Francis Pray for Me (2015); Film Persahabatan Paus Francis dan Seorang Jurnalis

Francis Pray for Me (2015); Film Persahabatan Paus Francis dan Seorang Jurnalis
Francis Pray for Me (2015). Sumber gambar: IMDB

Francis Pray for Me (2015) berjudul asli Francisco – El Padre Jorge. Merupakan film kolaborasi 3 negara: Spanyol, Argentina, dan Italia. Sepanjang 104 menit, penonton akan dibawa memasuki kehidupan Paus Francis semenjak masa mudanya hingga terpilih menjadi seorang Uskup Roma dan pemimpin Gereja Katolik di seluruh dunia, begitu sedikit informasi yang saya dapatkan dari Wikipedia. Dalam agama saya tidak yang namanya posisi keren kayak gini. Raja Salman pun meskipun menguasai dua kota suci Makkah dan Madinah, dia tetaplah sebatas pemimpin rakyat di negaranya sana.

Jika belum lama ini saya menonton Silence, yang masih berkaitan dengan Katolik dengan kisah yang suram dan pedih, Francis Pray for Me garapan sutradara Beda Docampo Feijóo memperlihatkan sisi yang—saya tidak bilang penuh kebahagiaan sih tapi—berbeda. Dia berasal dari kalangan menengah keluarga Italia, anak pertama dan ibunya sangat senang ketika Jorge Mario Bergoglio (Darío Grandinetti-Wild Tales, Julieta) mengatakan dirinya ingin menjadi dokter. Namun, kesenangan itu berubah menjadi kekecewaan ketika pemuda yang ramah itu bertekad menjadi seorang pendeta. Ayah dan neneknya sih terima-terima aja. Apa masalahnya menjadi pendeta jika itu panggilan hati?

Jorge senang membaca, salah satunya karya Borges. Dalam film ini Borges mewakili orang-orang yang agnostik. Di KBBI, diartikan orang yg berpandangan bahwa kebenaran tertinggi (msl Tuhan) tidak dapat diketahui dan mungkin tidak akan dapat diketahui. Jangan samakan dengan ateis yang bermakna orang yg tidak percaya akan adanya Tuhan.

Mengapa sampai ke pembahasan agnostik? Seorang jurnalis berdarah Argentina bernama Ana mendapat tugas untuk meliput pemilihan paus atau sebutannya konklaf di Roma. Awalnya dia keberatan, karena dia sama sekali tidak paham dengan yang begituan. Namun, apa mau dikata, tugas dari atasan harus dilaksanakan.

Tanpa sengaja, dalam perjalanan, dia bertemu dengan salah satu kandidat kuat paus, yaitu Padre Jorge. Mengobrollah mereka dan dari situ, Ana punya feeling kuat bahwa inilah yang akan terpilih. Sayangnya, dalam internal Vatikan ada perkara-perkara lain. Ada kepentingan-kepentingan yang terkadang mengalahkan kepentingan untuk Tuhan. Terpilihlah Joseph Aloisius Ratzinger atau Paus Benedictus XVI di tahun 2005.

Sumber gambar: IMDB

Padre Jorge memang tidak terlalu berminat menjadi pemimpin Gereja Katolik. Dia lebih memilih mengabdi pada rakyat Argentina yang kebanyakan miskin dan dikelilingi perbudakan manusia. Belum lagi masalah peredaran narkotika dan ancaman dari mafia kepada para pendeta yang terus mengajak warga agar tidak mengonsumsinya.

Di tahun 2013, Paus Benedictus XVI menyatakan dirinya mundur dari jabatannya dan lagi-lagi dikumpulkanlah kardinal dari berbagai belahan dunia. Lagi-lagi Padre Jorge dijagokan oleh Ana dan harapan rakyat Argentina. Lagi-lagi, Padre Jorge tidak terlihat begitu berminat bahkan berpikir untuk pensiun saja.

Proses konklaf memang tidak sebentar. Mereka melakukan pemilihan berkali-kali. Saya kagum dengan kekuatan para kardinal yang usianya tidak lagi muda dan menempuh perjalana begitu jauh untuk menunjuk paus pengganti. Dan, biasanya seorang paus baru digantikan setelah meninggal.

Mengikuti kehidupan Padre Jorge, dia tetap ingin dipanggil begitu, rasanya seperti membuka satu pengetahuan betapa seorang paus pastilah memiliki pribadi yang kuat. Pengabdiannya kepada umat tidak perlu ditanyakan. Hubungannya dengan tokoh-tokoh agama lain selalu baik. Ah jika pemuka agama lain bisa memiliki karakter yang begitu down to earth, mengapa di agama saya orang yang mengaku sebagai tokoh agama malah bersikap begitu keras dan sangat membenci agama lain?

Trailer Francis Pray for Me (2015):

Jogja, 9 Maret 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response