Elle (2016); Film tentang Melacak Jejak Pemerkosa Misterius dan Skandal Cinta

Elle (2016); Film tentang Melacak Jejak Pemerkosa Misterius dan Skandal Cinta
Elle (2016). Sumber gambar: IMDB

Elle adalah salah satu film buatan Prancis yang masuk dalam nominasi Golden Globe 2017 untuk 2 kategori. Best Motion Picture-Foreign Language dan Best Performance by an Actress in a Motion Picture-Drama dengan untuk Isabelle Huppert.

Film-film Prancis selalu punya pembuka cerita yang tidak banyak berbasa-basi. Kekhasan itulah yang membuat saya jatuh cinta hingga selalu ingin mencari karya sineas Prancis. Sebenarnya, sang sutradara, Paul Verhoeven, berasal dari Belanda. Sedikit cerita dari yang tertulis pada IMDB.com. Elle pada awalnya akan syuting di Amerika. Sejumlah nama aktris papan atas diincar untuk memerankan Michele Leblanc, termasuk Nicole Kidman (The Others, The Hours) dan Cate Blanchett (Carol). Sayangnya mereka menolak peran tersebut, tidak dijelaskan apa penyebabnya, bukan pula perkara schedule conflict. Namun saya rasa peran yang ditawarkan memang agak “berani”.

Film ini dibuka dengan adegan perkosaan yang ditonton seekor kucing. Bersetting di dalam rumah, di siang hari. Pemerkosaan pertama ini tidak diperlihatkan secara utuh. Awalnya terdengar suara lenguhan antara lelaki dan perempuan, lalu ada seseorang bertopeng sedang menindih seorang perempuan separuh baya masih berpakaian hanya saja payudaranya terekspos. Pemerkosaan itu membuat pendarahan. Ya, sebuah pembuka yang ngilu.

Pertanyaannya adalah, siapa sosok pemerkosa ini? Pemerkosaan terjadi di siang hari dan sangat singkat. Kenapa pula dia menjadi korban? Elle diangkat dari novel berjudul Oh karya Phillippe Dijan. Penonton dibuat berpikir, ada unsur dendamkah atau dia hanya ketiban sial. Michele seorang bos di perusahaan produsen game console. Basic-nya bukanlah dunia game, sehingga sering kali berbeda pendapat dengan seorang programer bawahannya. Dia punya motif untuk memperkosa sang atasan. Faktor tidak nyaman dengan suasana kerja dan berujung pada pelampiasan yang tidak wajar. Ada satu lagi bawahannya yang sikapnya sangat manis pada Michele, dia pun bisa jadi si pelaku pemerkosaan. Mana mungkin sih si bos yang berkuasa itu mau dengannya.

Sementara dua orang itu. Sambil menebak-nebak, penonton diajak untuk melihat konflik yang lain yang menjadi sebuah alasan cukup kuat Michele tidak menjadi sosok histeris setelah kejadian pemerkosaan. Logika saya pun memberontak. Biasanya, perempuan setelah mengalami tindakan kekerasan seksual tentu akan mengadukan kepada polisi. Toh dia sangat bisa melakukannya. Kenapa tidak? Kenapa hanya teman-teman dekatnya saja yang diberi tahu? Karena ayahnya adalah seorang kriminal yang sedang dihukum karena perbuatan beberapa puluh tahun ke belakang, ketika Michele masih kecil. Michele menjadi sosok yang dingin karena hal buruk itu.

Konflik dengan ayah, juga dengan ibunya yang menjalin hubungan dengan pria yang sangat muda. Ada pula konflik yang terbilang konyol yang dialami putranya dengan sang pacar. Sebuah konflik dengan satu bibit lalu berkembang menjadi rumit. Berpusat pada Michele. Kita akan terus diajak menyelami sisi lain dari Michele. Dia bukan perempuan baik-baik. Skandal cintanya berjalan dengan beberapa pria. Dan pemerkosaan pun terjadi lagi dan lagi.

Saya mengagumi betapa karakter Michele ini barangkali ada di sekitar kita. Dari luar tampak wajar, tapi di dalam, dia punya keinginan-keinginan untuk melampiaskan sebuah ekspresi kebebasan. Dia hancur karena masa lalu, tapi tidak menjadi sosok depresi yang merusak diri dengan obat-obatan penenang. Dia bekerja, dia bersosialisasi, dia bekerja layaknya manusia kebanyakan. Ada trauma-trauma dari masa kecil yang dibawanya hingga dewasa. Menyimpan kebencian sangat dalam pada sosok ayahnya yang sudah sangat tua dan tidak kunjung mendapatkan pembebasan. Dia membenci hubungan ibunya dengan pria yang dianggapnya tidak lebih dari gigolo yang mengincar uang ibunya, padahal ada alasan lain. Dia tahu bahwa pacar putranya bermain cinta dengan pria lain dan terbukti dari anak yang dilahirkannya berkulit gelap sementara putranya dan pacarnya berkulit putih. Gen dari siapa? Dia berusaha tidak ikut campur terlalu jauh karena putranya terus saja membela sang pacar. Kejadian pemerkosaan itu tidak membuat skandal cintanya berhenti malahan bertambah dengan tetangga sebelah yang mantan atlet, berwajah tampan, dan bertubuh tegap, dan perhatian, meski sudah punya istri.

Konflik-konfliknya seperti gula, tepung, telur, baking soda yang diaduk menjadi adonan dan siap dipanggang. Satu per satu pertanyaan terjawab pada waktunya. Penonton ingin tahu siapa si pemerkosa, siapa orang yang membuat adegan tidak senonoh dengan rekayasa komputer, bagaimana hubungan cintanya dengan si tetangga sebelah, dan bagaimana perselingkuhannya dengan suami teman baiknya sendiri. Saya menonton saingan Elle untuk kategori Best Foreign Language Film, ada Divines (Prancis), Neruda (Chile), The Salesman (Iran/Prancis), dan Tony Erdman (Jerman). Sementara untuk Best Performance by an Actress in a Motion Picture, Isabelle Huppert harus bersaing dengan Amy Adam (Arrival), Jessica Chastain (Miss Sloane), Ruth Negga (Loving), dan Natalie Portman (Jackie).

Trailer Elle:

 

Jogja, 22 Desember 2016

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response