Dua Masa di Siberut; Bahas Cerpen Karya Pia Devina

Cerpen Dua Masa di Siberut ditulis oleh Pia Devina dan termuat dalam antologi Gadis 360 Hari yang Lalu hlm. 97-113. Berikut bahasan singkatnya.
Tema
Pertemuan kembali dua anak manusia yang mencinta.
Plot dan alur
Menggunakan plot flash-forward dengan beberapa tahapan kejadian:
  • Marsya dan Teukanip di dekat Air Terjun Kulu Kubuk. (Kupandangi bagian dasar Air Terjun Kulu Kubuk yang berbatasan dengan bebatuan besar di bawah sana. (hlm. 97)).
  • Teukanip mengatakan jika dia tidak bisa meninggalkan Mentawai.(“Aku tidak bisa pergi dari sini dan meninggalkan rumahku. Adatku.” Dia berbicara. Kaku. (hlm. 98)).
  • Mundur ke dua tahun sebelumnya, awal mula Marsya mendapatkan proyek film dokumenter. (Dua tahun sebelumnya…“Kenapa sih kita harus bikin film dokumenter di pedalaman Sumatera Barat kayak gini? Kan masih banyak tempat yang belum kita kunjungi, yang nggak perlu bikin kita repot-repot nembus hutan buat ketemu penduduk tradisional yang ada di pedalaman itu.” (hlm. 99)).
  • Rombongan Marsya sampai di Mentawai dan mendapat menyambutan dari Tou Pateubi.(“Anai leu ita!”Aku hanya terbengong saat melihat seorang pria berkata ramah dan tersenyum lebar ke arah kami. Kini, aku berada di Desa Ugai, yang berada di hulu Kecamatan Siberut Selatan. (hlm. 101)).
  • Marsya bertemu pertama kali dengan Teukanip.(… Itulah pertama kalinya aku melihat pria itu. Seorang pria yang usianya mungkin sekitar dua puluh lima tahun, dengan mata yang tajam seperti elang, menatapku dari bagian depan uma. (hlm. 103)).
  • Perjalanan rombongan Marsya ke Desa Matotonan untuk proses syuting film dokumenter. (Satu jam berjalan dari Ugai, akhirnya kami tiba di Desa Matotonan, sebuah desa terujung di Siberut Selatan yang berbatasan dengan konservasi alam Taman Nasional Siberut. (hlm. 105)).
  • Kembali di masa Marsya siuman setelah tiga hari tak sadarkan diri.(“Apa kata dokter? Jadi, dia sudah tidak sadarkan diri selama tiga hari?” (hlm. 110)).
  • Ke masa sekarang, pada adegan Marsya dan Teukanip mengobrol berdua. Marsya baru menyadari jika mereka berdua pernah bertemu sebelumnya. (“Kita… kita pernah bertemu?” suaraku tercekat di tenggorokan. Teukanip memandangiku dengan mata elangnya—matanya yang memang seakan telah lama kukenal. “Tentu saja kamu tidak ingat. Saya bertemu kamu ketika kamu koma karena kecelakaan mobil yang kamu alami tahun lalu.” (hlm. 111)).
  • Ending cerita. (Jadi…. ini akhirnya? Akhir dari sebuah cinta tidak masuk akal yang kupunya untuk Teukanip? Aku menghela napas dalam. Aku harus berpikir logis. Sekarang, yang perlu kulakukan adalah segera pergi dari sini, lalu…. (hlm. 113)).
Konflik
  • Konflik yang dominan dari cerpen Dua Masa di Siberut adalah konflik eksternal antara Marsya dan Teukanip seputar cinta mereka yang sulit bersatu karena adat dan tidak mau meninggalkan sang ibu.
  • Tahap penanjakan konflik: cerita ini tidak menunjukkan penanjakan konflik yang substansial karena puncak klimaks berada pada bagian awal cerita, dan di sepanjang cerita lebih dominan menguraikan tentang Mentawai dari sudut pandang Marsya. Memang ada kejutan di bagian tengah, tapi itu bukan klimaks.
  • Klimaks: mengulang dari poin 3b, klimaks dari cerpen ini diletakkan pada bagian awal.
  • Penyelesaian: ending dari cerpen ini dibuat terbuka agar pembaca menebak-nebak dua kemungkinan, Teukanip akan mencari Marsya untuk melanjutkan hubungan ataukah untuk hal lain.
Tokoh dan penokohan
  • Marsya: dalam cerita ini sebagai tokoh utama protagonis. Seorang co-writer sebuah majalah fashion, menyukai traveling dan hal-hal yang penuh tantangan. Amnesia yang dialami Marsya dua tahun lalu dijadikan sebagai penguat munculnya twist/kejutan dalam cerita.
  • Teukanip: dalam cerita ini berperan sebagai tokoh utama protagonis. Seorang pria Mentawai yang memiliki hubungan khusus dengan Marsya. Tipikal pria santun yang taat pada adat dan menyayangi ibunya. Sosoknya tergolong cool dan maskulin.
  • Beberapa tokoh pembantu dan kemunculannya tidak terlalu banyak dalam cerita: Rani—seorang scrpt writer sebuah majalah fashion, rekan kerja Marsya, Darman—pemandu dari Perkumpulan Siberut Hijau, Tuo Pateubi—seorang dukun di Desa Ugai, Anto—pimpinan kru film dokumenter, Gougu—nyonya rumah, Dedi dan Fajar—kru film dikumenter, Banu—kakak kandung Marsya.
Setting
  • Jakarta
  • Mentawai
Jogja, 13 Juni 2014

Leave a Response