Genderang Baratayudha (DIVA, 2012); Novel Memori Pahit Perang Kurusetra

Genderang Baratayudha (DIVA, 2012); Novel Memori Pahit Perang Kurusetra
Genderang Baratayudha (DIVA, 2012). Sumber gambar: divapress-online

Genderang Baratayudha. R. Toto Sugiharto dalam novel setebal 612 halaman ini dengan luwesnya menggaet ketertarikan pembaca sejak awal hingga akhir cerita.

Peperangan mahadahsyat di Kurusetra bagaikan memori pahit yang tidak diinginkan oleh wangsa Pandawa maupun Kurawa. Tapi apa mau dikata, toh semuanya sudah termaktub dalam Kitab Jitabsara para dewa yang dituliskan oleh Batara Panyarikan. Namun ada suatu hal yang membuat penulisannya terhenti.

“Bahwa, Kitab Jitabsara memuat daftar nama tokoh yang gugur dalam Baratayudha. Namun, hingga beberapa saat sebelum mereka menggelar sidang tersebut, proses penulisan sudah sampai pada kemungkinan takdir yang akan ditetapkan oleh Baladewa dan Antareja. Malang, bejana tempat tinta tertumpah akibat diterjang lebah.” (Hlm. 131).

Kitab yang seharusnya menjadi hak milik para dewa di kahyangan itu, akhirnya diincar oleh pihak Pandawa dan Kurawa. Siapa pun ingin tahu, siapa-siapa saja kesatria yang akan berguguran dalam Baratayudha. Siapa dibunuh siapa.

Krishna sang Raja Dwarawati, adalah salah seorang penguasa yang nekat memasuki kahyangan demi mencari tahu berbagai kemungkinan yang akan terjadi dalam Baratayudha. Dialah lebah yang dengan sengaja menumpahkan tinta dan tahu sejumlah kesatria yang akan meregang nyawa. Dialah satu-satunya manusia yang tahu sebagian besar isi kitab itu. Sayangnya, dia tertangkap dan diinterogasi oleh Batara Guru dan Batara Narada

“Misalnya, apa saja yang sudah masuk dalam pengetahuanmu?” lanjut Batara Narada.
“Kepastian tentang kematian Destarata dan Gendari”
“Lainnya…?”
“Kematian Seta melawan Resi Bhisma.”
“Lalu…?”
“Kematian Bhisma melawan Srikandi.”
“Cukup!” timpal Batara Guru tiba-tiba. (Hlm. 138)

Takdir dewa memang tidak akan bisa diubah, tapi mengetahui isi Kitab Jitabsara tentu menjadi bekal yang amat berharga untuk mengatur siasat dalam peperangan.

R. Toto Sugiharto dalam novel setebal 612 halaman ini dengan luwesnya menggaet ketertarikan pembaca sejak awal hingga akhir cerita. Bahasa yang pengarang gunakan tidak mencerminkan kekakuan, tapi justru sebaliknya. Begitu mengalir tanpa terkesan berbelit-belit. Sangat cocok untuk kalangan anak muda pencinta karya sastra bahkan mereka yang baru pertama kali membaca kisah perwayangan. Ada pula humor-humor ringan yang dilontarkan secara spontan.

“Aku juga, Rama. Nggak ada urusan lain. Aku ikut sowan di sini,” balas Gareng.

“Aah, aku nggak percaya kalian nggak ada urusan lain. Setiap orang pasti punya urusan. Cuma bisa ditunda atau tidak. Itu saja,” bela Bagong.

“Itu namanya manajemen, Gong,” ujar Petruk. (Hlm. 78).

Buku ini sungguh merupakan pilihan bacaan yang mengasyikkan. Konflik berkepanjangan antara dua kubu benar-benar semakin seru untuk disimak hingga sampai di titik puncaknya, yaitu peristiwa kolosal di Padang Kurusetra dan yang terjadi setelahnya.

Judul: Genderang Baratayudha: Tumpahnya Air Mata dan Darah Para Kesatria Sejati
Penulis: R. Toto Sugiharto
Penerbit: DIVA Press
Tebal: 612 halaman
Terbit: Oktober 2012

Leave a Response