Saya, FX Rudy Gunawan, Syafrina, dan Passion Literasi

Saya, FX Rudy Gunawan, Syafrina, dan Passion Literasi
Saya, FX Rudy Gunawan, Syafrina. Sumber gambar: pinterest.com

Di suatu sore di Djendelo Koffie Toga Mas Affandi, saya punya janji ketemuan dengan FX Rudy Gunawan (pendiri penerbit Gagasmedia dan seorang penulis juga) di sana untuk membahas perihal beberapa pon kesepakatan MoU penerbitan. Jadi ceritanya, Mas Rudy ini akan menerbitkan karyanya di DIVA dan saya yang bertanggung jawab untuk mengurus surat perjanjian kerja sama.

Ada bebeapa poin di MoU tersebut yang ingin didiskusikan oleh Mas FX Rudy Gunawan, dengan senang hati tentunya saya melayani permintaannya. Maka, berhubung mas yang identik dengan rambut gondrong ini datang ke Jogja, dia pun mengajak saya ketemuan di kedai kopi di lantai 2 sebuah toko buku besar di Yogyakarta.

Kami pun duduk semeja, di sana juga ada putra Mas FX Rudy Gunawan yang ketika baru kenalan sama saya langsung cium tangan padahal saya yakin usia dia tidak jauh di bawah saya. Juga ada seorang kawan lama Mas Rudy. Tapi, saya tidak terganggu dengan kehadiran mereka karena punya kepentingannya masing-masing.

Pembahasan seputar MoU ya tidak terlalu banyak sebenarnya. Seperti itu kan memang pertemuan dengan para seniman. Sisanya ya buat ngobrol santai aja. Mas FX Rudy Gunawan sebelumnya juga mengatakan, dia ingin memperkenalkan saya pada seorang penulis yang celebral palsy. Ya saya pernah mendengar tentang gangguan yang satu ini, gangguan motorik pada otak tepatnya.

Tidak lama berselang, saya pun berkenalan dengan Syafrina, seorang perempuan muda berjilbab, berkaus merah dan rok jins.

Celebral palsy bukan gangguan mental, begitu kata Mas FX Rudy Gunawan ketika menelepon saya beberapa waktu sebelum pertemuan itu. Kamu harus ketemu dia, Rin. Dan kami memang bertemu. Dan saya pun tahu dengan sendirinya CP itu apa. Mereka memang buat sebagian orang yang tidak peduli, akan dianggap sama dengan gangguan mental, tapi tidak. Mereka bisa berpikir. Sama baiknya dengan kita. Hanya mungkin gangguan pada motorik itu yang membedakan.

Syafrina seorang penulis yang menurut saya mengagumkan. Karyanya pernah pernah masuk Tempo. Apakah itu masih belum pantas disebut luar biasa? Dia sekarang sedang mengerjakan novel perdana yang katanya merupakan pengembangan dari catatan harian dia semasa KKN di UNY. Dia alumni Pendidikan Luar Biasa (semoga tidak salah menyebutkan).

Untuk pengerjaan novel tersebut, Mas FX Rudy Gunawan yang membimbing dia. Mas Rudy ini sekarang memang bercimpung di sebuah yayasan yang terkait dengan orang-orang berkebutuhan khusus. Saya tidak begitu tahu proses bertemunya mereka, tapi yang pasti Mas Rudy tahu bahwa bakat Syafrina ini sangat bisa dikembangkan. Maka setiap satu bab dikerjakan Syafrina, Mas Rudy akan membaca dan memberi masukan. Saya suka melihat proses pembelajaran seperti ini. Syafrina diberi kebebasan penuh untuk menulis dan mengembangkan pemikiran-pemikirannya. Apa yang dia tulis memang tidak jauh dari kehidupan pribadinya. Ya setiap orang memang punya cerita menarik yang bisa ditulisnya ke dalam sebuah karya fiksi, tapi seberapa berani untuk melakukannya? Dan sekuat apa dia mengolahnya sampai mampu menarik perhatian banyak orang?

 

Di sebuah subuh, Jogja, 2 November 2013

Leave a Response