Editor dan Penulis Perlu Punya Relasi Baik dan Hangat

Editor dan Penulis Perlu Punya Relasi Baik dan Hangat

 

Para penulis tentunya mengidam-idamkan hasil kerja kerasnya bisa diterbitkan dan dibaca banyak orang. Untuk sampai ke tahap sejauh itu, ada hal-hal yang terlebih dulu harus dilalui setelah karya selesai di masa penyuntingan. Salah satunya mulai memilih penerbit manakah yang sesuai dengan naskah tersebut. Jumlah penerbit untuk dipelajari karakternya, bisa dikatakan tidak perkara satu atau dua saja. Masing-masing penerbit bisa bilang “tidak” pada naskah kategori tertentu, selalu “iya” pada kategori selain itu. Tugas penulis adalah “berburu” penerbit. Lihat dan cari tahu informasi sebanyak-banyaknya. Jika sudah menentukan pilihan, coba temui editor. Setiap penerbit pasti punya.

Tidak ada salahnya menemui editor dan menanyakan kembali tentang naskah yang akan ditawarkan. Siapa tahu, informasi yang kita dapatkan sudah tidak lagi berlaku. Bertanya bukanlah suatu hal yang dilarang. Tapi ada caranya. Salah caranya, salah pula reaksinya. Penulis perlu sekali tahu tiap-tiap editor penerbitan dibebani tugas-tugas rutin. Ada kelelahan yang akan menghinggapi. Jika salah memilih timing, bisa-bisa tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Sebagai salah satu editor di penerbitan, bagi saya, ada banyak faktor yang membuat hubungan seorang editor dan penulis tidak berjalan mulus. Ini dia beberapa di antaranya.

 

Editor dan Penulis Perlu Punya Relasi Baik dan Hangat
Sumber gambar: washingtonpost.com

Editor akan jengah dengan rasa percaya diri berlebihan penulis.

Semua karya tentu tidak ada yang buruk. Karya seni sangat sulit diberlakukan parameter tertentu. Tapi sebuah penerbit memiliki standarnya masing-masing. Editor salah satu pemegangnya. Penulis harus memiliki rasa percaya diri dengan karyanya, tapi cukup dalam porsi wajar. Meninggi-ninggikan diri—atau karya—di hadapan editor kelak menjadi pemicu rasa mual bagi seorang editor. Penulis besar tidak perlu menyombongkan dirinya, menonjolkan karyanya sendiri. Seorang penulis hanya cukup berkarya, orang di luar sana tidaklah perlu diajari tentang penilaian bagus atau tidaknya karya. Seorang editor bukan sekali dua kali menghadapi naskah. Tidak hanya satu penulis yang mengirimkan karyanya pada penerbit. Naskah-naskah itu semuanya akan mengumpul di meja editor. Coba saja nonton film The Hours, di mana Meryl Streep memerankan seorang editor. Rumahnya penuh dengan naskah-naskah. Ketebalannya pun tidak tanggung-tanggung.

 

Penuhi ketentuan standar.

Penerbit adalah sebuah korporasi dengan jaringan kerja jauh dari level sederhana. Editor ada di dalamnya. Korporasi punya aturan, editor menjalankan dengan patuh. Penulis adalah pihak yang secara tidak langsung akan berada dalam aturan tersebut. Akan semakin mudah bagi seorang editor untuk memproses naskah, jika dan hanya jika, penulis menjadi protagonist yang mampu diajak kerja sama, bukan tunduk. Itu perkara lain. Penulis yang baik akan menyediakan waktunya untuk berdiskusi. Pembacaan demi pembacaan kelak memunculkan tanggapan-tanggapan baru. Janganlah menutup diri dari setiap tanggapan. Komunikasi adalah kunci penting yang perlu dimiliki editor dan penulis.

 

Kurangi bersikap agresif.

Menyambung dari pon sebelumnya. Naskah yang masuk ke penerbit tentunya akan memunculkan tanggapan si editor. Editor menyampaikannya dengan cara profesional. Tujuannya adalah menemukan satu kesepahaman di level yang sama. Editor dan penulis punya sudut pandang berbeda. Maka tidak perlulah seorang penulis mempertahankan sesuatu, jika memang tidak memiliki pembelaan yang logis. Pertimbangkan apa-apa saja yang kiranya menjadi poin minus dalam naskah.

 

Editor dan Penulis Perlu Punya Relasi Baik dan Hangat
Sumber gambar: imore.com

Jadilah teman, bukan sekadar relasi yang kaku

Editor, di luar ketegasan terhadap naskah-naskah, adalah manusia-manusia biasa yang senang bersosialisasi. Tidak perlu jam khusus. Seorang editor bisa kapan pun bertemu penulis, duduk bersama, ngobrol berjam-jam, dan sebagainya. Penulis yang baik akan membuka diri, dari situlah seorang editor bisa menemukan kekhasan penulis. Dari cara berbicara, sudut pandangnya terhadap sesuatu. Penulis yang “menarik” tentu punya karya yang menarik pula.

 

Understanding

Naskah-naskah yang masuk ke sebuah penerbitan, ada yang terpaksa dikembalikan tanpa diiringi surat perjanjian penerbitan. Bahwa segala sesuatunya bisa terjadi di luar dugaan. Bergurulah pada pengalaman para penulis besar. Kegagalan atas sebuah karya adalah kesempatan kedua untuk melihat kekurangan. Silakan putuskan nasib selanjutnya karya tersebut. Akan disimpan? Ditulis ulang? Diperbaiki? Dilupakan? Semua keputusan tidak lagi ada tangan editor. Memang benar, ada penulis-penulis yang diliputi keberuntungan, dengan sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Ada juga yang sudah mendayung berkali-kali, satu pulau pun tidak kunjung tampak. Tumbuhkan rasa pengertian, terlebih kepada diri sendiri.

 

Sampaikan salam saya pada para editor yang pernah membaca karya Anda.

 

Jogja, 28 November 2015

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response