Gowes Imogirian bareng Jogjafoldingbike

Gowes Imogirian bareng Jogjafoldingbike

Gowes di saat gerhana matahari buat saya cukup bikin waswas. Bagaimana jika tanpa sengaja saya menatap matahari sementara itu berbahaya bagi mata? Tapi, saya hanya akan menjadi orang yang tidak kekinian jika tidak mengisi hari libur nasional Nyepi sekaligus gerhana matahari dengan kegiatan rame-rame.

Teman-teman saya sehari sebelumnya berencana ke Tugu Jogja. Dan rupanya di sana menjadi sangat rame. Komunitas pesepeda ada yang mengadakan acara ke Candi Abang. Sebenarnya saya ingin ikut yang itu saja jika satu komentar di Jogjafoldingbike memastikan saya itu acara mereka ke Imogiri.

Sebelum berangkat, dari informasi yang saya dapat, akan melaksanakan shalat Gerhana di perjalanan. Setidaknya, saya bisa melakukan hal duniawi dan surgawi sekaligus.

Maka saya pun menuju Alun-Alun Selatan menjelang pukul 6 pagi. Perjalanan dari kosan saya di Gedongkuning hanya sekitar 15-20 menit full speed plus kena beberapa kali lampu merah. Beberapa orang sudah menunggu di sana, salah satunya Mbak Dyah Purwanti. Dia ini, sekadar intermezzo, adalah orang yang pertama kali saya kenal di komunitas sepeda. Dia seorang pengendara sepeda lipat, meskipun dia juga punya sepeda lainnya. Dan sebelum mengenal para pesepeda lipat, saya mengira, mereka ini rutenya hanya mutar-mutar kota dan nggak bakal jauh-jauh. Salah besar.

Selain Mbak Dyah, juga ada pesepeda lain yang sebelumnya sudah pernah ketemu di beberapa event, seperti Jogja Women Cyclist 1 dan ulang tahun Bike to Work yang ke-9. Setelah shalat di masjid terdekat, kami memulai perjalanan pukul 7. Tak mengapa, yang penting sudah shalat.

Sebagai marshall kali ini adalah Mas Imam. Dia ini juga pesepeda lipat sejati. Soal kekuatan gowesnya sama dengan Mbah Dyah. Ukuran ban sepeda lipat rata-rata adalah 16 inci, sementara sepeda standar adalah 25 inci. Dengan roda sekecil itu, otomatis mereka harus mengayuh lebih banyak. Gear sepeda lipat juga tidak sebanyak sepeda standar. Pokoknya, hanya karena si pesepeda itu sendirilah yang bisa membuat image sepeda lipat patut mendapat acungan jempol.

Saya senang bersepeda di belakang marshall, siapa pun dia. Kecepatan maksimal itu ada di marshall. Kami sesekali terpisah karena Mas Imam mengayuh terlalu cepat, atau sesekali terputus karena lampu merah. Rombongan kami hari ini cukup besar, sekitar tiga puluhan, beberapa bergabung di titik lain.

Gowes Imogirian bareng Jogjafoldingbike

Tema perjalanan kali ini adalah Gowes Imogirian. Wah ini menarik. Saya tidak mendapat bocoran apakah akan tanjakan lagi atau tidak. Saya sih berharap setidaknya ada sesekali tanjakan yang tidak sehebat Puncak Bibis. Saya pun siap menurunkan sadel jika diperlukan. Awalnya saya turunkan ketika jalanan landai, tapi Mbak Dyah dan Mas Jhoni menyarankan supaya dinaikkan karena kaki berisiko kram. Saya kembalikan normal lagi yang lebih nyaman.

Tanjakan pertama. Akhirnya ujian itu datang. Gear depan saya turunkan 1, gear belakang cukup 4. Mental saya tidak runtuh karena memang tanjakannya masih masuk dalam logika saya. Begitu tanjakan kedua dan saya melihat jalanan yang sangat tinggi dan jauh, saya langsung ciut dan panik. Inilah bedanya orang pemula dengan mereka yang sudah terbiasa. Kuncinya sebenarnya simpel. Jangan ciut dan panik. Seperti prinsip naik motor di tanjakan, meski pelan, tapi perlahan akan bisa naik. Berhenti sejenak dan tarik napas. Jika yang lain bisa, kenapa saya tidak. Tapi saya sudah keburu ingin sampai atas meski itu menuntun. Mudah-mudahan lain kali saya bisa lebih bersabar.

Gowes Imogirian bareng Jogjafoldingbike

Kami lewat di Makam Seniman. Saya baru tahu jika selain para kiai, seniman pun dimakamkan di Imogiri. Kami berfoto di undakan sekaligus menaikkan sepeda kami di sana. Kompleks itu terletak di sisi kanan jalan dan ditandai dengan sebuah beton melingkar dan sebuah patung. Tidak ada tulisan Makam Seniman sehingga orang pun asing dengan nama itu.

Hari semakin panas, gerhana matahari sudah berlalu. Kami memutuskan makan di warung pecel yang juga ramai oleh para peziarah. Minuman yang paling terkenal di sana adalah wedang uwuh yang berwarna ungu. Saya sih seperti biasa hanya minum teh panas dan menyantap cemilan saja. Ini titik finish kami. Hari sudah terlalu siang. Mas Imam, Mas Jhoni, dan beberapa pesepeda lainnya masih melanjutkan perjalanan ke Kebun Buah Mangunan. Saya, Mbak Dyah, dan lainnya memilih pulang.

Gowes Imogirian bareng Jogjafoldingbike

Dan rupanya perjalanan pulang ini sangat jauh. Mbah Dyah memimpin di depan dan saya di belakangnya. Untuk menjaga jarak dengannya, saya harus menjaga kecepatan, dan menyembunyikan napas saya yang ngos-ngosan. Keringat yang bercucuran memang tidak bisa bohong. Air dalam botol minum saya tinggal sedikit. Kami sama sekali tidak berhenti untuk membeli minuman. Ya sudahlah, minum seperlunya. Ini juga menjadi latihan jika besok-besok saya mau pergi dengan trip panjang.

Sekitar dua jam perjalanan yang harus saya tempuh dari warung makan sampai kosan. Runtastic mencatat 5 jam 24 menit. Aplikasi ini saya nyalakan ketika start dari kosan. Jaraknya 45.78 km dan menanjak meski tipis. Mudah-mudahan saya selalu bisa gabung dengan event gowes yang di satu sisi santai, tapi di sisi lain menuntuk ketahanan tubuh.

 

Jogja, 9 Maret 2016

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response