Donor Darah, Cara Tak Langsung untuk Selalu Jaga Kesehatan

in Personal by
Donor Darah, Cara Tak Langsung untuk Selalu Jaga Kesehatan
Donor Darah. Sumber gambar: springsadvertiser.co.za

Untuk bangsa manusia, entahlah untuk bangsa jin, darah adalah salah satu elemen penting dalam tubuh yang memberi pengaruh besar terhadap kesehatan. Banyak penyakit berat yang sumbernya dari cairan kental merah tua dan jika keluar dari tubuh pasti ada konsekuensi rasa sakit, yeah meski luka kecil sekalipun. Ada juga sih yang namanya darah putih, tapi kan darah identik dengan merah. Tugasnya beda pula dengan darah merah. Dan, kalau untuk donor darah atau transfusi darah, nggak ada kan yang tujuannya mendapatkan darah putih?

Saya membahas donor darah karena bagi sebagian orang, ini adalah hal yang menakutkan. Sebagian merasa, sebuah rutinitas yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Terbaginya dua kubu ini, tentu saja ada penyebabnya dong, dan itu adalah jarum. Takut jarum. Jarum adalah benda kecil yang bisa menembus kulit manusia lalu memasukkan atau mengeluarkan sesuatu. Jarum suntik bentuknya beda dengan jarum donor, tapi yang takut jarum, tetap saja ogah takut disuntik. Padahal sejak kecil kan sudah merasakan jarum kan? Kecuali bagi orang tua yang antivaksin. Eh tapi suntik tidak harus saat vaksin sih, bisa juga ketika sakit dan dokternya bilang harus suntik. Jarum donor itu ukurannya nggak sante, lebih besar dan didesain sedemikian rupa hingga mampu menyedot darah dan memasukkan darah ke dalam tubuh, tergantung kebutuhannya apa. Saya nggak tahu, apakah kelak di kemudian hari, pakar di dunia medis bisa menciptakan teknologi untuk mengeluarkan darah dari tubuh tanpa jarum. Mungkin sampai ulat bulu rontok bulu-bulunya juga nggak bakal kejadian.

Oke itu kubu takut jarum. Nah kubu tidak takut jarum terbagi dua lagi. Yang tidak takut karena memang tidak takut. Atau yang tidak takut karena pemakai narkotik. Para pemakai narkotik jelas tidak bisa menjadi seorang donor. Karena risiko penularan HIV/AIDS. Begitu pula mereka yang baru bikin tato dan tindikan. Kekhawatiran akan penularan penyakit itu memang sangat besar, sehingga dalam form yang diisi sebelum donor, pertanyaan itu selalu ada.

Maka yang tersisa adalah orang-orang yang tak takut jarum, tidak narkobaan, tidak tindik, tidak tato. Mereka inilah yang bisa donor darah, jika memang mereka tidak sedang menstruasi (bukan karena darahnya sedang kotor ya, tapi karena perempuan identik dengan anemia, saya juga termasuk cenderung mengalami itu meskipun pernah melakukannya dan saya kebetulan dalam kondisi prima), tidak baru-baru saja mengunjungi daerah yang rawan penyakit malaria, tidur cukup, berat badan di atas 50 kilogram, tidak sedang mengonsumsi antibiotik dan perawatan dokter lainnya, tidak berhubungan seksual dengan laki-laki (khusus pendonor laki-laki, tahu kan maksudnya), dan beberapa standardisasi lainnya yang mengapa dibuat begitu ketat, karena darah yang kita donorkan itu bukan untuk makanan makhluk halus, tapi untuk ditransfusikan ke manusia yang membutuhkan bahkan mungkin berada di antara hidup dan mati. Ada tanggung jawab moral yang dibebankan ke pundak seorang pendonor. Jadi tolong ya.

Sebelum donor, darah akan diperiksa. Hanya pemeriksaan kecil dengan mengambil sedikit sampel untuk dilihat kadar sel darah merahnya. Meskipun kamu merasa sehat selama ini, boleh jadi darahmu tidak. Bisa jadi tanpa disadari ada kelainan darah yang terdeteksi sedari awal hanya dengan cara sederhana. Kelainan darah belum tentu negatif ya, bisa jadi bawaan gen yang itu tidak apa-apa, kecuali untuk donor. Tolong jangan paksa saya menjelaskan sesuatu yang saya sendiri tidak paham ya. Tekanan darah juga akan diperiksa. Saya tipe yang udah makan daging merah pun tekanan darahnya tergolong rendah, sekitar 110/70. Normalnya adalah 120/80. Ketika menstruasi, tekanan darah saya makin turun lagi karena anemia itu tadi pemicunya.

