Gunung Kendil Kulonprogo Pamerkan Panorama Biru dan Jalan Berkelok

Gunung Kendil Kulonprogo Pamerkan Panorama Biru dan Jalan Berkelok |

Gunung Kendil Kulonprogo Pamerkan Panorama Biru dan Jalan Berkelok
Di kaki Gunung Kendil. Sumber gambar: TapakRantau

Jika berniat menaklukkan Puncak Suralaya, Gunung Kendil ibarat pemanasan yang sayang untuk dilewatkan bagi para pencinta ketinggian. Setelah melewati jalan beraspal berkelok dengan tanjakan dan turunan yang bergantian menyambung tikungan-tikungan berkelok tajam, ada baiknya berhenti sejenak di sana. Plang dari spot yang terbilang baru dibuka dan dikelola perseorangan ini cukup kecil, tapi akan terlihat jika laju kendaraan tidak terlalu kencang. Ada gapura kecil dibuat dengan sederhana seolah menyambut para pengunjung yang akan naik ke puncak.

Iseng saya sebelum mulai menaiki undakan demi undakan, menyalakan aplikasi STRAVA. Melihat tingginya puncak, bolehlah dianggap olahraga. Masih pukul 10 pagi dan matahari tidak terlalu menyengat. Si pemilik warung tempat saya membeli sebotol air mineral mengatakan, Puncak Suralaya tak lagi jauh, sekitar 10 menit perjalanan. Sebenarnya, perkara jauh dan tidak ini buat saya sangat relatif. Sebab, bisa jadi penduduk setempat memang tidak pernah mengukur jarak sebenarnya. 20 kilometer bisa disebutĀ 10 kilometer.

Oh sedikit cerita, perjalanan hingga akhirnya sampai ke wilayah Suralaya ini sempat membuat saya beberapa kali salah mengambil jalan. Sewaktu bersepeda ke Borobudur, saya pernah melewati jalan besar Nanggulan-Mendut. Untuk ke Suralaya, nanti begitu ada pertigaan ke kiri, agak curam, dan ada tukang parkir yang membantu mengatur lalu lintas, ikuti jalan itu. Pertigaan lagi ambil kiri. Nah selamat menikmati jalanan beraspal yang tidak lagi lebar. Siap-siap dengan puluhan tanjakan pendek, turunan panjang, dan tikungan-tikungan yang menuntut para pengendara untuk semakin mawas diri. Jalanan ini tidak begitu ramai, bisa dihitung berapa kali saya berpapasan dengan pengendara motor. Mobil lebih jarang lagi, mengingat saya ke sana hari Sabtu, di hari sebagian orang masih kerja. Sengaja memang, sebab di hari Minggu, hilang sudah keheningan yang saya inginkan.

Kondisi jalan bagi saya masih taraf layak untuk dilewati. Sesekali laju kendaraan saya turunkan ketika di depan ada bagian lubang atau pasir yang bisa membuat ban slip jika tidak hati-hati. Saya menyukai jalanan seperti ini, menuntut saya untuk tabah mengerem dan memakai gigi rendah. Di turunan, saya tidak mau memacu terlalu tinggi sebab tikungan dengan jurang-jurang begitu banyak, tanpa pagar pembatas. Meski pemandangan di sisi kiri dan kanan begitu indah, tetaplah fokus pada jalanan. Menepilah jika ingin menikmati pemandangan.

Saya mengisi tangki bensin sampai penuh. Tanjakan-tanjakan hingga ketinggian 900-an mdpl pastilah membutuhkan bahan bakar lebih banyak. Tapi, berhubung motor Supra hemat BBM, ketika kembali ke Jogja, sisa bensin masih banyak.

Untuk masuk ke Gunung Kendil cukup membayar 2.000. Sebenarnya itu uang untuk parkir. Saya sarankan, ketika menaiki gunung ini, lepaslah jaket maupun pakaian yang terlalu tebal. Nikmati udara yang segar dan angin sepoi-sepoi.

Undakan-undakan yang akan mengantarkan ke puncak adalah bebatuan yang dikeruk lalu di beri pembatas bambu. Seadanya. Karena saya senang hiking, medan seperti ini malah menantang adrenaline. Pijakan demi pijakan sesekali berganti tanah. Menjelang puncak ada pagar yang terbuat dari bambu. Semakin ke atas, semakin menggoda panorama yang bisa diabadikan. Saya berhenti dan terkagum betapa jejeran gunung raksasa di kejauhan sangatlah cantik. Biru tertutupi awan tubuhnya, tapi puncaknya terlihat jelas.

Gunung Kendil Kulonprogo Pamerkan Panorama Biru dan Jalan Berkelok
Sumber gambar: TapakRantau

Sampai di puncak, saya berdiri dan melihat sekeliling. 900 mdpl. Sinyal HP mulai melemah. Jalanan berkelok-kelok di bawah sana. Saya melihat Puncak Suralaya di kejauhan. Lebih tinggi dari tempat saya berdiri. Sabar dulu. Saya menikmati sejenak di puncak Gunung Kendil.

Tidak lama setelah sampai di puncak, dua orang pria menyusul saya. Perjalanan saya tidak sendiri sedari sana. Kami menjadi teman seperjalanan hingga berpisah. Mereka kembali ke Magelang, saya kembali ke Jogja. Mas Adi dan Mas Parno adalah rekan kerja. Keduanya ramah. Mas Adi mengambilkan foto saya. Mas Parno lebih suka ber-selfie. Kami bertiga sama-sama sedang suntuk hingga mencari hiburan alam.

Kami mengobrol sebentar dan sepakat pergi bareng ke Puncak Suralaya.

Gunung Kendil Kulonprogo Pamerkan Panorama Biru dan Jalan Berkelok
Sumber gambar: TapakRantau

Cuplikan video:

Jogja, 21 Januari 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response