Fatima (2015); Film Imigran Muslim yang Menyekolahkan Anak di Prancis

Fatima (2015); Film Imigran Muslim yang Menyekolahkan Anak di Prancis
Fatima (2015). Sumber gambar: IMDB

Fatima adalah sebuah film yang dari detik pertama membuat saya teringat betapa tangguhnya ibu saya ketika menyekolahkan anak-anaknya, termasuk saya jauh dari rumah. Seorang ibu yang memegang prinsip, dalam film ini adalah ajaran Islam, menemani 2 putrinya yang berpikiran berbeda, memandang tanah asal mereka kuno ketimbang Prancis, tempat mereka bersekolah. Perbedaan pola pikir antara 2 generasi adalah hal yang jamak. Itu bahkan saya alami. Terjadilah benturan-benturan. Generasi para ibu berpikiran, lakukanlah hal-hal yang baik dan mengikuti norma. Sementara generasi para anak, ingin bebas melakukan apa pun yang mereka mau.

Fatima adalah film yang memenangkan Meilleur film alias Best Film Cesar Awards, festival film di Prancis yang setara dengan Academy Awards di Amerika Serikat. Memang pula untuk kategori Most Promising Actess untuk Zita Zanrot. Dia memerankan Nesrine, putri sulung Fatima yang sedang berjuang untuk tahun pertama kuliah kedokteran yang tidak murah.

Durasi film ini hanya sekitar 80 menit. Sangat singkat meski pesan-pesan moralnya tersampaikan dengan baik dalam tiap-tiap tiap adegan dan percakapan tokoh. Diadaptasi dari buku karya Fatima Elayoubi berjudul Priere a la Lune dan Enfin, Je peux marcher seule. Penyutradaraannya berada di bawa otoritas Philippe Faucon yang berdarah Maroko dan tinggal di Prancis.

Dalam waktu 80 menit, film Fatima menyampaikan beberapa permasalahan.

  1. Imigran yang sulit berasimilasi dengan negara baru.

Fatima berasal dari Algeria atau Al-Jazair. Sebuah negara berdaulat dari jajahan Prancis sejak 3 Juli 1962, terletak di Afrika Utara. Jumlah penduduk yang tercatat dalam Wikipedia adalah 40 juta jiwa yang mendiami 2 juta km2. Agama terbesarnya adalah Islam, 99 persen adalah bangsa Arab. Bahasa yang digunakan adalah Arab dan tentu saja Prancis. Dari data tersebut, tidak sulit membayangkan seperti apa sosok Fatima. Perempuan empat puluh tahunan yang masih memegang erat keserba-arab-an. Setiap keluar rumah selalu memakai kerudung dan berpakaian tertutup. Menulis, membaca, dan berbicara dengan bahasa Arab. Beremigrasi ke Prancis demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Negara-negara maju selalu dijadikan patokan untuk sebuah kehidupan lebih baik. Perkara jauh di sana itu penuh dengan keburukan dan kebencian, perkara belakangan.

Tidak dijelaskan sejak tahun kapan, Fatima dan 2 anaknya pindah ke Prancis. Sejak kapan pula dia bercerai dengan sang suami. Mereka sama-sama tinggal di Prancis hanya saja dengan kehidupan masing-masing. Fatima memiliki 2 anak gadis yang membuat hidupnya tetap bersemangat, meski banyak hal di Prancis tidak pas dengan dirinya. Putri sulungnya ingin masuk kuliah kedokteran dan tinggal di apartemen sendiri. Dengan pekerjaan hanya sebagai tukang bersih-bersih, perlu kerja keras demi membuat Nesrine menjadi seorang dokter. Anak yang kedua, Souad, adalah remaja rebel yang sesukanya sendiri. Dia mencintai Prancis ketimbang tanah kelahiran dan darah yang mengalir di tubuhnya. Prancis yang modern memang jauh lebih memukau ketimbang Afrika Utara yang tidak dikenal dunia. Fatima hanya punya satu cara untuk membuat kepenatannya berkurang, menuliskannya menjadi sebuah diary. Dia hanya bisa menulis dengan kaligrafi Arab. Bahasa Prancis-nya jauh dari fasih. Wajar jika dia tidak banyak berkomunikasi dengan orang-orang. Dan tahu sendiri bagaimana orang Prancis ogah mempelajari bahasa lain.

