Guci; Wisata Air Panas Pegunungan di Tegal Jawa Tengah

Guci adalah tempat wisata yang terkenal dengan air panasnya. Perjalanan ke Guci katanya sekitar 2 jam, tapi kami tiba di sana lebih cepat. Rutenya memang cukup menantang, meski saya pernah menemukan yang lebih ekstrem lagi. Guci terletak di Gunung Slamet. Ada sumber mata air panas yang kemudian dijadikan tempat wisata.

Perjalanan jauh saya lakukan lagi di awal bulan November, dan kesibukan pekerjaan, baru bisa ditulis sekarang. Tegal, sebuah daerah yang  terkenal dengan warungnya. Sudah lama saya ingin ke sini, tapi baru kesampaian sekarang.
Dengan motor, saya berangkat bersama Rini, teman dekat saya. Kami membawa pakaian untuk beberapa hari karena saya memanfaatkan hari Minggu, tanggal merah, dan dua hari cuti. Perkiraan perjalanan sekitar 7 jam. Tapi kami butuh hampir 15 jam untuk sampai ke tujuan. Saya memang sengaja tidak begitu peduli dengan rute, karena saya memang ingin berlama-lama di atas motor dan menikmati perjalanan.
Kami berangkat pukul 7 pagi dari Yogyakarta dengan status belum sarapan. Kami mengambil rute purworejo dan berharap menemukan tempat makan yang nyaman. Yup, saya pun melihat plang Ayam Goreng Bu Hartin (Jl. Wates-Jogja KM 2, telp. 0274-7479200). Warung ini bukan sejak pukul 07.30. Dan para pengunjungnya memang orang-orang yang melakukan perjalanan jauh.
Kami memilih duduk lesehan, ada juga meja kursi tapi kurang rileks. Menu-menunya mulai dari harga 7 ribuan sampai puluhan ribu. Tergantung menu apa yang dipesan. Begitu pula dengan minumannya. Untuk satu kelapa muda utuh harganya 9 ribu rupiah.
Setelah makan dan beristirahat sejenak, kami pun melanjutkan perjalanan. Matahari mulai tinggi. Artinya kami harus siap dengan panasnya sinar matahari ditambah jaket tebal yang kami kenakan. Sekitar 2 jam kemudian kami berhenti di sebuah SPBU. Kami menikmati kopi panas dan cemilan. Setelah merasa segar kembali, kami melanjutkan perjalanan dengan berbekal gambar peta yang tersimpat di HP saya. Ada banyak jalan ke Tegal, dan tidak susah menemukannya. Saya hanya mengingat sejumlah kota yang akan saya lewati. Ya, sepanjang perjalanan ini, motor saya yang bawa karena Rini mengatakan dirinya kurang tidur.
Guci; Wisata Air Panas Pegunungan di Tegal Jawa Tengah
Sumber gambar: dok. TapakRantau
Di perjalanan, hujan turun cukup deras. Kami memilih berhenti sejenak hingga sedikit reda. Saya membawa 2 jas hujan. Tapi dengan keadaan hujan deras dan kecepatan motor kencang, pasti ujung-ujungnya basah juga. Masuk angin adalah hal yang paling mudah terjadi setelahnya.
Sekitar pukul 19.30, kami berhenti di SPBU Bumi Ayu. Rasa lelah sudah tidak bisa saya lawan lagi. Saya butuh merebahkan diri. Setelah shalat, saya pun berbaring di dalam masjid. 30 menit saya terlelap hingga HP terus bergetar. Rini yang menjaga tas saya bilang ingin ke toilet. Dengan malas saya beranjak. Energi saya memang mulai kembali pulih, meski belum seutuhnya.
Kami melanjutkan perjalanan dan saya merasa harus makan dulu. Kami berhenti di sebuah rumah makan dan memesan sop ayam. Tapi sedikit pun saya tidak menyentuh sop itu karena merasa aneh denga bentuknya. Rini yang memesan tongseng ayam pun demikian. Meski hanya meminum teh panasnya saja, kami tetap harus membayar 50 ribu rupiah. Antara ikhlas dan tidak sebenarnya.
Dari beberapa orang, kami pun tahu, tempat tujuan kami tidak lagi jauh. Saya pun bertukar posisi dengan Rini. Sepertinya dia sudah cukup lama tidur selama perjalanan. Kini giliran saya yang tidur, begitu pikir saya. Tapi Rini sengaja tidak memberikan saya waktu untuk memejamkan mata. Ada saja hal yang dia bicarakan dan minta jawaban saya. Ya sudahlah.
Sesampainya di kota Tegal, kami pun mencari penginapan. Di sana banyak terdapat hotel besar dan tentunya tidak akan kami pilih. Lalu kami menemukan Hotel Maya (Jl. Kol Sugiono no. 3, telp: 0283-356235). Tarifnya 130 ribu permalam. Lokasinya dekat dengan mal dan McDonald. Fasilitas kamar: Spring bed, kamar mandi dalam, TV.
Kami kelaparan, sudah jam 11.30. Kami pun keluar cari makanan sampai ke Alun-Alun. Di sana ada sebuah kafe kecil yang menjual roti bakar dan teh. Itulah yang kami nikmati sebelum kembali ke hotel dan beristirahat.
Keesokan paginya kami bermalas-malas dan jalan-jalan ke mal untuk membeli sejumlah perlengkapan perjalanan yang dibutuhkan. Siang harinya kami check out dan siap-siap menuju Guci.