Pemeriksaan darah akan kembali dilanjutkan ketika darah sudah terkumpul dalam kantong steril. Ya, tidak begitu saja diserahkan ke rumah sakit yang membutuhkan.

Setelah dinyatakan bisa donor darah, kita kemudian diminta menunggu giliran donor. Dulu, ada banyak spot untuk donor darah di pusat perbelanjaan saat mengadakan event atau memang acara-acara bakti sosial, sekarang saya agak jarang menemukannya sehingga lebih baik donor saja langsung ke PMI Yogya, yang letaknya tidak begitu jauh dari kosan. Sekarang mereka sedang berusaha mentransfer sistem ke komputerisasi, sehingga saya bisa minta dibuatkan kartu donor yang langsung jadi dan gratis. Dengan begitu, catatan donor darah saya lebih terkontrol. Idealnya 2 bulan sekali mendonor, agar sel darah selalu diperbarui secara alami.

Sebelum berbaring di kasur donor, kita akan diminta mencuci lengan yang akan ditusuk jarum. Kiri dan kanan terserah. Jika baru pertama, cuci saja keduanya. Ada kalanya, lebih mudah menemukan nadi di tangan yang satu ketimbang lainnya. Saya kiri dan kanan oke, cuma yang di kanan ada yang besar tapi di pinggir, kata petugasnya akan terasa lebih sakit. Buktinya, tidak juga sih, rasanya sama. Nadi yang besar akan lebih banyak mengeluarkan darah, sehingga belum sampai 10 menit, kantong darah saya sudah penuh. Ada yang darahnya tersendat-sendat sehingga penuhnya lama. Aktivitas seperti olahraga akan sangat berpengaruh pada kelancaran darah. Demikian pula asupan makanan yang sehat akan semakin menunjang kualitas darah kita.

Dampak donor darah bagi tubuh tidak kalah baiknya dengan dampak kepada orang lain yang membutuhkan darah kita. Kesannya memang kita kehilangan darah dalam jumlah besar, hey tapi tubuh punya mekanisme sendiri dan jumlah darah yang diambil juga nggak satu galon juga kali. Cuma satu kantong kecil seukuran 250-350 cc, dan dalam beberapa hari sudah tergantikan. Jadi jangan lebay kamu akan kolaps padahal darah kamu misalnya yang justru dibutuhkan banyak orang, golongan 0 misalnya. Kalau sehat, donor darah sana.

Darah yang keluar tubuh akan diproduksi oleh sumsum tulang belakang secara otomatis. Sehingga secara tidak langsung, kita membantu tubuh membentuk sel-sel darah baru, bisa membantu menurunkan berat badan, tapi ini tidak berlaku ke semua orang ya. Proses donor darah dikatakan mampu membakar banyak kalori sama seperti saat lari selama 30 menit, tapi situ kalau habis donor dan kalap makan selama sebulan, mustahil bisa menurunkan berat badan.

Sehabis donor, kita akan membawa pulang paket dari PMI berisi makanan kecil, minuman kesehatan (sayangnya mengandung gula semua sehingga saya nggak bisa konsumsi), dan vitamin penambah darah. Setelah jarum dicabut, kita memang tidak langsung disuruh minggat sama petugas, tapi beristirahat dulu. Untuk memastikan tidak pusing atau mual. Setelah sekitar lima menit baru deh dipersilakan pulang. Kalau saya langsung makan karena memang lapar, padahal baru makan sih sebenarnya. Yeah anggap saja selebrasi dengan diri sendiri.

Donor darah itu memang sifatnya tidak wajib dalam hukum agama, tetapi ketika bisa memberikan sesuatu yang terbaik untuk orang lain, kenapa tidak? Jika kamu selama ini punya kebiasaan mengonsumsi cemilan yang menyebabkan kanker dan gangguan janin tanpa memikirkan kenyamanan orang lain di sekitarmu, kenapa tidak dialihkan kepada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi dirimu dan orang lain?

 

Jogja, 9 Februari 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*