The Handmaid’s Tale (2017-): Kisah Para Pembantu Rumah Tangga di Rezim Teokrasi Republik Gilead

The Handmaid's Tale (2017-): Kisah Para Pembantu Rumah Tangga di Rezim Teokrasi Republik Gilead
The Handmaid’s Tale (2017-). Sumber gambar: IMDB

Serial TV yang diadaptasi dari novel The Handmaid’s Tale karya Margaret Atwood ini mencuri perhatian banyak penggila kisah-kisah distopia bercampur thriller. Terlebih memasang sejumlah aktor ternama, seperti Elisabeth Moss (Top of the Lake), Yvonne Strahovski (Manhattan Night), Alexis Bledel (Jenny’s Wedding), Joseph Fiennes (Pretty/Handsome), dan Samira Wiley (Orange is the New Black). Menonton episode pertamanya bagi saya pribadi, rasanya pengin ditinggalkan begitu saja karena saya nggak paham ini sebenarnya cerita tentang apa?

Nah, makanya, kalau belum baca bukunya, cari bocorannya aja. Itu yang saya lakukan setelah beberapa hari menyelingi dengan serial lain. Seperti ada yang memanggil saya untuk kembali menonton, dengan catatan, tahu garis besarnya.

Sini deh, saya ceritain sedikit. Di suatu waktu, Amerika Serikat dikuasai oleh sebuah rezim bersenjata yang kemudian mendirikan Republik Gilead. Rezim ini ingin menegakkan segala aturan yang bersumber pada Perjanjian Lama. Maka, wajar jika cara mereka memberi salam, menyapa, melakuan ritual, dan sebagainya selalu mengikuti apa yang ada di dalam perjanjian lama. Mengapa bisa begitu? Segalanya terjadi begitu cepat, dimulai dari hilangnya hak kepemilikan harta bagi kaum perempuan. Perusahaan-perusahaan memecat kaum perempuan. Lalu gangguan itu menjalar ke Konstitusi hingga berdirilah Republik Gilead. Para perempuan dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga yang berjubah merah marun dengan penutup kepala warna putih. Kaum lelaki dibunuh. Kaum pencinta sejenis dihukum berat sampai hukuman mati.

Offred adalah salah satunya. Dia awalnya adalah seorang istri dan ibu satu anak. Suaminya ditembak, putrinya yang masih kecil ditangkap dan entah berada di mana. Dia dikumpulkan bersama sejumlah perempuan lain untuk mendapatkan pelatihan sebagai pembantu rumah tangga oleh para Tante (Harus saya terjemahkan apa ya Aunt kalau bukan Tante? Masak Bude atau Bulik?)

Sebagai calon pembantu rumah tangga, mereka disiapkan untuk bisa melayani, termasuk melayani suami majikan jika si istri tidak kunjung memberi keturunan. Jangan pikir bahwa si majikan (sebutannya Commander) akan berduaan dengan si pembantu di dalam kamar lalu mendesah-desah nikmat. Mereka melakukan Ceremony dengan sepengetahuan majikan perempuan yang sehari-hari mengenakan blus terusan warna hijau. Dengan cara yang disebutkan dalam Perjanjian Lama. Pokoknya dimana caranya agar keluarga itu diberikan berkah dengan hadirnya keturunan. Semua pembantu rumah tangga punya tugas itu. Di hari subur, persenggamaan itu akan dilakukan. Setelah bayi lahir, si anak akan dianggap sebagai anak majikan. Si pembantu jadi pengasuh, tidak lebih.

Kita akan dibawa flash back oleh Offred bagaimana kehidupannya yang bahagia perlahan menjadi suram dan terkungkung di keluarga Waterford. Jika dia berontak, maka risiko harus ditanggungnya sendiri. Pendidikan yang diajarkan oleh para Tante memang keras. Boleh dibilang kejam. Kenapa saya antara kepo dan keder duluan melihat trailernya di mana ada yang matanya dijahit. Tapi percayalah, di luar kekejaman-kekejaman yang dihadirkan tiap episodenya, ada kisah yang terus membuat kita betah untuk mengikuti kelanjutannya. Dan siapa sebenarnya mata-mata Eyes yang ada di rumah keluarga Waterford. Offred tidak tahu harus mencurigai siapa. Apakah Serena Joy yang bisa begitu baik, tapi bisa bersikap dingin kepadanya? Ataukah Commander yang tidak banyak bicara tapi menyimpan kebaikan di belakang? Nick si supir yang sering curi-curi pandang dan memberikan perhatian padanya? Ataukah pembantu lainnya? Atau itu hanya akal-akalan Ofglen si anggota kelompok Resistence yang liberal dan lesbian, oh sebutannya adalah gender traitor. Kaum pencinta sejenis diberi penanda segitiga pink, seperti zaman NAZI dulu. Season 1 The Handmaid’s Tale cuma 10 episode kok. Mau maraton juga sehari selesai.

Serial ini memakai Cambridge sebagai lokasi syutingnya.

Trailer The Handmaid’s Tale:

Jogja, 14 Mei 2017

Leave a Response