Don’t Call Me Son (2016); Film Tentang Seorang Pemuda Biseksual di Brazil

Don't Call Me Son (2016); Film Tentang Seorang Pemuda Biseksual
Don’t Call Me Son (2016). Sumber gambar: IMDB.

Dirilis 21 July 2016 di Brazil, Don’t Call Me Son (Mãe Só Há Uma) memenangkan 4 nominasi yang ditujukan kepadanya: penghargaan Teddy di Berlin International Film Festival 2016; Best Actor, Rainbow Spike, dan Best Director di Valladolid International Film Festival 2016. Anna Muylaert menyutradarai sekaligus menjadi penulis naskah.

Don’t Call Me Son merupakan debut Naomi Nero (berperan sebagai Felipe/Pierre) dan sudah mengagumkan, selain plot yang ditawarkan memang sangat berliku dan ending yang ditutup menyisakan tanda tanya di belakangnya. Melihat poster filmnya, kita akan dibawa tersesat pada penilaian keliru bahwa ini berkisah tentang seorang waria. Jangan percaya begitu saja, sebab semenjak awal, kita akan dihadapkan pada tokoh Felipe yang mengenakan pakaian perempuan dan bercinta dengan perempuan. Itulah saya bingung menyebut dia ini apa. Untuk orientasi seksualnya ke perempuan dan laki-laki. Identitas seksual lainnya, saya tidak tahu mana yang paling tepat disematkan kepadanya.

Felipe mengenakan pakaian perempuan bukan untuk menarik perhatian lelaki dan menampilkan jiwa feminin seperti halnya waria. Dia hanya memakai pakai itu karena dia suka. Dan dia tidak mau kesukaannya itu diganggu gugat, bahkan oleh orang tua kandung yang akhirnya bisa berkumpul kembali dengannya.

Ketika kecil, Felipe dicuri dari rumah sakit dan dibesarkan oleh seorang perempuan yang di mata Felipe, itulah ibu sebenarnya. Dia tinggal bertiga, dengan satu adik perempuan. Felipe tidak pernah terang-terangan memperlihatkan dirinya dalam riasan dan pakaian perempuan kepada ibu maupun adiknya. Dan soal kuku yang berlapis kuteks, tidaklah terlalu mencolok perhatian.

Di sekolah, tingkah lakunya pun tidak genit-genit juga. Sangat wajar seperti remaja seusianya. Dia punya band dan bermain musik. Dia punya pacar perempuan juga. Saat masuk sebuah klub, dia dengan percaya diri mendekati seorang perempuan dan berakhir dengan bercinta.

Pertemuan dengan orang tua kandung, membuatnya marah dan selalu berontak. Apa yang dia rasakan, tidak sama dengan orang tuanya yang teramat bahagia. Kemarahannya dilampiaskannya dengan cara memakai pakaian perempuan terang-terangan. Tidak hanya di rumah, di luar rumah pun begitu. Sang ayah tidak bisa menerima kenyataan itu. Sering adu mulutlah mereka. Adik kandung Pierre (nama dia sebenarnya adalah Pierre), Joca, masih terlalu kecil untuk menjadi penengah. Dia pun terduakan, sebab perhatian ayah ibunya beralih ke si anak yang baru kembali belasan tahun kemudian. Joca adalah anak yang pemalu. Di sekolah, dia menyukai seorang teman tapi si teman tidak membalas perasaannya.

Kekuatan Don’t Call Me Son terletak pada kuatnya karakter Felipe. Dan juga puncak pertengkaran antara dirinya dengan sang ayah. Di luar sana, ada banyak anak yang berada di posisi itu, tidak bisa menjadi dirinya sendiri karena faktor orang tua. Tekanan-tekanan yang di tiap individu bisa ditanggapi dengan cara berbeda-beda, ikut aturan orang tua, atau tetap mempertahankan identitas diri apa pun itu.

 

Jogja, 12 Agustus 2017

2 Comments

Leave a Response