Foto; Diary yang Punya Kekuatan Ingatan Luar Biasa

Gue itu sesekali pingin menjadikan blog ini tempat gue cerita, tapi gue paling males kalau dibilang curhat. Seriously, buat seorang cewek—katanya sih—curhat is a must. Dan kalau gue perhatiin, cewek-cewek di sekitar gue itu dalam sehari pasti melakukannya. Gue jarang melakukan itu, karena gue merasa banyak hal kecil yang nggak perlu orang tahu. Kalau pun gue ngasih tahu, ya cuma sekilas dan selesai. Misal, seseorang yang punya sebuah persepsi negatif tentang gue. Lalu setiap kali gue melintas, dia pasti akan melakukan sesuatu yang mencolok dan membuat gue aware bahwa dia nggak suka sama gue. Seorang cewek, biasanya, akan menceritakan hal ini pada temannya (entah itu cewek atau cowok) lalu dibahas panjang lebar. Dan itu nggak main satu atau dua menit, men! Hanya untuk masalah itu.

Gue bukan orang introvert kok. Yang gue pahami, introvert itu akan menarik dirinya jauh-jauh. Dia nggak akan membuka dirinya untuk orang lain dan juga nggak akan membiarkan orang lain membuka diri ke dia. Gue nggak kayak gitu. Gue lebih cenderung membiarkan orang terbuka ke gue dan membatasi akses mereka tentang gue. Karena nggak ada hal yang menarik tentang gue.

Alasan lain, I have trouble in speaking. Gue agak susah mengungkapkan sesuatu dengan satu kalimat sempurna. Entah, kayak otak ama mulut tuh nggak bisa koordinasi dengan baik. Tapi di sisi lain, bahasa tulisan gue jauh lebih bagus. Gue akuin dan nyadar hal itu. Makanya sejak SD, gue lebih suka nulis. Efeknya memang gue jadi semakin jarang ngomong. Semakin ke sini, karena pekerjaan, gue dipaksa untuk lebih banyak ngomong. Tapi, itu nggak membuat gue berubah cerewet.

Oh ya soal curhat eh obrolan deh. Kalau curhat kesannya mengeluh, mengeluh itu tanda orang lemah. Dan gue bukan orang lemah.

Hari ini, gue diajakin salah satu teman kantor sama adiknya ke Tamansari. Pingin foto-foto katanya. Gue udah pernah ke tempat ini sebenernya, sekitar tahun 2004. Dulu masih utuh, tapi tadi gue kaget karena banyak yang runtuh karena gempa. Oh ya soal foto-foto itu, gue punya hobi fotografi, tapi jujur, gue nggak bisa foto orang. Objek favorit gue itu pantai. Pantai itu artistik. Dipotret pake kamera hape murahan pun udah cantik. Apalagi kamera yang profesional punya.

Kalau manusia itu beda. Gue nggak begitu tertarik motret orang selain untuk kebutuhan dokumentasi. Lebih susah menurut gue karena tidak semua manusia itu artistik. Tidak semua manusia kalau dipotret jadi ganteng atau cantik. Nggak semua orang yang pake baju bagus, aksesori mahal, make up tebal lalu dipoto akan jadi artistik. Itu yang membuat gue memilih pantai, atau objek yang sifatnya mati. Hewan pun gue nggak tahu cara motret dengan baik dan benar.

Foto; Diary yang Punya Kekuatan Ingatan Luar Biasa
Sumber gambar: wisperink.deviantart.com

Di Tamansari ini gue mencoba puluhan kali memotret teman gue dan adiknya dan gue nggak begitu suka dengan hasilnya. Gue lebih suka ketika gue memotret atap yang runtuh. Lensanya gue arahin ke langit. Lalu motret dinding yang juga tinggal puing-puingnya. Motret tangga.

Oh ya gue ketika traveling selalu punya target bikin foto yang bagus. Anggaplah itu sebagai kenang-kenangan gue ke sejumlah tempat, meski nggak jauh-jauh banget, tapi cukup mengundang orang ngomong, “Kamu tuh gila!” atau “Kamu nggak takut ya?” Buat gue, traveling sendirian dengan cara gue itu jauh lebih mengasyikkan. Gue pingin jadi orang yang lebih logis. Gue nggak harus takut akan sesuatu yang emang nggak ada, tapi gue akan waspada jika memang itu perlu. Teman-teman gue suka juga traveling, tapi mereka nggak berani out of limit. Mengambil risiko. There are millions reasons that would make their steps had to be stopped, before they took a step forward. Yes, that it is. Buat gue, limit itu ada tapi sifatnya fleksibel. Bisa bergeser dan bukan hilang. Ketika gue bisa mencapai satu kota, gue akan punya target mencapai kota berikutnya dengan persiapan yang lebih bagus. Karena limit yang harus gue terobos pasti akan lebih berat.

Dan foto buat gue seperti diary, hanya bedanya nggak pake tulisan. Ketika gue melihat sebuah foto yang gue buat, meski gue nggak inget tanggal pembuatannya, tapi gue tahu the story inside. Gue hafal suasana tempat itu seperti apa, yang menariknya apa, yang nggak menariknya apa. Semua itu terekam tapi nggak kasat mata. Tapi kalau disuruh menceritakan, gue nyerah deh.

Sehobi-hobinya gue bikin foto, tapi gue nggak ada niat untuk serius jadi seorang fotografer yang dengan itu gue cari uang. This is not my passion. Gue suka tapi nggak cinta. Itu alasan yang sama kenapa gue nggak nembak orang yang selama ini selalu ada di kepala gue. Cinta itu prioritas, sementara rasa suka itu bisa menipis seiring dengan berjalannya waktu, bukan? Dan gue nggak berpikir akan hidup dengan seseorang yang hanya dengan sebatas “suka”. Gue bilang “suka” karena sisi positif dia, dan gue nggak bisa menerima sisi negatif dia. Buat gue, beda prinsip itu sumber bencana juga nantinya.

Obrolan gue sampai di sini dulu deh. Gue nggak tahu apa lagi yang besok-besok akan gue tulis setelah ini. Good night 🙂

 

Yogyakarta, 2 Desember 2012, 10:20 PM

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response