Hari Anjing-Anjing Menghilang; Pemuda dan Suara Ketokan-Ketokan Pintu yang Selalu Membawa Pulang Trauma Masa Lalunya

Hari Anjing-Anjing Menghilang; Pemuda dan Suara Ketokan-Ketokan Pintu yang Selalu Membawa Pulang Trauma Masa Lalunya
Hari Anjing-Anjing Menghilang. Sumber gambar: pixabay.com

Hari Anjing-Anjing Menghilang karya Umar Affiq ini sering kali salah saya tuliskan menjadi Hari-Hari Anjing yang Menghilang atau Hari-Hari Anjing Menghilang. Lama-kelamaan terbiasa menuliskan tanpa salah lagi.

Di antara sekian banyak cerita pendek yang hadir dalam antologi ini, Hari Anjing-Anjing Menghilang sengaja menjauh dari hiruk-pikuk ibu kota, membawanya sampai ke Lasem. Mengajak kita untuk duduk dan menikmati sebuah kisah Nyo, seorang peranakan Cina yang menjadi saksi hidup intimidasi terhadap kaumnya.

Lasem dalam ingatan masa lalunya masihlah sebuah kota kecil di pesisir Jawa. Kota kecil, seperti juga sekarang—saat ia mendengar ketokan pintu—dan mungkin kota itu memang tak akan membesar seperti kota lain. Kota yang sepanjang jalannya dipenuhi pohon asem sepelukan dua pria dewasa.

Sebenarnya, moyangnya, Baba Liem (nama asli Liem Kheng Yong) seorang peranakan yang pandai mengarang cerita dan tinggal di Makassar. Selain mengarang cerita, Baba Liem, menurut cerita dari papanya, merupakan seorang penerjemah ulung cerita Cina klasik dari bahasa Mandarin ke bahasa Makassar dan menuliskannya langsung dalam lontara dengan bahasa Makassar.

Saya suka dengan begitu luasnya cara penggambaran kota Lasem sepanjang cerpen Hari Anjing-Anjing Menghilang. Sejarah yang tidak bisa disembunyikan. Betapa etnis Cina dan keturunannya turun mewarnai lika-liku perjalanan bangsa ini. Betapa mereka tidak semata-mata memikirkan perihal perniagaan agar untung besar, namun juga melestarikan budaya dengan adanya penerjemahan-penerjemahan cerita sehingga orang-orang setempat pun terbuka wawasannya.

 

Hari itu, sepulang dari rumah Nyo, aku seharian dimarahi Bapak dan tanpa mengizinkanku masuk rumah, Bapak menyuruhku untuk segera melepas baju, membalur tubuhku yang telanjang dengan pasir pantai di pelataran kemudian mandi di bawah pancuran padasan, sebuah bejana dari tanah liat. Hari itu, bapak memarahiku habis-habisan dan mengancamku bila sekali lagi main ke rumah Nyo dan bermain dengan Wang. Aku tak pernah “sekali lagi” bermain ke rumah Nyo, aku justru berkali-kali lagi main ke sana.

Sang pencerita dalam kisah ini, si Aku, memang bukan peranakan Cina, tapi dia berkawan akrab dengan Nyo. Seorang pemuda muslim toleran-yang mungkin jumlahnya saat ini semakin tergerus jumlah yang intoleran-akan realitas perbedaan ras dan keyakinan orang lain. Berinteraksi dengan lintas agama selalu akan adakalanya sulit menghindari “benturan” prinsip. Satu keyakinan menyayangi hewan yang oleh keyakinan lainnya haram untuk tersentuh dan dimakan. Si Aku menceritakan begitu detail tentang Nyo, sebelum Nyo bertahun-tahun kemudian menjadi sosok yang menjauhi orang-orang. Nyo pada awalnya seperti anak kebanyakan. Dia memiliki kehidupan bersama orang tua dan anjing-anjingnya yang setia. Tapi sebuah kejadian traumatis mengubah seorang anak yang menyenangkan menjadi pemuda kurang waras. Dan boleh jadi ada banyak Nyo di luar sana yang mengalami nasib serupa.

Tubuhnya telanjang dan kusam. Gemetaran. Butuh waktu cukup lama hingga membuat ia berada di depan pintu. Hal yang baru diingatnya di depan pintu saat itu, ia tak lagi memiliki seekor pun anjing.

Jika pada kebanyakan cerpen lain menghidangkan pemandangan yang kurang-lebih senada; penjarahan, pemerkosaan massal, pembunuhan etnis Cina; Hari Anjing-Anjing Menghilang punya sesuatu yang sangat baru meski bukan satu-satunya mampu memberikan warna berbeda. Terdengar sangat konyol dan saya tak habis pikir buat apa dilakukan. Ya, penyunatan paksa. Saya tidak perlu memberi penjelasan disunat itu seperti apa, tapi bagaimana jika itu dilakukan kepada orang yang tidak sama sekali tahu apa tujuannya? Apakah pelakunya harus diberikan ucapan terima kasih sebab itu adalah demi kesehatan semata? Sunat memang identik dengan tradisi milik umat Islam, hingga dunia medis makin berkembang dan yang punya penis kan tidak hanya pria muslim.

Ia selalu suka cerita-cerita tentang leluhurnya sebagaimana ia suka pada legenda-legenda dari tanah leluhurnya di seberang sana: di Cina. Namun, ia terlihat begitu tertarik pada cerita Sumini. Cerita paling ia sukai dari Sumini adalah tentang perkelaian Dampo Awang dengan Bong-Ang meski Sumini menceritakan kisah itu ala kadarnya.

