Gowes Haornas 2017 Bareng Jogja Women Cyclists

Gowes Haornas 2017 Bareng Jogja Women Cyclists
Gowes Haornas 2017. Sumber gambar: Dyah Purwanti.

Hari Olahraga Nasional alias Haornas bagi para orang-orang yang berolahraga menjadi sebuah momen untukā€¦ berolahraga. Kemarin Sabtu, ada event Audax, jadi JWC baru bikin acara gowes bareng sehari setelahnya. Tapi apa mau dikata. Di hari yang sama, Jogja Gowes juga bikin event lebih jauh, ke Pantai Baru. Jadilah yang ikut rute memutari Ring Road hanya enam orang. Ada saya yang dengan sepeda satu-satunya. Mbak Dyah, Mbak Endi yang barusan balik dari Jakarta, Mbak Ana, Mbak Putri dari Rodalink menggunakan sepeda lipat. Dan Mbak Reni, satu-satunya yang pakai road bike karena rumahnya cukup jauh.

Kami sepakat kumpul di depan Rodalink Janti pukul 06.00. Seperempat jam berlalu, begitu semua sudah datang, kami berangkat dengan Mbak Ana sebagai marshal alias pengatur kecepatan (eh apa sih sebenarnya tugas marshal?). Awalnya, saya santai ketika Mbak Ana yang ditunjuk. Gimana kalau Mbak Reni coba? Apalagi Mbak Dyah, Mbak Putri sama Mbak Endi saya tahu sekelas Mbak Dyah.

Tapi kelegaan saya tidak berlangsung lama karena ternyata Mbak Ana yang berwajah imut dan senyumnya manis, mengayuh pedalnya kayak dikejar setan. Maaf ya, Setan, kalau kamu saya bawa-bawa dalam hal ini. Dan parahnya, mereka semua bisa menyamai kecepatan Mbak Ana dan saya di belakang mulai panik. Mbak Dyah menemani saya sih sambil ngobrolin apa gitu. Jalanan di hari Minggu tidak seramai biasanya, tapi tiap perempatan kami selalu patuh dengan rambu lalu lintas. Di saat lampu merah, saya bisa mengatur napas. Apakah karena belakangan kurang banyak latihan atau memang orang-orang ini jam terbangnya jauh di atas saya, ya?

Problem saya selain panik, adalah ban bawaan yang itu sama sekali tidak layak untuk kebut-kebutan di aspal. Saya memang tidak niat ganti karena sejauh ini tidak merasa ada masalah dengan itu. Waktu ke Pakem juga nggak ada masalah. Lalu, Mbah Dyah yang pertama bilang, ban saya itu harusnya yang kecil, kayak yang di sepeda saya sebelumnya. Mbak Reni juga mengatakan hal yang sama. Mbak Endi malah menyuruh saya memakai cleat biar sepatunya nggak meleset dari kaki. Ini lagi, apa deh.

Jarak tempuh total kami 40 kilometer. Di setengah perjalanan, saya makin tertinggal jauh. Ada masa di mana di kepala bagian belakang saya terasa seperti tegang. Saya makin diserang panik, tapi diam-diam aja. Di luar terlihat santai. Jujur, saya nggak pernah merasakan hal itu sebelumnya, apalagi masih jarak yang terbilang pendek dan hari yang mendung.

Mungkin saya kekurangan oksigen. Artikel-artikel horor yang mengatakan bahwa seseorang bisa saja tiba-tiba pingsan saat bersepeda, berseliweran dalam kepala. Saya tarik napas dalam-dalam dan mengayuh dengan kecepatan biasanya. Tidak dengan setting gear yang Mbak Dyah sarankan, sebab tubuh saya bereaksi dengan sangat cepat, kaki saya mulai protes dengan memberikan sinyal sakit dan kram. Lack of exercise memang ada dampaknya. Ketahanan menjadi menurun. Ini bukan stamina terbaik. Mana saya yang pernah menaklukkan 200 kilometer sehari semalam?

Saya bergabung lagi dengan rombongan edan itu di Alfamart (atau Indomaret, entahlah). Mereka lagi asyik-asyik beli minum. Dan saya turun dari sepeda bersandar pada tiang, mau meluk kok malu rasanya. Untung tidak ada acara foto-foto. Keringat bercucuran gini, apa indahnya kalau difoto. Kami cukup lama rehat. Sekitar 15 menitan, kemudian lanjut. Siksaan dimulai lagi. Kali ini, saya hanya sebentar bersama rombongan lalu mereka menghilang. Mbak Endi yang ban depannya tertancap paku ya seperti tidak terjadi apa-apa.

Gowes Haornas 2017 Bareng Jogja Women Cyclists
Rute Gowes Haornas. Sumber gambar: gudeg.net.

Oh ya, Ring Road sekarang sudah punya nama jalan. Saya juga baru tahu kalau selama ini no name. Dari Jl. Prof. Dr. Wirjono Projodikoro (perhatikan gambar ya) sampai Ahmad Yani saya bersepeda sendirian. Kami hanya bertemu di lampu merah, setelah hijau, mereka bye! Mbak Dyah juga sepertinya lelah menunggui saya dan saya juga sudah lelah dengan diri saya sendiri. Saya sih tidak berhenti lalu gelar tikar dan piknik, tapi sudah tidak ada kekuatan ajaib yang membuat saya mampu menambah kecepatan. Dan saya lapar. Itu poin utama yang manusiawi.

Finally, satu putaran Ring Road akhirnya terselesaikan juga. Kaki rasanya udah pegel level 10. Lapar, capek, kesel ditinggalin. Duh, mulai drama. Tapi so far, tetep have fun dong. Hmm, ban sepeda saya memang minta dipensiunkan segera. Demi kesehatan saya.

Selamat Haornas ya! Jaga kesehatan!

 

Jogja, 10 September 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response