Elysium (2013); Film Tentang Surga di Langit yang Biru

Elysium (2013); Film Tentang Surga di Langit yang Biru
Elysium (2013). Sumber gambar: IMDB

Saya termasuk orang yang berpikir bahwa seorang aktris peraih Oscar akan selektif terhadap setiap tawaran film yang datang sehingga terbuka lagi kesempatan untuk membuktikan kehebatan dalam beradu peran di layar lebar. Seperti halnya seorang penulis yang sudah pernah mendapatkan sebuah penghargaan prestisius macam Khatulistiwa Literary Award bahkan Nobel sekalipun. Dalam dunia kepenulisan, ada yang namanya nama pena, sehingga seorang penulis bisa tetap berkarya dengan identitas lain dengan leluasa. Di dunia akting, mana bisa melakukan itu?

Jodi Foster pun demikian. Prestasi cemerlangnya terjadi di saat membintangi film The Accused di tahun 1989, dan The Silence of the Lamb di tahun 1992. Setelah itu, Jodie hanya sekali mendapat nominasi Academy Awards di tahun 1995 untuk film Nell. Jodie sepertinya mendapatkan persaingan ketat dari rekan-rekan sejawatnya. Setelah Nell, Jodie tidak begitu rajin terlibat dalam produksi-produksi film, beberapa di antaranya Panic Room (bersama Kristen Stewart yang masih kecil), Inside Man, Carnage (bersama Kate Winslet), dan di tahun 2013 muncul memerankan tokoh jahat Delacourt bersama Mat Damon di Elysium.

Dari sekian judul itu, hanya pada film Elysium, saya tidak menyukai peran Jodie. Terbiasa melihat dia bermain untuk film-film drama yang penuh emosional, lalu di Elysium sebagai seorang petinggi penjaga surga yang terobsesi melakukan kudeta.

Naskah Elysium ditulis oleh Neill Blomkamp, yang pernah mendapatkan nominasi Oscar di tahun 2009 untuk film District 9, dia juga sebelumnya terlibat dalam sejumlah film-film pendek. Dengan genre fantasi, menurut saya Elysium ini seakan tidak berbeda dengan film-film lain yang mengangkat tema bumi di masa depan, dengan kehidupan di satu sisi rusak, di sisi lain sangat futuristik. Penduduk bumi menjadi kelas-kelas tertentu, ada yang mapan ada yang bermimpi jadi mapan. Kondisi bumi yang memprihatinkan dengan penyakit menular di mana-mana. Muncullah seorang pria dari kelas bawah yang ingin menuju surga demi menyembuhkan dirinya yang teradiasi.

Film ini saya tonton di laptop dengan speaker seadanya dan layar 12 inci. Bukan itu penyebabnya saya kurang menyukainya. Tapi film ini garing. Rating di IMDB hanya 6,7. Tidak jauh beda dengan Divergent, masih di bawah Looper.

Elysium adalah tempat tujuan mahasempurna sempurna. Dalam mitologi Yunani kuno, menurut Wikipedia, Elysium merupakan tempat keabadian bagi para dewa. Di film ini, Elysium merupakan tempat yang memiliki teknologi canggih untuk menyembuhkan semua penyakit. Orang-orang bumi yang bodoh, berlomba-lomba ke sana, tapi begitu sampai mereka dikejar-kejar lalu ditangkap. Surga menjadi sebuah tujuan yang teramat dekat, tempat pelarian, tempat para penguasa keji. Surga bukan lagi tempat sakral untuk orang-orang yang beramal shalih selama di dunia setelah Hari Kebangkitan. Surga itu letaknya di langit yang biru.

Trailer:

Jogja, 2 November 2015

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response