  1. Generasi yang berusaha meninggalkan budaya asal.

Souad adalah generasi muda yang tidak serta-merta membawa tradisi tanah kelahirannya, termasuk bahasa. Dia lebih fasih berbahasa Prancis ketimbang Arab. Enggan menggunakan kerudung ketika keluar rumah. Cara berpakaiannya pun juga mengikuti generasi muda setempat. Nama panggilannya pun menjadi Sousou, yang lebih modern. Tapi, apakah hanya sebatas itu pandangan modern yang dimiliki Prancis? Bagaimana dengan menghormati orang tua? Menghargai betapa orang tua bekerja keras agar mereka tidak menjadi gelandangan, punya tempat tinggal, dan tidak terpengaruh hal buruk. Souad adalah contoh remaja imigran yang norak. Sikapnya di sekolah pun sama buruknya. Tidakkah orang-orang seperti ini yang membuat citra imigran menjadi buruk di mata penduduk lokal?

  1. Menjadi bahan pergunjingan tetangga.

Ini kejadian yang menimpa Nesrine. Seorang tetangga mengadu pada Fatima karena Nesrine tidak menyapa saat mereka bertemu di bus. Padahal, si tetangga mengenal Nesrine semenjak masih kecil. Menjadi bahan pergunjingan lagi seolah Fatima dan keluarganya berusaha untuk mengisolasi diri dari para imigran lain. Padahal, bisa jadi Nesrine memang sudah tidak ingat padanya karena fokus pada diri sendiri.

  1. Bekerja keras untuk gaji yang tidak seberapa.

Ketiadaan suami membuat Fatimalah yang harus membanting tulang. Tapi, pekerjaan apa sih yang bisa didapatkan seorang imigran meski dia legal sekalipun dengan modal kekuatan saja? Dia harus belajar membaca, menulis, dan berbicara Prancis dengan lebih keras agar fasih. Semua lapangan kerja memiliki standar yang sama. Seleksi alam. Wajar jika akhirnya pekerjaan bersih-bersih saja yang dapat dilakukannya. Dari pagi hingga malam. Dan itu pula pemicu pemberontakan Souad. Kangen dengan sang ibu. Seandainya sang ibu bisa lebih lama di rumah, memperhatikan dirinya. Tidak perlu terlontarlah kalimat “tak berguna” kepada sang ibu. Setiap kejadian ada alasannya.

  1. Imigran lebih sulit dipercaya.

Setelah bertengkar dengan putrinya, Fatima mengalami kecelakaan hingga harus libur kerja. Pihak perusahaan mempertanyakan sakit yang dikeluhkan Fatima yang membuatnya sulit untuk kerja lagi. Menurut pemeriksaan, dia baik-baik saja. Hampir saja pihak perusahaan mengeluarkan dirinya. Fatima memang sakit. Dia menceritakan itu pada dokter yang kebetulan bisa berbahasa Arab. Dia menceritakan pula mimpi buruk yang sering dialaminya. Pada dokter biasa, itu sulit diungkapkannya. Banyak hal dalam bahasa Arab sulit diungkapkan dalam bahasa lain. Saya pun memahaminya. Dan berbicara dengan orang yang bisa satu bahasa dengan kita, adalah sebuah anugerah di tanah rantau. Soal kepercayaan, Fatima menyadari sikap majikannya yang seolah ingin menguji kejujurannya. Seperti menaruh uang dalam pakaian kotor yang akan dicuci Fatima. Meskipun butuh ratusan euro tiap bulannya, bukan berarti harus dengan mencuri uang majikan. Mereka tidak miskin-miskin amat kok. Dan masih punya harga diri. Mencuri adalah kehinaan.

Meski film Fatima berdurasi sangat singkat, Fatima dengan curhatan-curhatan sunyinya di tengah sudahnya hidup di negara maju membuat saya tercenung. Saya pun perantau, hanya saja tetap di negara sendiri yang saya kenal, yang bahasanya masih sama. Tapi bukan berarti keterasingan itu tidak pernah muncul. Para perantau adalah orang-orang asing yang berusaha tidak dipandang asing tanpa perlu mengubah identitas diri menjadi baru demi diterima oleh orang lain. Ah, ada pepatah, tak kenal maka tak sayang. Saling berkenalanlah, bukan mengubah dirimu menjadi orang asing yang baru.

Film ini memang tidak sempat membuat saya bercucuran air mata, tapi cukup untuk sebuah prinsip hidup di masa sekarang dan masa mendatang.

Trailer Fatima:

Jogja, 25 Desember 2016

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response