Gowes Merdeka 2017 dengan Jogja Women Cyclists

Gowes Merdeka 2017 dengan Jogja Women Cyclists
Gowes Merdeka 2017. Sumber gambar: Dok. Dyah Purwanti

Hari Kemerdekaan Republik Indonesia bagi komunitas pesepeda atau goweser menjadi satu momen untuk mengadakan kegiatan dengan nuansa serba merah-putih. Kegiatan itu biasa disebut dengan Gowes Merdeka. Rute, terserah masing-masing. Ada yang dengan mengelilingi Merapi, itu jarak tempuhnya sekitar 125 kilometer dan menanjak sampai 1500-an mdpl. Ada yang keliling kota, ada pula yang mengunjungi tempat bersejarah.

Saya dan komunitas Jogja Women Cyclists mengambil rute Monumen Medan Laga Rejodani di Jalan Palagan. Kami mengambil jam sore, sebab di pagi hari pada punya acara masing-masing, termasuk menghadiri upacara di sekolahan bagi para guru.

Kami kumpul di Bunderan UGM setelah dikoordinasi Mbak Dyah Purwanti. Jarak tempuh kami tidak begitu jauh kali ini, sepuluh kilo mungkin. Dari kosan saya ke Bunderan lima kiloan. Kami menyusuri Jalan Kaliurang yang padat, berbaur dengan kendaraan-kendaraan bermotor hingga di daerah Banteng. Baru kemudian kami mengambil jalan kecil ke barat, Jalan Jurugsari III terus lalu ke Jalan Jurugsari IV. Kami melewati beberapa pusat aktivitas warga yang merayakan tujuh belasan. Bahkan ada ketika kami lewat, si pembawa acara menyapa kami lewat mikrofon, serasa rombongan tamu penting. Kami cengar-cengir dan meneruskan perjalanan. Di Jalan Sunan Ampel kami ambil pertigaan ke barat. Di patung kuda depan Green Hills, kami pun berhenti sejenak untuk mengambil gambar. Hingga di Pasar Rejodani, kami barulah merasakan jalanan menurun hingga tiba di Monumen Rejodani, tempat tujuan kami.

Monumen yang tidak begitu besar. Delapan nama pahlawan terukir di sana, mereka gugur pada 29 Mei 1949 melawan tentara Belanda. Kami mengabadikan keberadaan kami di sana, sebelum beranjak rehat di Filosofi Kopi.

Filosofi Kopi masuk dalam agenda gowes kami. Jaraknya tidak begitu jauh, apalagi jalannya menurun. Sayangnya, kami sudah sangat excited ke sana, tapi tempat yang sebegitu besar sudah penuh dan antrean pencinta kopi sudah panjang. Kami membawa masuk sepeda namun tidak menempati meja. Kami makan snack sejenak, sementara maghrib sudah dekat. Kami kalah cepat memang dengan anak-anak muda kekinian. Padahal tempat itu buka jam 4 sore dan ramenya sudah seperti di Kopi Klotok.

Ya sudah, kami memilih Bakmi Kampoeng Jawa Pak Karno saja yang jelas tempatnya sangat cukup untuk rombongan kami yang kurang lebih 20 personel. Perut sudah kelaparan dan perjalanan pulang juga tidak dekat. Warung bakmi jawa di mana-mana pastinya perlu menunggu agak lama. Biasanya pesanan dimasak satu per satu tidak dengan kompor gas. Sebab konon, aroma masakan yang memakai anglo (tungku tanah liat) berbeda dengan kompor gas. Aroma tradisional yang disukai para pencinta bakmi jawa. Saya jujur saja tidak bisa menemukan perbedaannya di mana, kecuali melihat sendiri cara pembuatannya.

Bagi yang tidak menyukai rasa manis, pilihlah menu bakmi atau bihun rebus, atau capcay. Selain kuahnya kental, rasa manis bisa ditambahkan belakangan. Harga rata-rata 20.000 dengan porsi standar. Terbilang mahal dibandingkan harga di tempat lain. Bahkan bakmi Surabaya dekat kosan saya yang rasanya lebih cocok di lidah karena tidak ditumpahi kecap dan porsi lebih jumbo, hanya 17.000 per porsi.

Untuk minumannya, semua yang panas disajikan tawar, silakan ditambahi dengan gula batu sesuai selera. Harga untuk teh tawar 2.000 dan teh manis 4.000. Ada juga minuman lain seperti jeruk, jahe gepuk, Saparela, tape, kopi, dan asem jawa dengan harga rata-rata 7.000.

Jangan ke sana jam 7 pagi karena bukanya baru jam 11.00 sampai 24.00.

Kami menempati bangunan joglo di belakang. Sepeda terparkir dengan aman tanpa khawatir digondol orang. Bukannya sombong, banyak sepeda yang harganya di atas lima jutaan. Bukan sepeda saya pastinya.

Setelah makan dan berpisah, sisa rombongan yang semakin sedikit pun menuju Tugu Jogja. Di sana kami bergabung dengan rombongan JCC (Jogja Cycling Club) yang mau night ride. Di sana rombongan kami juga terpecah lagi, ada yang pulang, ada yang mengikuti night ride hingga ke Jombor. Saya memisahkan dari rombongan menjelang jembatan dekat Bonbin dan pulang dengan perut sudah lapar lagi.

 

Jogja, 18 Agustus 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response