Gunung Ireng: Wisata Gunung di Jogja yang Menjanjikan

Gunung Ireng: Wisata Gunung di Jogja yang Menjanjikan
Gunung Ireng. Sumber gambar: dok. TapakRantau

Kalau jalan-jalan ke Jogja, jangan cuma ke pantai, tapi sempatkan juga deh mengeksplorasi gunung-gunung yang ada di sini. Jangan keburu ngebayangin Merapi, karena itu gunung beneran. Gunung di Jogja ada yang nggak perlu peralatan khusus untuk sampai ke puncak. Salah satunya Gunung Ireng alias Gunung Botak. Untuk sampai ke sana cukup satu jam perjalanan. Saya butuh lebih karena kemarin mampir sejenak di dua air terjun yang papan petunjuknya terlihat di tengah perjalanan. Nanti akan saya bahas soal air terjun.

 

Gunung Ireng jika dari Jogja, rutenya paling gampang adalah dari Jalan Wonosari lurus aja sampai Patuk. Ketemu perempatan, ambil ke kanan. Lurus aja terus sampai nemu tugu Semar ireng, ambil kanan. Kelak Anda akan menemukan petunjuk jalan. Bagi pengendara motor, kondisi jalanan ketika mendekati lokasi ada yang berbatu. Bagi yang trauma dengan jalan tipe demikian, sebaiknya berganti dengan kawan. Jika sendirian, pastikan fokus Anda digandakan. Sebenarnya saya agak menakut-nakuti sih, jadi kita kan sama-sama mengerti gitu.

Penanda bahwa Anda sudah sampai… di tempat parkir adalah adanya petugas yang siap menghampiri kendaraan Anda begitu mesin dimatikan. Tidak penting siapa nama tukang parkir itu, lebih penting siapkan 8.000 jika Anda datang berdua naik motor.

Gunung Ireng belumlah sepopuler Gunung Merapi atau Nglangeran, ditandai dengan ramainya pengunjung. Saat kami datang bahkan pulang di tengah hari dengan angin kencang yang tiba-tiba datang dengan seikat hujan deras dari langit sana, pengunjung ternyata hanya kami berdua. Konon, di puncak adalah spot favorit untuk menunggu momen tenggelamnya matahari, mungkin saja menjelang sore barulah ramai.

Ada legenda seputar Gunung Ireng yang dapat Anda baca sebelum mulai pendakian di sebuah papan yang disertai peta lokasi. Ah terdengar lebay betul ya memakai kata pendakian. Hiking pun masih terlalu unyu. Yang namanya legenda, silakan percaya silakan juga tidak. Oh ya, ada area untuk berkemah yang bisa dimanfaatkan. Lumayan luas jika Anda kelak ingin mencoba.

Untuk sampai ke puncak gunung, cukup dengan berjalan kaki sekitar lima menit, niscaya Anda akan terpana dengan pemandangan hijau persawahan dan pepohonan di bawah sana. Sejauh memandang, dominasi itulah yang ada. Sangat cantik, meski hari tidak terlalu cerah. Angin pun tidak begitu terasa. Inilah Gunung Ireng, hitam karena bebatuan besar di sana. Permukaannya sangat kasar sehingga jika ingin duduk maupun berjalan dengan telanjang kaki, harus hati-hati. Sebaiknya berdiri tidak terlalu dekat dengan ujung tebing karena jika Anda bermasalah dengan ketinggian, mungkin akan sedikit pusing berada di sana.

Di sisi lain puncak ini, ada pondok kayu cukup besar, cukup untuk sepuluh orang, dengan pemandangan kurang lebih sama. Sepertinya pondok ini bakal dibangun lebih serius oleh pihak pengelola dengan adanya rencana pemasangan listrik.

Saya bersantai sejenak sambil membaca arikel-artikel terbaru mojok.co sambil makan dan minum. Menjelang siang, mulai terdengar seuara guruh dan langit yang makin mendung. Sebaiknya sehera beranjak ketimbang harus bersusah payah melewati medan yang tidak semuanya beraspal mulus.

Nah, di Patuk juga ada air terjun yang cukup tersembunyi, namun sudah mulai direkomendasikan beberapa blog traveler. Ada 3 yang saya dan teman saya Ayun kunjungi berhubung searah dengan tujuan utama.

Yang pertama ada plang yang merujuk ke Air Terjun Taman Sari atau Lengkong Sari atau Jurug Gedhe. Untuk sampai ke lokasi ini, Anda hanya perlu jeli memperhatikan papan petunjuk. Maka saya sarankan, ketika Anda dalam perjalanan, jangan ngebut sehingga melewatkan papan-papan petunjuk yang ukurannya memang terbilang kecil. Paling gampang adalah bertanya ketimbang mengandalkan GPS. Sebab tidak selamanya GPS bisa berfungsi terlebih provider Anda bukan si merah milik negara itu. Bertanyalah, maka pasti bakal ketemu. Ada baiknya Anda membawa seseorang yang bisa berbahasa Jawa sehingga dengan mudah mendapatkan informasi.

