebuah media, dan akan menjadi gagap bicara jika tingkat emosionalnya naik. Ia cenderung serius dibandingkan ketiga saudaranya yang lain. Ia menjadi hubungan dengan seorang pastor berdarah Jawa (latar belakang keluarga Indah adalah peranakan Cina yang masih teguh memegang tradisi).

Lalu sosok Rosi. Saya suka dengan sosok ini karena memiliki selera humor paling tinggi, tapi juga memendam beban hidup yang berat karena ia transeksual, merasa dirinya terjebak dalam tubuh perempuan sementara jiwanya lelaki tulen. Dia memiliki kekasih bernama Dharma, seorang perempuan heteroseksual. Rosi ini pengusaha kebun mawar dan selalu dapat banyak orderan bunga. Ia tinggal di Puncak.

Lalu Novera, yang termuda, yang terkalem. Akibat kista, rahimnya diangkat sehingga ia selalu minder jika berhadapan dengan lelaki mana pun. Selain itu, ia telah menjadi umat Katolik dan berniat menjadi biarawati. Ia tinggal di Yogyakarta.

Keempatnya kemudian berkumpul saat Nung, ayah mereka, terkena stroke. Memang tidak serta-merta mereka datang. Awalnya Indah karena dia tinggal di Jakarta, Lalu Rosi, Novera, dan terakhir Siska.

Meski awalnya sering ribut perkara hal-hal sepele, mereka pun sepakat tinggal serumah untuk merawat ayah mereka yang memang sudah banyak digerogoti penyakit. Permintaan sang ayah supaya anak-anaknya segera menikah pun menjadi perkara baru.

Bagaimana tidak, Siska jelas sedang tidak membutuhkan sosok pria dalam hidupnya. Indah sudah kehabisan cara untuk mengajak Antonius menikah. Rosi lebih buntu lagi karena ia tidak menyukai laki-laki. Dan Novera sangat kuat keinginannya menjadi biarawati.

Novel Dimsum Terakhir banyak warna dalam kehidupan sebuah keluarga Cina dengan berbagai tradisinya. Saya tidak begitu paham kecuali seputaran hal-hal umur, semisal tradisi Imlek. Tapi bagian ini menjadi terlalu penting untuk di-skip begitu saja sehingga saya memberi penanda di beberapa bagian novel ini dan di beberapa bagian yang cukup menarik.

Pertama mengenai nama lahir yang mau tidak mau harus diubah ke nama Indonesia, berhubung si kembar lahir di zaman Soeharto

Keempat bayi itu lahir pada shio naga dengan nama Tan Mei Xia (Siska). Tan Mei Yi (Indah), Yan Mei Xi (Rosi), Tan Mei Mei (Novera).(hlm. 203)

Clara Ng juga ingin memberi gambaran bagaimana posisi warga Indonesia keturunan Cina di negara ini, ada yang selalu diolok-olok, dipandang sebelah mata (hlm. 233), bahkan yang paling menyedihkan adalah ketika kerusuhan Mei 1998 di mana toko milik Nung menjadi korban penjarahan hingga bangkrut.

Saya juga memberi pananda saat Siska mendapati Rosi dengan dada terbebat kain, Siska mungkin orang yang pertama tahu bahwa adiknya yang satu ini berbeda. (hlm.228) Dia sepakat untuk menyimpan rahasia ini bersama Rosi hingga mereka dewasa dan Rosi merasa sudah terlalu lama ia menyembunyikan identitas dirinya. Apalagi menyembunyikan Dharma. Karakter Rosi menurut saya agak sedikit “mengecewakan” di halaman 194, ketika di bagian percakapan ini: “… Homoseksualitas dan transeksual telah dihapuskan dalam kategori penyakit kejiwaan semenjak tahun 1980-an.” Saya seperti kehilangan tokoh Rosi, seperti bukan dia yang berbicara. Tapi aktivis pembela LGBT. Di novel ini tidak pernah diceritakan apakah Rosi memiliki sejumlah referensi mengenai transeksualisme. Andaikan kalimat tadi diletakkan di luar dialog, tentu akan lebih masuk dalam logika cerita.

Ada pula adegan ketika Novera menjemput Rafy di Stasiun Gambir (hlm 241). Novera adalah satu-satunya yang paling mungkin membawa sosok calon suami ke hadapan sang ayah. Meski sebenarnya ia belum ada rasa dengan lelaki itu dan kebimbangannya untuk terbuka untuk pilihan hidupnya pada gereja.

Clara Ng menaikkan ketegangan konflik dalam Dimsum Terakhir dengan kasus gugatan hukum yang menimpa perusahaan milik Siska, tidak hanya itu, sosok Michael pun tiba-tiba menuntutkan karena kasus pelecehan seksual. (hlm. 247). Sayangnya, pembaca tidak dibuat lebih tegang lagi dengan konflik ini karena sepertinya selesai dengan begitu mudah dan juga rekaman suara saat Siska dan Michael berada di dalam kamar. Sebuah kebetulan ketika ponsel milik Siska bisa merekam tepat pada adegan itu.

Saya memberikan penanda berikutnya di halaman 258, ketika Rosi mengetahui bahwa Novera berkeinginan menjadi biarawati dan menghubung-hubungkannya dengan operasi pengangkatan rahimnya. Hanya saja ada bagian yang cukup membuat saya bertanya, dari mana Novera bisa tahu jika Rosi punya sisi jiwa yang lain? Sulit buat saya mencari jawabannya, ya bisa saja dengan menebak. (hlm. 260). Bisa saja dengan penjelasan indra keenam. Kalau begitu, kenapa baru sekarang? Bukankah sejak sekolah Rosi sudah berpenampilan ala lelaki?

Konflik batin yang dialami Rosi pun terkesan diselesaikan dengan mudah, saat Nung berbincang dengan Dharma di rumah sakit (hlm. 322). Rasanya konflik yang dibangun dengan begitu kuat akhirnya menjadi datar dan tanpa kesan.

 

Jogja, 29 Desember 2013

Leave a Response