The Greatest Showman (2017); Kisah P.T.Barnum dan Bisnis Sirkusnya

in Film by
The Greatest Showman (2017); Kisah P.T.Barnum dan Bisnis Sirkusnya
The Greatest Showman (2017). Sumber gambar: IMDB.

The Greatest Showman mendapatkan 3 peluang berjaya di Golden Globes 2018 dari kategori Best Original Song – Motion Picture (Benj Pasek dan Justin Paul), Best Performance by an Actor in a Motion Picture – Musical or Comedy (Hugh Jackman), dan Best Motion Picture – Musical or Comedy.

Para pesaingnya untuk film terbaik adalah The Disaster Artist, Get Out, I, Tonya, dan Lady Bird. Sementara Hugh Jackman akan bersaing dengan sejumlah aktor seperti Steve Carell (Battle of the Sexes), Ansel Elgort (Baby Driver), James Franco (The Disaster Artist), dan Daniel Kaluuya (Get Out).

Pemutaran The Greatest Showman di Amerika Serikat dan sejumlah negara lainnya adalah 20 Desember 2017. Masuk ke Indonesia menjelang akhir tahun berbarengan dengan merangseknya Pitch Perfect 3, dan saya kesal setengah mati karena tidak semua bioskop memutarnya. Saya harus membeli tiket Premiere dengan kursi yang bisa buat selonjoran, di mana tiketnya hampir dua kali lipat reguler. Jam pemutaran di bioskop lainnya siang hari, berdekatan dengan shalat Maghrib, atau jam 21.00 ke atas. Kalah slot juga dengan Ayat-Ayat Cinta 2. Please deh ya.

Pada awal sekali saya melihat trailer film ini, saya memang tidak begitu tertarik untuk mau nonton. Saya jujur saja bukan penyuka apalagi pencinta film musikal. Ya, saya suka dengan film India, tapi itu beda banget. Kemudian, saya menonton Spider-Man: Homecoming, di sana ada Zendaya. Lalu saya mencari di Youtube, siapa Zendaya ini, dan sampailah saya pada wawancara dia dengan Jimmy Fallon untuk promosi The Greatest Showman. Nah, pacar gelap saya si Zac Efron, saya tahu main untuk film ini, tapi dia kan tipe aktor yang tidak begitu selektif terhadap tawaran skenario. Kemudian saya terus mencari tahu, dan akhirnya sampai pada tahap, saya harus nonton film ini begitu sampai di Indonesia, saya tidak mau menunggu 2 bulan sampai bajakannya ada di warnet. Terlebih lagi, nominasi Golden Globes semakin menguatkan niat saya.

Zendaya memang diutus untuk mempromosikan film di sejumlah acara TV. Tapi kamu perlu tahu, dia hanyalah pemeran pembantu seperti halnya Zac Efron (Phillip Carlyle), Michelle Williams (Charity Barnum), Rebecca Ferguson (Jenny Lind), Keala Settle (Lettie Lutz), dan masih banyak lainnya. Artinya, tidak mendapatkan porsi besar sorotan kamera. Karena fokus kamera sudah diarahkan oleh sutradara sekaligus pakar efek visual, Michael Gracey untuk Hugh Jackman si sosok pemilik sirkus Barnum.

Kisah kesuksesan Phineas Taylor Barnum atau P.T. Barnum berawal dari keinginannya untuk membahagiakan keluarga kecilnya yang hidup menempati sebuah flat sederhana di New York. Jauh sebelum itu, keinginannya adalah membahagiakan sang istri, Charity Barnum, perempuan yang telah sedari kecil telah membuatnya jatuh cinta. Cinta yang terhalangi perbedaan strata sosial. Tentu saja kisah yang lebih masuk akal adalah bila si perempuan kaya dan si lelaki miskin. Kalau dibalik, biasanya pihak perempuan akan menjadi pihak yang penuh dengan penderitaan karena si lelaki bakal selingkuh dan bla bla bla. Boring.

