Drini dan Indrayanti; Wisata Pantai yang Berdekatan di Jogja

Drini dan Indrayanti adalah dua dari sekian banyak pantai yang terdapat di Gunungkidul, Jogja. Terbilang ramai di hari libur.

Baru aja 2 minggu lalu saya menempuh perjalanan 1,5 jam lebih ke Gunungkidul, untuk main ke Pantai Drini, lihat ceritanya di sini. Kali ini saya mengulangi perjalanan yang sama tetapi bersama seorang rekan editor dari penerbitan tempat saya kerja, Ayun. Dia juga baru saja menerbitkan novel pertamanya. Saya mengajak dia ke pantai untuk sama-sama menikmati suasana pantai di pagi hari sambil melakukan kesibukan masing-masing. Dia juga membawa buku Dunia Maya karya Ayu Utami untuk dibaca.

Drini dan Indrayanti; Wisata Pantai yang Berdekatan di Jogja
Sumber gambar: dok. TapakRantau

Saya berniat ingin lepas sejenak dari yang namanya internet. Semua koneksi saya matikan selama Sabtu dan Minggu. Saya ingin merasakan nikmatnya Me Time dengan berkreasi. Dan menyenangkan. Nggak ada deh yang namanya kepo urusan orang lain dan diganggu sama urusan kerjaan, walaupun kemarin toh tetap saja saya ditelepon dari kantor untuk konfirmasi sesuatu.

Kami sampai di Drini pukul 8.30. Masih juga langit mendung, seperti ketika 2 minggu lalu saya kemari. Pengunjung pantai tidak seberapa banyak. Gazebo-gazebo hanya seberapa yang ditempati. Kami menyusuri pantai dan membiarkan celana panjang kami terjilati air sejenak sebelum memilih salah satu gazebo yang menghadap langsung ke Drini.

Kami banyak ngobrol sebelum akhirnya terlintas dalam pikiran kami untuk membuat sebuah karya duet. Nah, ternyata kami sepikiran. Mulailah kami brainstorming ide untuk cerita kami dan membuat outline bab per bab. Sangat menyenangkan karena kami akan mengidupkan jiwa tokoh masing-masing. Kadang kami tertawa karena saya membentuk si tokoh yang urakan dan tidak bisa dipungkiri, saya akan terbawa di sana. Untungnya, saya memilih karakter laki-laki, sehingga tidak akan jadi novel curcol. Sementara Ayun memilih karakter cowok.

Seharian ini kami sibuk menyiapkan apa-apa saja yang dibutuhkan dari novel itu. Setelah lelah, menjelang sore jam 2, kami pun meninggalkan gazebo kemudian menaiki pulau karang. Jika tidak sedang surut, kami harus melewati air sepinggang. Jika surut seperti saat itu, air hanya mengenai tapak kaki kami.

Pemandangan di puncak pulau karang yang ternyata sudah disiapkan dengan tangga-tangga dengan semen walaupun tidak sempurna, adalah lautan luas. Dan mercusuar yang menjulang tinggi dan sayangnya tidak bisa dipanjat. Kami juga bisa melihat pasir pantai tetangga, entah pantai apa namanya.

Setelah itu, kami pun melanjutkan perjalanan ke Pantai Indrayanti. Ayun sangat penasaran seperti apa pantai yang setiap kali saya lewati selalu saja ramai itu. Saya pun memacu motor menuju pantai yang jaraknya tidak sebegitu jauh. Langit cukup cerah.

 

Pantai Indrayanti

Kami sampai dan memarkir motor. Tidak seramai ketika musim liburan kemarin, tapi tetap saja rombongan anak sekolah di mana-mana memenuhi area pantai yang memang tidak seberapa luas. Pantai ini dipenuhi dengan payung-payung dan tikar yang disewakan. Meski begitu, tidak begitu banyak yang menyewa. Mereka lebih suka membawa tikar sendiri dan kebetulan tidak begitu panas.

Di kejauhan saya melihat gazebo warna warni di atas karang. Cukup tinggi karang itu dan kami tidak memanjat karena cukup ramai. Kondisi pantai ini pun juga sedang surut. Kami bisa lebih jauh menginjak bebatuan yang lembut, meski agak khawatir akan menginjak hewan-hewan kecil. Di kondisi surut, tim pengawas pantai tetap saja ketat mengawasi pengunjung yang memasuki daerah-darah yang dilarang berenang. Saya cukup heran, sebenarnya untuk di bagian manakah papan peringatan itu karena begitu banyak orang yang berenang dan memanjat karang. Tidak lama kami berada di sana karena hari memang sudah sore.

Di perjalanan pulang, hujan turun ketika kami sampai di bundaran Wonosari. Cukup deras dan langit semakin gelap. Saya kurang menyukai kondisi ini karena jalanan sangat ramai, dan kacamata saya dipenuhi air hujan. Saya tidak memacu kendaraan dengan kencang karena susah melihat jalanan, Acuan saya hanyalah lampu rem kendaraan di depan tapi lama-kelamaan melihat lampu berwarna merah membuat pandangan tidak nyaman. Saya pun menyalip kendaraan satu demi satu hingga pandangan kembali nyaman.

Akhirnya kami tiba kembali di Yogyakarta dengan selamat meski lebih lama dari saat kami berangkat. Hal selanjutnya yang akan kami lakukan adalah meneruskan hasil brainstorming kami siang tadi.

 

Yogyakarta, 19 Januari 2014

Leave a Response