Dunia Pop; Membuat Cemburu Menurut Perspektif Jamie Cullum

Dunia Pop; Membuat Cemburu Menurut Perspektif Jamie Cullum
Dunia Pop. Sumber gambar: Wikipedia

Ada dua lagu Jamie Cullum yang masuk dalam lagu-lagu favorit saya. Save Your Soul dan I Want to be a Popstar. Save Your Soul adalah sebuah lagu ballad tentang cinta dengan packaging mewah berupa komposisi orkestra menyentuh sampai ke hati. Klimaks lagu diaransemen dengan cantik dan ritme yang mengundang jari benjentik sesekali. Lagu ini menceritakan seseorang yang memohon agar dirinya tidak ditinggalkan di saat kondisinya terpuruk. Harus ada yang menjaga agar dirinya tetap mampu berdiri tegak hingga badai berlalu.

Told what to do, miming to a tape
While a team of experts make sure you’re looking great
Taking a limo to your own private bar

Beranjak ke lagu kedua, I Want to be a Popstar, adalah sebuah lagu yang didedikasikan terhadap para penyanyi di dunia pop dengan kehidupan serbaglamor dan berlimpah. Jamie menempatkan dirinya, dalam lagu ini, di pihak para penyanyi jazz yang kehidupannya berbanding terbalik. Kerja keras yang tidak terbalas dengan adil.  Lirik demi lirik penuh dengan sindirannya. Jamie Cullum pun sebenarnya masuk dalam jajaran musisi selebriti. Gaya bermusik komtemporernya terejawantahkan dalam “keberandalan” yang ditunggu-tunggu pada penggemar.

Look at the Jazz Star, he really needs some guts
Playing from seven to midnight, surviving on peanuts
Selling records by the dozen
Probably sold his tenor to make ’em
With artwork designed by his brother
And liner notes by his mother

Dalam perspektif saya, musisi jazz tidak kalah ekspresif dengan para musisi musik rock. Jika musisi rock dalam penampilan panggungnya bisa membanting gitar, menjebol drum, atau melempar mikrofon. Jamie menampakkan sisi atraktif di balik balutan setelan jazz rapi dengan naik ke grand piano. Dia memang tentunya tahu mana bagian yang aman untuk diinjak. Di saat yang lain, ia bisa duduk manis kemudian memainkan pianonya membawakan lagu-lagu berlirik indah.

Para penonton musik jazz kontemporer Jamie Cullum, tidak hanya anak muda yang senang dengan keberandalan nan elegan. Inilah yang membuat dunia jazz di luar sana tetap hidup di hati para penggemarnya. Sentuhan yang terlalu klasik dan melulu orkestra kaku hanya akan menjemukan. Anak muda butuh sentakkan-sentakan yang tersampaikan dalam ritme-ritme cepat. Jamie pun tidak melulu hanya memainkan piano. Musisi yang baik perlu menguasai beberapa alat musik. Terlebih dia pun menulis lagu juga.

Album-album Jamie tidak ada yang terkesan sebagai “sekuel” dari abum sebelumnya. Ada nuansa-nuansa baru menyegarkan bagi penggemarnya maupun orang yang baru saja menjadi pendengarnya. Sebagai performer yang baik, Jamie Cullum mengamati dunia perkembangan musik jazz. Bermain hanya di area sempit adalah keputusan buruk. Unsur musik baru tidak akan serta-merta menghilangkan ciri khasnya yang telah ditanamkannya semenjak album perdana di tahun 1999, Heard It All Before. Pendengar tetap akan bisa membedakan dirinya dengan Diana Krall maupun Harry Connick Jr. meski tanpa melihat wajah.

Instantaneous satisfaction it will be
Got no need for artistic credibility
With this attitude I’m pretty sure to go far

Sindiran Jamie terhadap penyanyi dunia pop merupakan kegelisahan yang tidak hanya dia yang merasakan. Sebagai penguat sindirannya tersebut, dipakainya instrumen jazz murni, piano dan drum. Lagu ini masuk dalam album Pointless Nostalgic (2002). Terhitung masih sebagai pendatang baru di industri musik, sepertinya Jamie harus tabah melihat betapa bedanya takdir para penyanyi pop dan jazz. Perhatian dunia adalah jagat musik pop yang serbapalsu dan penuh manipulasi, sementara jazz penuh dengan eksistensi yang merangkak dari bawah. Ritme lagu yang sedikit cepat membuat lagu tetap enak didengarkan dengan muatan sarkasnya.

Apakah Jamie Cullum tidak menyukai dunia pop? Sama sekali bukan itu poin yang ingin disorotnya. Jamie mengakui musiknya mengambil unsur dari perspektif musik dunia pop kemudian publik yang menempatkannya sebagai bagian jazz. Ini adalah sesuatu yang biasa terjadi. Musisi dan publik memiliki perbedaan perspektif menandakan bahwa otak manusia sangat kaya.

Di dunia kesusasteraan kekinian, hal seperti ini rupanya juga terjadi. Penulis novel Kambing dan Hujan (Juara 1 Novel Dewan Kesenian Jakarta) Mahfud Ikhwan pernah mengatakan bahwa dia menganggap karyanya adalah pop, bukan sastra seperti anggapan publik.  Apakah benar bahwa “sastra” terkesan terlalu mengawang-awang sehingga “pop” jauh lebih baik? Karya sastra akan tenggelam pelan-pelan sementara karya-karya pop akan selalu menyembul di permukaan, mudah terlihat, mudah dicerna, mudah pula dibuang.

Jazz, sastra, atau genre apa pun yang idealis dihadapkan pada tantangan perjuangan untuk selalu bertahan dari berbagai persaingan dunia pop yang semakin merajalela. Pasar dipaksa untuk mengulum produk-produk populer dan dijauhkan karya-karya serius nan penuh pesan moral. Semoga Jamie Cullum dan kawan-kawannya tidak berhenti berjuang untuk sebuah kebaikan dunia.

 

Jogja, 5 Desember 2015

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response