Ketika merasa cukup umur, Barnum dengan baik-baik meminta restu orang tua Charity untuk membawa gadis itu meninggalkan London menuju New York di mana ada tawaran menarik pekerjaan. Tidak ada drama orang tua yang tidak merestui anaknya pergi dengan pria dari keluarga sederhana dan mengabdi pada keluarga itu. Keduanya pun sampai di Amerika, Charity hamil, melahirkan anak kembar, lalu Barnum kehilangan pekerjaannya.

Sang istri adalah sosok yang selalu menjadi bahu sandaran ketika suaminya bersedih. Meskipun memiliki latar dari keluarga kaya raya, Charity bukan tipe yang banyak tuntutan dan mengancam akan pergi jika tidak ada gelimangan harta. Sementara sebagai lelaki tulang punggung keluarga, Barnum tidak mau mengingkari janjinya untuk selalu membahagiakan sang istri dengan memberikan kehidupan lebih baik. Maka dia pun mengambil pinjaman bank untuk membuat museum lilin. Tapi siapa penduduk setempat—yang notabene mayoritas rakyat kelas bawah—yang mau nonton patung lilin meskipun dalam ukuran raksasa? Penjualan tiket sepi. Barnum hampir putus asa. Buku cerita milik anaknya mendatangkan ide baru. Mengumpulkan orang-orang dengan… kelebihannya masing-masing… untuk sebuah bisnis pertunjukan. Orang-orang dengan fisik yang menjadi bahan tertawaan. Letty adalah perempuan bersuara bagus dengan tubuh gemuk, berkumis dan berjenggot. Kakak beradik Wheeler adalah pemain trapeze yang berkulit hitam, meskipun Zendaya tidak begitu gelap kulitnya. Tom Thumb yang bertubuh mini dengan pertunjukan menunggang kuda dan gajah. Ada pria bertato seluruh tubuh, pria tinggi, pria bertanduk, dan segala keunikan manusia dikumpulkan ke sana.

Lalu Zac Efron?

Hm, dia berperan sebagai pria tampan kaya raya yang direkrut Barnum karena menyadari bahwa sirkus tidak akan bisa menyentuh kalangan atas. Phillip bisa menjadi jembatan untuk tahapan selanjutnya bisnis Barnum. Menawari seorang pria yang terbiasa hidup dalam kemapanan tidaklah mudah, namun setelah Barnum mencecokinya dengan bergelas-gelas minuman keras, luluhlah pemuda itu. Dan tradisi minum sampai mabuk juga menjadi sebuah cara untuk berselebrasi.

Di balik kesuksesan pertunjukan Barnum, ada tokoh kritikus yang hadir hanya untuk menonton lalu menulis caciannya di surat kabar. Hater bisa menjadi penyebab patah semangat, bisa jadi sebaliknya. Barnum membaca kritikan itu dan membuat pengaruh tulisan itu sebagai “modal” untuk makin melariskan bisnis. Dan berhasil. Orang-orang makin berbondong-bondong datang. Barnum menyadari, dia memang tidak mengelola sebuah pertunjukan seni, si kritikus itu memang salah tempat. Bisnisnya adalah murni untuk menghibur. Bisa dicontoh buat yang mendapatkan kritik dari orang yang sebenarnya tidak berada di tempat yang tepat. Lagi pula, kita tidak bisa membuat semua orang mencintai kita. Haters gonna hate, hate, hate, hate, hate. Cukup orang-orang baik di sekitar kita yang mencintai kita, begitu pesan Charity pada Barnum.