Perjalanan ke Guci katanya sekitar 2 jam, tapi kami tiba di sana lebih cepat. Rutenya memang cukup menantang, meski saya pernah menemukan yang lebih ekstrem lagi. Guci terletak di Gunung Slamet. Ada sumber mata air panas yang kemudian dijadikan tempat wisata.

Potensi ini kemudian menarik penduduk setempat untuk membuat penginapan layaknya homestay. Ya, tidak sulit menemukan tempat menginap di sekitar Guci. Kanan kiri adalah plang-plang penginapan dengan berbagai tipe. Kami memilih Wisma Nirwana (081326917460) sebagai tempat bermalam. Tarif per malam 150 ribu rupiah. Fasilitas spring bed, kamar mandi dalam, dapur (ada kompor gas), TV, air panas alami. Sebenarnya Nirwana ini bangunan keseluruhannya adalah rumah. terbagi 3. Ada yang hanya kamar tidur plus kamar mandi dalam (150 ribu), lalu yang plus dapur (yang kami pilih),dan yang terdiri 2 kamar plus dapur dan ruang tamu dengan kapasitas orang lebih banyak (500 ribu). Kami sempat melihat tempat lain dan memang tidak seleluasa Nirwana. Letaknya dari tempat pemandian pun tidak begitu jauh.
Guci memiliki suhu udara cukup dingin, walaupun tidak sampai membuat kami menggigil. Sangat mendukung untuk tidur sepuasnya. Keesokan harinya barulah kami menuju tempat pemandian. Para penjual suvernir dan makanan sudah membuka lapaknya masing-masing. Setelah puas melihat-lihat toko suvenir, kami pun menjadi kolam pemandian. Tempat pemandian yang gratisan menurut Rini terlalu ramai. Saya yang hanya ikut menemani pun cuma bisa angkat bahu. Kami pun mencari kolam pemandian yang bayar. Tiket masuknya 20 ribu. Di sana ada tempat bilas dan juga restoran. Karena musim liburan, kolam cukup ramai, tapi masih memungkinkan untuk berenang ke sana kemari.
Setelah Rini selesai bilas dan ganti baju, saya mengajaknya makan, brunch. Nasi goreng, teh poci (Tegal memang identik dengan teh). Dan tidak ketinggalan memesan gorengan panas yang benar-benar nikmat di udara dingin dan perut lapar.
Kami kemudian memutuskan check out dari penginapan untuk perjalanan pulang ke Yogyakarta. Sore kami meninggalkan Guci. Lagi-lagi hujan menemani perjalanan kami sampai di Slawi. Rute pulang kami berbeda dari rute pergi. Kami melewati jalur Pantura yang katanya penuh dengan truk-truk besar. Jalanan pun tidak begitu mulus, sesekali kami menghindari lubang-lubang di jalanan dan juga bergelombang.
Kami sempat berhenti makan di sebuah rumah makan Padang lalu melanjutkan lagi hingga tiba di Semarang sekitar pukul 7 malam. Kami berniat menginap 1 malam lagi. Dan Rini mengatakan ingin mengunjungi Klenteng Sam Poo Kong.
Kami mencari penginapan di daerah Tembalang, Wisma Mustika (085201796603), tarifnya 150 ribu, dengan fasilitas spring bed, AC, kamar mandi dalam. Kami sempat berjalan-jalan sejenak dan makan malam di warung Lek Nonong (Jl. Ngesrep Timur V/120, Tembalang, telp: 0274-70045416).
Keesokan harinya kami pun turun ke kota dan menuju Sam Poo Kong. Tiket masuk ke tempat ini hanya 7 ribu (berdua) dan kami bisa sepuasnya melihat seluruh area klenteng yang hampir sepenuhnya selesai masa pembangunannya. Kami masuk ke area ibadah dan harus membayar 20 ribu rupiah.
Setelah puas menikmati suasana klenteng, kami pun kembali ke penginapan untuk persiapan pulang. Sore harinya kami berangkat dari Semarang. Perjalanan cukup terhambat karena di beberapa ruas jalan terdapat perbaikan jalan, ditambah dengan gelombang pulangnya para pekerja.
Saya memilih tidak berhenti dalam perjalanan ini karena memang jarak tempuh tidak begitu jauh. Dan lagi, saya sudah tidak sabar sampai di Yogyakarya. Jalanan memang tidak begitu ramai ketika melewati daerah Ambarawa. Gerimis sesekali turun tapi tidak membuat kami harus berhenti untuk berteduh.
Rasanya lega ketika sudah sampai di kamar kost.Mengistirahatkan tubuh dan bersiap untuk rutinitas kantor keesokan harinya.
Malam hari, 16 November 2013
Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response