Embel-Embel Religi dalam Film dan Novel Indonesia

Jika di Indonesia, film atau novel yang melibatkan unsur agama pastilah diberi “embel-embel religi”. Film atau novel di tanah air kita memang akhirnya menjadi berhawa “sekular”, memisahkan duniawi dan religius sehingga menjadi segmen yang saling bertolak belakang. Membuat pengkategorian sebuah karya menjadi tidak sama dengan di luar negeri sana.

 

Embel-Embel religi dalam Film dan Novel Indonesia

Sumber gambar: icsforum.org

Saya pernah menonton film Loving Annabelle maupun Lost and Delirious yang mengambil settingnya di dalam sebuah sekolah Katholik khusus perempuan. Mau tidak mau, unsur keagamaannya sangat tinggi, seperti berdoa, latihan paduan suara, merayakan Natal, dan sebagainya. Tapi sedari awak, keduanya tidak pernah masuk dalam kategori film religi, sebab inti ceritanya bukankah perkara agama, tapi kehidupan lesbian di dalam sekolah yang muridnya homogen. Sementara, film-film maupun novel agama yang benar-benar religi, selalu dikaitkan dengan misal sejarah, semisal Yesus, para nabi, dan orang-orang yang disucikan, dengan versinya masing-masing.

Film-film yang bersetting pesantren—di negara kita—selalu dikategorikan sebagai karya religi, padahal sisi romance yang lebih banyak diangkat ke permukaan atau konflik kepentingan, semisal berebut kekuasaan dan pengaruh. Bahkan mirisnya, kehadiran tokoh-tokoh berhijab seolah menjadi penanda bahwa sasaran penontonnya adalah umat Islam semata. Beralih ke dunia novel, sekularisme seakan menjadi definisi kaku namun dipakai sebagai pegangan, baik oleh penerbit maupun penulis. Agar karya-karya dapat masuk ke semua kalangan pembaca, nilai keagamaan si tokoh tidak dimunculkan secara kuat. Tidak ada adegan shalat, tidak ada tradisi ke gereja, perayaan Waisak, Hanukkah, dan sebagainya. Yang ada adalah tokoh pengusaha yang tidak pernah shalat, guru yang tidak pernah ke gereja, ibu yang tidak pernah mempersiapkan Bar Mitzvah untuk anaknya. Melulu kehidupan duniawi.

Embel-Embel religi dalam Film dan Novel Indonesia
Sumber gambar: realboxscore.com

Lupakah bahwa Indonesia adalah negara dengan mayoritas pemeluk agama Islam? Amerika Serikat adalah negara dengan pemeluk agama mayoritas Kristen. Inggris dengan Anglikan, Israel dengan Yudaisme, Vatikan dengan Katholik. Negara mana yang mayoritas penduduknya ateis? Maka di mana letak ketidakwajaran jika si tokoh merepresentasikan keyakinannya di layar lebar? Apakah orang yang berhijab pertanda agamanya sudah bagus? Apakah orang yang shalat pasti masuk surga? Apakah orang yang sudah berhaji pasti mabrur? Apakah merayakan Natal pasti membaca Alkitab?

Film dan novel semestinya mengangkat realitas kehidupan tanpa mencemaskan adanya konsekuensi akan mendapat masalah di belakang hari, semisal dilarang tayang di bioskop atau dilarang terbit karena tekanan pihak tertentu. Namanya juga realitas. Berita-berita di media massa tanpa tedeng aling-aling mengungkap tentang adanya ustadz yang berbuat cabul, seorang jihadis yang melakukan bom bunuh diri, dan sebagainya.

Jika Indonesia ini memang bukan negara ateis, mengapa seolah-olah si tokoh digambarkan seperti tak punya Tuhan? Kapan kita tidak sekular lagi?

 

Jogja 4 November 2015

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response