Gowes Bareng Mbak Dyah Purwanti ke Pakem di Sabtu Pagi

Gowes Bareng Mbak Dyah Purwanti ke Pakem di Sabtu Pagi
Gowes Bareng Mbak Dyah Purwanti. Sumber gambar: tapakrantau.com.

Awal September yang mempertemukan akhir minggu dengan Idul Adha membuat grup Jogja Women Cyclists (JWC) di WA sedikit bergeliat memikirkan rencana gowesan bareng. Tentu saja tidak di hari orang-orang mayoritas menunaikan shalat Id. Tapi di keesokan harinya, alias Sabtu 2 September. Pakem adalah tujuan yang disebut pertama kali. Saya memantau percakapan, pengin ikut meski tidak begitu semangat. Andaikan ada yang mengusulkan ke Mangunan, saya langsung unjuk jari.

Lalu dari sekian panjang diskusi, eh kok ya pada akhirnya saya dan Mbah Dyah Purwanti saja yang sepakat gowes bareng ke Pakem dengan rute lewat Kalasan. Sudah lama juga sih tidak lewat sana. Mbak Dyah sempat mengatakan dia akan memakai senjata pamungkas road bike. Buset dah. Paduan Mbak Dyah dengan road bike adalah mimpi buruk buat saya. Akan ketinggalan jauh belakang atau saya maksa mengebut sepanjang jalan, 25 kilometer. Siap pening di tengah jalan.

Alhamdulillah, Tuhan memahami kegelisahan saya dan Mbah Dyah datang dengan MTB titaniumnya. Ah sudahlah, yang penting sesama MTB dengan 26 inci, saya hanya kalah frame.

Kami ketemuan jam 6 pagi. Hari sudah terang, lampu-lampu jalan sudah mati. Mbak Dyah datang belakangan dan kami pun mengayuh pedal masing-masing. Saya bersyukur sepeda sudah ganti alloy. Tidak bisa bayangkan dengan RPM Mbak Dyah yang sebegitu besar dan saya masih berjuang dengan besi berat. Saya merasakan bedanya. Dan setelah sebulan ganti sepeda, saya benar-benar bisa merasakan letak perbedaannya.

Selama menyusuri Jalan Solo, cyclometer menunjuk rata-rata 24kph. Kami jarang berjejeran dengan kondisi jalanan yang sangat ramai kendaraan bermotor bus-bus antarkota. Sepeda Mbak Dyah 24 atau 30 speed, saya nggak sempat tanya. Punya saya 21 speed. RD Mbak Dyah selalu di paling kecil, saya menengah. Dia bisa lebih kencang tapi dampaknya akan sangat terasa dampaknya di lutut. Saya memang harus mengejar dengan mempercepat kayuhan tapi itu risiko sakit ke lutut akan sangat kecil. Kami melewati Jalan Tirtomartani dan mulai bersiap disiksa tanjakan panjang. Jika saya hanya sendirian, saya bisa lebih santai, bahkan gear akan saya ringankan dari beberapa kilometer pertama. Tapi, kali ini saya harus memakai effort lebih besar karena Mbak Dyah masih belum mengubah setelan gear.

Tuntutan untuk selalu kecepatan stabil membuat saya lebih banyak bernapas dengan mulut terbuka, seolah dengan begitu oksigen akan lebih banyak masuk. Tapi kalau bisa berjejeran dengan Mbak Dyah, saya langsung nutup mulut dan terlihat baik-baik saya. Sebenarnya saya baik-baik saja, bahkan merasa lebih leluasa standing untuk meluruskan kaki atau mengurangi rasa kram yang mulai datang di telapak kaki. Gunung Merapi di kejauhan seperti menertawakan saya yang gengsi minta rehat. Iyalah, saya kan harus kelihatan tangguh. Kami hanya rehat pendek satu kali di pertigaan Jalan Jangkang karena Mbak Dyah mengeluhkan keram dan sadel yang tidak nyaman. Itu tidak lama. Kami lanjut dan siksaan tanjakan panjang pun berakhir. Tapi jangan pikir kami akan kebut-kebutan. Pertama, jalanannya jauh dari kata mulus, dan kaki pun perlu penyesuaian lagi. Gear sering diubah-ubah itu kurang bagus untuk kestabilan kecepatan.

Kami mampir di Warung Ijo. Suami Mbak Dyah, Mas Chandra, ada di sana dengan sepeda lipatnya. Saya menunggu sembari Mbak Dyah entah sedang apa di belakang sana dengan goweser lain. Kami lanjut ke Kopi Bukan Luwak. Ini tempat nongkrong baru setelah Kopi Klotok semakin ramai pengunjung. Saya sih sebenarnya pengin menikmati pisang gorengnya. Tapi menunggu pesanan datang itu seperti menunggu terjadinya gerhana matahari.

Pemilik Kopi Bukan Luwak ini sama dengan Kopi Klotok. Konsep tempatnya pun sama. Meja-meja panjang dari kayu. Di halaman belakangnya ada gazebo dan meja-meja lainnya lebih banyak ketimbang Kopi Klotok. Sayangnya, ketika kami datang, menunya belum semua terhidang. Baru ada nasi, mangut lele yang katanya pedas banget, sayur brongkos, dan sambal. Mbah Dyah sih langsung makan. Saya memilih makan bekal wafer sama pesen teh tubruk.

Tidak lama berselang, Mas Chandra pun menyusul. Dan beberapa mobil juga berdatangan, entah mereka tamu limpahan dari Kopi Klotok atau memang sedari awal berniat ke sana.

 

Jogja, 7 September 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response