Fences (2016); Film Tentang Filosofi Sebuah Pagar 2

Fences (2016). Sumber gambar: moviepostershop.com

Fences atau pagar. Ada 2 fungsi dari pagar. Untuk menahan orang lain agar tetap di luar area rumah, ataukah untuk membuat para penghuni rumah tetap di dalam.

Diadaptasi dari sebuah naskah drama mengambil setting waktu Amerika Serikat tahun 1950-an alias satu dekade sebelum setting waktu Hidden Figures. Nah, untuk Oscar tahun ini, ada 3 film tentang kaum kulit hitam. Satunya lagi berjudul Moonlight yang menyoroti tokohnya yang gay.

Fences mengangkat kisah sebuah keluarga kelas menengah Afro-Amerika keluarga Maxson. Troy sang kepala keluarga, adalah pria dengan masa kecil yang dididik keras. Maka jangan heran jika dengan cara itulah dia membesarkan dua putranya. Pekerjaannya adalah mengangkut sampah bersama seorang rekannya Jim Bono. Kalangan kulit hitam hanya mendapatkan tugas mengangkut tong sampah dan menuangkan isinya ke dalam truk. Sementara tugas menyetir dipegang kaum kulit putih. Troy sering mengeluhkan ketidakadilan itu. Namun peraturan tetap peraturan. Jika Bono tidak banyak komplain, berbeda halnya dengan Troy. Dia berusaha memperjuangkan agar dirinya pun juga dapat memegang stir truk sampah.

Sepulang bekerja, Troy dan Bono melanjutkan obrolan di halaman belakang rumah Troy, sambil minum alkohol. Satu botol mereka minum bergantian sampai mabuk. Saat melepas lelah dan di akhir minggu membawa pulang amplop berisi gaji yang tak seberapa.

Sumber gambar: IMDB

Lyons, anak pertama Troy, adalah seorang pemain musik di sebuah klub yang masih sering meminjam uang pada sang ayah. Meski begitu, dia tetap saja membanggakan apa yang diakukannya. Gambaran generasi muda yang idealis di zaman dahulu. Cory, si anak kedua, adalah remaja yang punya minat dalam bidang olahraga, tapi si ayah terus memaksanya agar bekerja di debuah toko, agar hidupnya lebih jelas. Cory juga diminta ayahnya untuk menyelesaikan pagar yang sedang dibuatnya.

Troy membeli kayu-kayu untuk pagarnya dengan bahan yang berbeda dari biasanya. Ini yang dipertanyakan oleh Bono. Mengapa memakai kayu yang keras, susah digergaji. Ada apa dengan pagar itu? Troy punya rahasia yang akan membuat keluarganya hancur. Maka pagar itu akan meredam kehancuran baik dari dalam maupun luar.

Apakah sebuah kesalahan besar bisa diredam begitu saja? Keluarga Maxson sama seperti keluarga-keluarga lain. Api jika sudah terlalu besar akan makin sudah dipadamkan, bahkan mampu siapa yang pertama kali menyalakannya. Ada hati yang susah memaafkan, ada yang memilih pergi dan memulai hidup yang baru, ada yang memilih tetap tinggal meskipun hidupnya terasa seperti di neraka. Ini perkara memilih berada di dalam ataukah di luar pagar.

Satu hal yang membuat saya yakin film ini layak menang di Oscar paling tidak di salah kategori: Best Motion Picture of the Year, Best Performance by an Actor in a Leading Role, Best Performance by an Actress in a Supporting Role, Best Adapted Screenplay, adalah panjangnya dialog-dialog tokohnya, terlebih untuk Troy Maxson, sejak pembukaan film ini.

Trailer Fences (2016):

Jogja, 4 Februari 2017