Letusan Gunung Kelud Menjelang Hari Valentine

Letusan Gunung Kelud. Sumber gambar: TapakRantau

13 Februari 2014 menjadi sejarah terbaru letusan Gunung Kelud, salah satu gunung berapi cukup kondang karena letusan sekian tahun lalu yang memakan korban ribuan jiwa. Terus terang, selama ini saya tidak mengikuti perkembangan situasi di sana, karena Gunung Sinabung sudah lebih dulu mencetak prestasi letusan heboh di awal tahun ini dan membuat heboh kedua orang tua saya yang tinggal di kota Medan. Dan lagi, saya tinggal di Yogyakarta di mana Merapi pun masih aktif dan sering “update status”.

Saya punya kenangan tersendiri soal Gunung Kelud. Saya pernah ke sana, meski nggak mendaki tubuhnya, apalagi sampai puncak (cerita detailnya di sini). Apa yang saya ingat soal Kelud adalah jalanan yang terjal dan tampak begitu mengerikan karena saya ke sana di saat kabut mulai turun menjelang sore. Saya bahkan tidak tahu kalau Kelud itu gunung berapi yang mash aktif.

Pagi ini, 14 Februari 2014, saya mendengar bahwa Kelud kembali meletus dan kembali ke sifat asalnya, eksplosif, meletus. Menurut berita di sebuah media online, letusan terjadi pada pukul 22.50 waktu setempat dan memuntahkan jutaan kubik material dari gunung tersebut. Efeknya selain dirasakan penduduk sekitar, juga sampai ke Yogya. Hujan abu di sini, cukup tebal, menutupi atap rumah dan jalanan. Hujan abu kali ini jauh lebih parah ketimbang saat Erupsi Merapi tahun 2010. Kabarnya, sejumlah sekolah meliburkan murid-muridnya.

Hujan abu vulkanik memang berbahaya. Dari dnaberita.com, setidaknya ada beberapa dampak yang ditimbulkannya:

Abu vulkanik yang baru saja jatuh memiliki kandungan lapisan asam yang dapat menyebabkan iritasi pada paru‐paru dan mata. Lapisan asam akan mudah tercuci oleh air hujan, sehingga dapat mencemari persediaan air setempat. Abu asam juga dapat merusak tanaman, hal ini mengakibatkan kegagalan panen.

Secara umum, abu vulkanik menyebabkan masalah kesehatan yang relatif sedikit, namun lebih banyak menghasilkan kecemasan. Orang‐orang dapat menjadi lebih takut terhadap bahaya abu dan gas vulkanik terhadap kesehatan daripada risiko kematian akibat bahaya primer letusan gunung api seperti aliran piroklastik. Meskipun demikian, hujan abu dapat mempengaruhi wilayah yang sangat luas di sekitar gunung berapi dan dapat menyebabkan gangguan besar untuk hidup normal. Layanan medis dapat memperkirakan bahwa peningkatan jumlah pasien dengan keluhan sakit pernapasan dan mata terjadi pada saat dan setelah peristiwa hujan abu.

Dampak abu vulkanik terhadap kesehatan
Dampak abu vulkanik terhadap kesehatan dapat dibagi menjadi beberapa kategori, antara lain dampak terhadap pernapasan, penyakit mata, iritasi kulit dan dampak tidak langsung akibat abu vulkanik.

Dampak terhadap pernapasan
Pada beberapa letusan vulkanik, partikel abu sangat halus sehingga dapat masuk ke paru‐paru ketika kita bernapas. Apabila paparan terhadap abu cukup tinggi, maka orang yang sehatpun akan mengalami kesulitan bernapas disertai batuk dan iritasi. Beberapa tanda‐tanda penyakit pernapasan akut (jangka waktu pendek) akibat abu vulkanik:

‐ Iritasi hidung dan pilek

‐ Iritasi dan sakit tenggorokan, kadang disertai dengan batuk kering

‐ Untuk penderita penyakit pernapasan, abu vulkanik dapat menyebabkan penyakit menjadi serius seperti tanda‐tanda bronkitis akut selama beberapa hari (seperti: batuk kering, produksi dahak berlebih, mengi dan sesak napas)

‐ Iritasi saluran pernapasan bagi penderita asma atau bronkitis; keluhan umum dari penderita asma antara lain sesak nafas, mengi dan batuk

‐ Ketidaknyamanan saat bernapas

Dalam beberapa kasus, paparan jangka panjang terhadap abu vulkanik halus dapat menyebabkan penyakit paru‐paru serius. Dalam hal ini, abu vulkanik harus berukuran sangat halus serta mengandung silika kristal (untuk penyakit silikosis) dan orang‐orang tersebut terkena abu dalam konsentrasi tinggi selama bertahun‐tahun. Paparan terhadap silika kristal dalam abu vulkanik biasanya dalam jangka waktu yang pendek (beberapa hari hingga minggu). Studi juga menunjukkan bahwa batas paparan yang direkomendasikan (sama di beberapa negara) dapat terlampaui untuk jangka waktu yang singkat bagi penduduk secara umum.

Para penderita asma atau masalah paru‐paru lainnya seperti bronkitis dan emfisema, dan gangguan jantung parah adalah mereka yang paling berisiko. Partikel abu yang sangat halus dapat mengiritasi saluran pernapasan dan menyebabkan kontraksi sehingga mempersulit pernapasan, khususnya bagi mereka yang sudah memiliki permasalahan paru‐paru. Abu halus juga menyebabkan lapisan saluran pernapasan menghasilkan lebih banyak sekresi yang dapat membuat orang batuk dan bernapas lebih berat. Penderita asma, khususnya anak‐anak, dapat menderita serangan batuk, sesak dada dan mengi. Beberapa orang yang tidak pernah menderita asma dapat mengalami gejala seperti asma setelah hujan abu, khususnya jika mereka yang terlalu lama melakukan kegiatan di luar ruangan.

Penyakit mata
Iritasi mata merupakan dampak kesehatan umum yang sering dijumpai. Hal ini terjadi karena butiran‐butiran abu yang tajam dapat merusak kornea mata dan membuat mata menjadi merah. Pengguna lensa kontak diharapkan menyadari hal ini dan melepas lensa kontak mereka untuk mencegah terjadinya abrasi kornea. Tanda‐tanda umum antara lain:

a. Merasakan seolah‐olah ada partikel yang masuk ke mata

b. Mata menjadi sakit, perih, gatal atau kemerahan

c. Mengeluarkan air mata dan lengket

d. Kornea lecet atau tergores

e. Mata merah akut atau pembengkakan kantong mata sekitar bola mata karena adanya abu, yang mengarah pada memerahnya mata, mata terbakar dan menjadi sangat sensitif terhadap cahaya.

Iritasi kulit

Meskipun jarang ditemukan, abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi kulit untuk sebagian orang, terutama ketika abu vulkanik tersebut bersifat asam. Tanda‐tandanya antara lain:

a. Iritasi dan memerahnya kulit

b. Infeksi sekunder akibat garukan. (chemis)

Nah, jaga kesehatan dan #prayforkelud.

 

Jogja, 14 Februari 2014