Gaydar; Sebuah Anugerah untuk Mengangkap Sinyal Unik

Malam ini gue pingin ngobrol ringan aja soal gaydar atau gay radar atau semacam insting (bisa juga disebut bakat alami) buat mengenali seseorang itu gay (or lesbian). Buat sebagian besar orang, nggak akan percaya kalau radar macam ini ada di dunia, tapi gue percaya ada. Kenapa nggak? Gaydar sih menurut gue nggak lebih hebat dari indra keenam. Sangat terbatas memang orang yang memilikinya, ya hanya gay dan sejenisnya.

Salah satu temen gue contohnya. Sebut saja namanya Jessica. Dia kalau lagi jalan sama gue, kadang dia nyikut gue terus ngomong gini: Tuh ada butchie. Spontan gue nengok. Oh I see. Hm butchie itu sebutan untuk seorang lesbian yang tampilannya dominan maskulin. Atau bisa jadi dia berperan sebagai “maskulin” pada pasangan tapi tampilannya seperti cewek kebanyakan. Nah yang pertama itu yang sering temen gue maksud karena sangat mencolok bagi dia tapi tidak bagi orang lain. Orang paling cuma menyebut tomboy. Tapi lagi-lagi, apa yang teranalisis lewat gaydar sifatnya nggak mutlak. Bisa aja salah. Gaydar itu hanya insting bukan hukum absolut dan ini nggak ada teorinya. Sesuatu yang sangat alamiah.

Gaydar; Sebuah Anugerah untuk Mengangkap Sinyal Unik
Sumber gambar: huffingtonpost.com

Si Jessica juga mengakui ada kalanya dia nggak bisa menggunakan gaydar untuk beberapa kalangan, bahkan untuk orang-orang yang justru gue tahu gay atau ya sedang menjalin hubungan dengan sejenis. Orang-orang ini biasanya sengaja menutup identitas rapat-rapat termasuk dengan tampilannya, dengan berbagai alasan. Entah belum siap untuk terbuka atau memang sudah berniat untuk tidak menjadi gay.

Menurut gue, setiap orang bisa aja kok dengan bebas mengganti orientasi seksualnya, karena, apa sih definisi orientasi seksual itu? Apa coba? Silakan keluarkan semua teori tentang itu tapi pada kenyataannya akan berbeda. Misal, gue pacaran 6 kali sama laki-laki, 2 kali sama perempuan. Gue disebut apa? Biseksual? Terus kalau gue nikah sama laki-laki, gue disebut straight nggak? Orang belum tentu akan menyebut gue straight, mungkin akan tetep disebut biseksual atau mantan biseksual. Aneh nggak sih hidup dengan predikat seperti itu? Mengapa Tuhan saja bisa menerima hamba yang mau kembali ke jalan yang lurus dan memaafkan dosa-dosa yang telah lewat tetapi manusia tidak? Dan mengapa keinginan seseorang untuk menjadi straight dipandang sebelah mata seolah-olah itu hanya manipulasi belaka? C’mon don’t you be so naïve.

Obrolan seputar gaydar ini memang tidak akan melebar terlalu jauh bahkan sangat terbatas. Kalau Anda masih belum percaya adanya gaydar, coba deh tanyakan teman Anda yang Anda tahu (bukan masih tahap mencurigai lho), dia gay. Dia kalau punya pergaulan luas dengan sesamanya, pasti akan menjawab: ya, gue punya gaydar gue bisa tahu si A ini gay atau bukan. Tapi kalau teman Anda itu tipe yang menutup diri dari komunitas gay, maka ada kecenderungan dia tidak tahu-menahu. Tipe seperti ini justru lebih banyak bersembunyi bahkan bisa saja dia hidup sebagai seorang straight. Jangan harap dia akan berpikir untuk mencari pasangan sejenis karena itu dianggap hanya sebatas rasa suka bukan mencintai sampai membutuhkan. Ya, lagi-lagi itu pilihan masing-masing orang kan?

 

My room, 9 Desember 2012, 22:11 PM

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response