Exodus Gods and Kings (2014); Film Kisah Moses dan Pharaoh

Exodus Gods and Kings (2014); Film Kisah Moses dan Pharaoh
Exodus Gods and Kings (2014). Sumber gambar: IMDB

Setelah menonton Noah, saya kembali memilih film yang diadaptasi dari kisah nabi. Kali ini Moses (Christian Bale-The Prestige, American Hustle). Dalam agama Islam dikenal dengan nama Musa. Apakah film Exodus jauh lebih mendekati sejarah ketimbang Noah? Saya  tidak tahulah harus berkomentar apa lagi. Anggap saja hiburan belaka sebab sangat jauh dari apa yang kita yakini.

Tiap umat beragama tentu perlu mengetahui sejarah para nabi. Dalam ajaran agama Islam, beriman kepada para nabi dan rasul termasuk dalam rukun Iman. Kisah para nabi yang paling valid adalah berdasar pada ayat-ayat dalam kitab suci.

Seperti apa kisah Musa dalam ajaran Islam? Musa adalah anak angkat raja, keturunan Ibrani. Ibrani tidak sama dengan Yahudi. Silakan mencari referensi mengenai hal ini. Karena di masa itu sang raja memerintahkan semua bayi laki-laki dibunuh, Musa pun disembunyikan oleh ibu dan kakaknya. Kemudian dihanyutkan ke Sungai Nil di dalam sebuah kotak. Lalu ditemukan oleh permaisuri Fir’aun dan dirawat, dan loloslah Musa dari maut.

Ketika dewasa, suatu kali Musa melakukan kesalahan dengan membunuh orang sehingga dia pun jauh dari kalangan istana. Pada saat itulah ia mulai menemukan Tuhan dan mendapatkan petunjuk melalui tongkatnya.

Tongkat itulah yang akan membawa Musa ke dalam adu sihir dengan para tukang sihir Fir’aun. Pada masa itu, sihir memang menjadi ilmu yang dikembangkan bahkan menjadi andalan kerajaan. Segala keputusan Fir’aun pun dipengaruhi oleh hal mistik, dengan ramalan dan sebagainya. Lalu dengan tongkat itu pula Musa akan membelah lautan dan menyelamatkan kaumnya dari kejaran tentara Fir’aun.

 

Di film Exodus, bagian masa kecil Musa sama sekali tidak ditampilkan. Tiba-tiba dia sudah dewasa dan menjadi akrab dengan sang putra mahkota. Musa juga menjadi orang yang memiliki keberanian dalam berperang. Lalu kemudian ketahuan berdarah Ibrani oleh raja yang baru naik tahta, dia pun diusir dari istana. Mengembara selama bertahun-tahun, sempat menikah dan punya anak juga. Lalu kembali ke pusat kota Mesir—saat itu belum bernama Kairo.

Kejengahan saya terhadap Exodus adalah bagaimana Tuhan digantikan dengan sosok anak yang bisa muncul dan datang tiba-tiba. Jika tidak percaya, tonton saja, dan sampai di bagian pertengahan, cerita dalam film ini makin ke mana-mana. Tiba-tiba, muncul berbagai macam musibah yang—membuat kening saya berkerut. Apa sebenarnya tujuan pembuatan film ini jika harus dilencengkan begitu jauh? Bahkan sama sekali tidak ada kesan bahwa sebenarnya masalah sihir dan penahanan Fir’aun sebagai sumber turunnya mukjizat Tuhan. Fir’aun tidak terlihat sebagai raja yang zhalim. Jika pun terobsesi dengan istana yang tidak juga selesai dibangun, itu tidak membuatnya menjadi sosok jahat dan mengundang murka Tuhan.

Sepertinya, jika ingin menonton film-film tentang kenabian, hindari yang berasal dari garapan tanah Hollywood. Atau cukup baca buku sejarah seandainya ingin tahu bagaimana kisah para nabi yang diberikan wahyu serta mukjizat.

Trailer:

Jogja, 12 November 2015

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response