Seperti layaknya kita di masa kecil yang menyukai kisah-kisah, Nyo pun demikian. Dia sedari kecil disadarkan bahwa leluhurnya bukan penduduk asli negeri ini. Ada banyak kisah yang telah didengarnya, namun hubungan emosionalnya dengan Cina sudah terlampau lemah, dibandingkan dengan tempat tinggalnya sekarang, Lasem. Tidak kalah menariknya kisah yang dimiliki Lasem untuk diketahuinya. Dengan versi yang diceritakan Sumini. Saya dibuat kagum dengan betapa luasnya pengetahuan sang pengasuh Nyo tersebut hingga tahu begitu banyak legenda yang belum familiar di telinga kita.

Nyo pernah memberitahuku bahwa nama Sunan Bonang sebenarnya adalah Bong-Ang. Bonang, kata Nyo, adalah selip lidah orang Jawa. Saat aku bertanya “Kamu tahu itu dari siapa? Mbok Sum?” Nyo menjawab bukan. “Lalu, dari siapa?” Nyo tak pernah menjawab.

Ada satu lagi keunikan Hari-Hari Anjing Menghilang ini, yaitu catatan kaki yang juga berkisah. Jika biasanya catatan kaki bisa kita lewatkan begitu saja, maka saya sarankan, bacalah setiap catatan kaki dalam kisah ini. Fungsinya bukan sebagai komplementer dari teks, melainkan ibarat ranah kisah tingkat kedua. Si penulis seolah ingin mencegah kecampuradukan narasi yang tengah berjalan dengan narasi lain yang muncul bersamaan. Jika disatukan dalam satu “lantai” yang sama, kisah ini akan terasa berat untuk dicerna. Solusi yang cerdas dari Umar Affiq. Dia memikirkan psikologis pembacanya juga.

“Kenapa Bong-Ang membikin kerungkep kapal Dampo Awang? Bukankah mereka dari negeri yang sama?” Sumini tidak bisa menjawab saat itu. Namun kemudian ia menemukan pertanyaan yang sama di kemudian hari ketika ia remaja dan jawaban yang masih belum atau tak dimengertinya.

Nyo masih terlalu muda untuk memahami bahwa pertikaian itu selalu muncul dari kalangan terdekat. Qabil dan Habil adalah contoh paling perdana. Akan beda ceritanya jika salah satu si kembar putra Adam menantang Iblis dan terjadilah pertempuran besar dan Iblis terbunuh, kan? Dan dunia akan damai sejahtera. Selesai cerita. Kiamat. Tuhan akan membuat dunia baru dan berulang lagi mungkin kali ini dengan variasi lain dengan lebih banyak drama. Perang saudara adalah fenomena lazim. Drama yang disukai orang-orang. Manusia itu suka dengan hal picisan meski enggan mengakuinya. Sebuah perang penyebabnya hal-hal sepele yang dibesar-besarkan sampai memicu kebencian. Begitu cara kerja dunia. Tapi lagi-lagi, Nyo adalah seorang anak polos dan belum mengerti sedikit perbedaan persepsi sanggup memicu pertumpahan darah. Hingga dia melihat sendiri. Ayahnya menjadi bulan-bulanan.

Di sana ia melihat ada rombongan orang tak dikenal duduk menghadapi televisi. Orang-orang itu sama dengannya; berkulit terang putih tulang dan bermata ciut. Mereka berjumlah sepuluh orang dengan tas ransel terlihat penuh yang diletakkan di dekat orang-orang tak dikenal itu. Seseorang di antara mereka mengeluarkan alat musik seperti dalam uang pecahan lima ribu, dan memainkannya.

Mereka dari Makassar mau menuju Jakarta. Ketika aku bermain ke rumah Nyo, aku tahu mereka adalah rombongan grup musik. Di beberapa alat musik mereka aku membaca aksara yang ditulis dengan bentuk yang apik: Sawerigading.

“Bagaimana ini?” tanya seseorang.

“Apakah di sini benar-benar aman?” Seseorang lain bertanya.

Menjelang puncak kerusuhan di Jakarta, kecemasan etnis Cina mulai terasa di daerah-daerah. Termasuk sekelompok pemusik Sawerigading yang transit di rumah Nyo. Mereka datang dari Makassar, seberang pulau, mungkin naik kapal, untuk menuju Jakarta. Mereka mencari tempat yang lebih aman. Kita tidak mendapatkan kelanjutan cerita dari kelompok musik itu karena tidak lama setelah mereka pergi dengan bus, rumah Nyo didatangi orang-orang tidak dikenal yang langsung mengeroyok ayahnya. Tidak ada prolog A-B-C. Di satu sisi saya dibuat bertanya-tanya, mengapa ayah Nyo tiba-tiba menjadi target dan dibawa paksa begitu saja? Apakah mereka itu suruhan seseorang atau memang sekadar kebagian jatah merangsek di rumah Nyo? Cerita yang baik tentu tidak harus menjawab semua pertanyaan, kan? Seperti halnya kehidupan, terkadang pertanyaan-pertanyaan kita hanya mengapung di udara dan pecah menghilang.

Nyo memang tidak dilukai fisiknya, luka setelah sunat akan sembuh dalam hitungan bulan (atau minggu). Tapi luka dalam ingatannya menjadi infeksi yang semakin parah dari waktu ke waktu. Seharusnya ada seseorang yang tergerak untuk menolongnya sebelum dia menjadi seperti sekarang. Tapi, bagaimana cara menolongnya? Itu pertanyaan besar.

Hari Anjing-Anjing Menghilang bagi saya sedemikian menyegarkan kepala dari sergapan hidangan monoton. Dan, cerita selanjutnya pun sepertinya tidak mau kalah unjuk keunggulan.

 

Jogja, 20 April 2017.

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response