Biaya parkir dan tiket masuk juga sama, 8.000. Dikelola oleh penduduk setempat dan petugasnya adalah ibu-ibu. Kami disarankan untuk memarkir motor di bawah. Jalannya belum aspal, tapi sudah disemen dua jalur. Memang ada parkiran di bawah, tapi jalan bersemen itu tidak sampai ke sana. Karena membawa anak gadis orang, saya memilih memarkir motor tidak jauh dari tempat parkir pertama, lalu jalan sekitar sepuluh menit ke tempat parkir kedua. Lalu perjalanan dengan jalan setapak. Jalannya tanah lembek dan melengketi sepatu gunung yang saya kenakan. Saya sarankan pakai sandal gunung juga sudah cukup nyaman dipakai. Ada beberapa bagian jalan setapak yang dipasangi bambu untuk berpegangan, tapi beberapa roboh, mungkin yang megang terlalu bersemangat.

Lengkong Sari ini baru setahun dibuka sehingga belum terlalu bombastis. Silakan bawa bekal jika ingin berlama-lama di sana. Sayangnya hujan beberapa hari tidak turun sehingga debit air terjun menjadi kecil, keruh juga. Untuk tempat duduk disediakan seadanya.

Tetangga sebelah Lengkong Sari adalah Nggerejek-gerejek. Konon tinggi, ah bukan, panjangnya mencapai 56 meter. Dibilang panjang karena ini adalah air terjun tipe landai, bertingkat-tingkat sehingga ketika jatuh ke bawah tidak begitu deras, berbeda dari Kedung Kayang yang lurus-lurus saja.

Yang ketiga adalah Tuwondo. Untuk sampai ke sana, dari arah Jogja, adalah dari perempatan setelah Kid’s Fun, ambil kanan lalu terus saja sampai menemukan pertigaan gedung serbaguna di depan gapura Desa Banyakan. Lurus lagi, pelan saja, sampai Anda menemukan plang tulisan “Alumunium” di kiri jalan. Plangnya agak kecil sehingga tidak terlihat dari jauh. Ambil jalan masuk ke kiri dan temukan ada banner petunjuk jalan. Kalau bingung, silakan tanya-tanya sekitar. Gratis. Karena lagi-lagi faktor hujan, kami hanya menemukan air mancur. Kecewa juga karena untuk sampai ke sana, sempat nyasar jauh sekali, memutar lagi baru menemukan tempatnya. Dan jalanannya pun membutuhkan konsentrasi penuh, khususnya pengendara motor. Tarif parkirnya 2.000 saja. Sudah ada warung makanan jika Anda lapar maupun haus.

Oke, ada beberapa tips saja ketika ingin ke spot-spot yang tadi saya ceritakan:

1. Pastikan mood Anda dalam kondisi positif.

2. Matikan saja GPS dan gunakan ponsel untuk mendengarkan musik, terlebih jika Anda pergi sendirian.

3. Bawa powerbank kalau batere ponsel sudah tidak prima.

4. Pastikan Anda tidak sedang menderita sembelit, diare, pusing, dan sebagainya. Sebaiknya istirahat di rumah saja.

5. Bertanyalah karena penduduk Gunungkidul terkenal ramah pada wisatawan meskipun masih dari Jogja.

6. Belajar bahasa Jawa halus untuk memperlancar komunikasi.

7. Bawa pecahan ribuan sebab tiket masuk tidak mencapai puluhan ribu.

8. Bagi yang tidak berhijab, ada baiknya membawa lotion antinyamuk.

9. Tingalkan high heels dan gunakan sepatu/sandal gunung. Atau sekalian telanjang kaki biar lebih dekat dengan alam.

10. Bawalah bekal, untuk menghemat pengeluaran.

11. Bawa baju ganti jika ingin basah-basahan. Jika Anda sudah dewasa, jangan berenang tanpa busana sebab lokasi air terjun dekat dengan perkampungan penduduk.

12. Di lokasi dekat Lengkong Sari ada semacam terowongan, jika ingin mencoba, silakan bawa senter dan perlengkapan lain.

13. Datanglah sepagi mungkin, setidaknya hari sudah terang.

14. Tidak disediakan tong sampah, bukan berarti bisa buang sampah sembarangan.

15. Jangan buru-buru pulang. Ini saatnya memanjakan diri.

 

Jogja, 12 April 2015

Leave a Response