Masih memiliki obsesi menjangkau kalangan atas, Barnum merekrut seorang biduanita Eropa yang sangat terkenal. Ya, tentu saja tidak untuk bermain di sirkus. Tapi untuk pertunjukan dengan orkestra. Lagi-lagi orang nyinyir pasti akan melemparkan komentar menyebalkan hanya karena Barnum identik dengan sirkus. Barnum masa bodoh. Obsesinya memang tidak salah, tetapi ketika dia memulai fokus dengan sang biduanita Jenny Lind, sirkusnya mulai terabaikan. Obsesi Barnum mulai mengarah ke sisi yang tidak sehat dan mengkhawatirkan. Orang-orang di sirkus bersedih karena semakin ada jarak dengan atasan mereka. Ini saya rasa bisa terjadi di mana pun. Ketika si bos punya kesenangan lain, yang lama karena dianggap sudah bisa mandiri, akhirnya dianaktirikan. Dalam keluarga pun begitu, si adik selalu mendapatkan kasih sayang lebih besar ketimbang si kakak. Manusia itu susah untuk adil, Jendral!

Charity sudah memperingatkan Barnum, tapi tak mau didengar. Charity yang berhati tulus adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menjaga agar Barnum tidak melampaui batas. Apa yang mereka dapatkan sudah lebih dari cukup. Orang tua Charity sudah merasa bangga dengan menantu mereka. Tapi manusia susah untuk merasa cukup sampai mulutnya tersumpal tanah.

Akhirnya dengan sebuah tragedi, Barnum menyadari kesalahannya. Keluarga yang telah dia bina dari awal adalah seharusnya yang dia hargai. Keluarga sirkusnya. Keluarga di mana orang-orang yang dihina di luar sana, mendapatkan kemuliaan, dihargai, mendapatkan tepuk tangan.

Lagu-lagu yang menjadi bagian penting dari film ini lirik-liriknya begitu sederhana namun menyentuh. Saya merinding ketika This is Me mengalun. Lagu ini dinyanyikan Letty ketika Barnum tidak mengizinkan tim sirkusnya masuk ke dalam perjamuan berisi orang-orang kaya. Lagu untuk mereka yang mendapatkan bully-an karena bentuk tubuh dan kekurangan lain pada tubuh. Lagu untuk menghadapi orang-orang nyinyir yang mulutnya selalu berkata pedas. Lagu agar kita tidak patah semangat dengan apa yang kita miliki. Karena inilah aku.

When the sharpest words wanna cut me down

I’m gonna send a flood, gonna drown them out

I am brave, I am bruised

I am who I’m meant to be, this is me

Look out ’cause here I come

And I’m marching on to the beat I drum

I’m not scared to be seen

I make no apologies, this is me

Lagu lainnya yang saya juga suka adalah Rewrite the Stars, dinyanyikan pada part Zendaya dan Zac. Keduanya mencintai tapi terhalang oleh perbedaan kelas sosial dan warna kulit. Setting cerita ini adalah tahun 1800-an di saat Ratu Victoria masih sangat muda dan cinta dengan perbedaan signifikan masih sulit untuk terjadi. Cinta keduanya jelas terlarang.

Anne sadar akan perbedaan itu, sehingga mustahil mengubah apa yang telah tertulis di bintang-bintang, sementara Phillip tetap menginginkan sang gadis, dengan apa pun risikonya, termasuk melepaskan dirinya dari hak waris kelak. Mereka lalu bernyanyi di tengah area sirkus sambil bergelantungan dan itu adegan yang sangat indah, dengan pengambilan gambar yang tanpa adanya net pengaman. Keduanya melakukan adegan berputar-putar di udara tanpa pemeran pengganti. Luar biasa.

The Greatest Showman tidak menyorot keseluruhan dari kehidupan P.T. Barnum yang sesungguhnya. Ini lebih kuat pada sajian hiburan bukan sisi epic-dramatic. Cukup kuatkah untuk mengalahkan para saingannya kelak? Saya agak meragukan hal itu. Sorry.

Trailer The Greatest Showman:

Jogja, 3 Januari 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

Latest from Film

Partners Section:

best thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appfree iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8
error: All contents protected, please contact email below to copy
Go to Top

Powered by themekiller.com sewamobilbus.com caratercepat.com bemp3r.co