High-Rise (2015); Film Tentang Kekacauan dalam Gedung Apartemen

High-Rise (2015); Film Tentang Kekacauan dalam Gedung Apartemen 2High-Rise (2015. Sumber gambar: IMDBHigh-Rise diadaptasi dari novel karya J.G. Ballard, film buatan Inggris ini menghadirkan sebuah kisah dystopia bersetting tahun 1970-an. Sebuah gedung apartemen yang terdiri dari 40 lantai berubah menjadi medan yang penuh kebencian dan darah. Dipicu dari fasilitas apartemen yang semakin lama semakin memburuk. Sering mati listrik dan pihak pengelola tidak memberikan solusi cerdas. Dari lantai 1 hingga 20 dihuni oleh orang-orang dari kelas menengah. Makin ke atas adalah orang-orang dengan kelas lebih tinggi. Dan si arsitek, Royal (Jeremy Irons-Assassin’s Creed, Lolita, Batman v Superman: Dawn of Justice), bersama istrinya, tinggal di lantai paling atas dengan taman yang luas serta ada kambing dan kuda di halaman rumah.

Laing (Tom Hiddleston-Kong: Skull Island, The Night Manager) adalah seorang dokter fisioterapi yang baru saja pindah ke lantai 25 gedung tersebut. Dia dan para penghuni apartemen hanya meninggalkan gedung untuk bekerja. Gym, kolam renang, supermarket, hingga tempat untuk berpesta ada semua di sana. Satu lantai di atasnya dihuni seorang perempuan seksi bernama Charlotte (Sienna Miller-Live by Night, American Sniper, The Lost City of Z) yang selalu dirayu oleh seorang filmmaker bernama Wilder (Luke Evans-Beauty and the Beast, The Girl on the Train, Furious Seven). Padahal Wilder memiliki seorang istri yang tengah hamil bernama Helen (Elisabeth Moss-Top of the Lake, Mad Men, On the Road) dan anak.

Laing sebenarnya bisa saja mencari apartemen yang lebih mewah mengingat penghasilannya tidak sedikit. Namun dengan alasan ingin suasana baru, dia memilih apartemen yang tidak bagus-bagus amat. Si perancang gedung mengundangnya ke hunian termewah di gedung itu dan masih ada yang belum terselesaikan.

Para penghuni apartemen kelas atas tidak pernah mengalami yang namanya mati listrik. Mereka merasa segalanya baik-baik saja. Gejolak-gejolak kemarahan makin meningkat. Lalu pecahlah kekacauan demi kekacauan di luar akal sehat. Orang-orang mengalihkan depresinya pada pesta-pesta gila. Seks di tempat umum. Fasilitas-fasilitas mulai dirusak. Sampah-sampah menumpuk. Bunuh diri dari ketinggian. Tidak ada aturan lagi. Mereka seperti tengah berada dalam medan perang. Anak-anak dikumpulkan dalam ruangan yang aman.

Laing mengecat kamar apartemennya. Tidak ada yang bisa dilakukannya di luar sana. Dia tidak mau bergabung dengan kelompok Royal, tidak pula bersekutu dengan Wilder yang makin buas. Dia mengundang Helen masuk ke dalam apartemennya dan mereka pun sejenak melepaskan kepenatan di dalam sana. Helen memang cantik meski tidak sebinal Charlotte.

Adegan-adegan dalam film ini banyak yang membuat saya mual. Terutama saat Laing melakukan tugasnya membedah kepala orang di depan dokter-dokter muda. Saya tahu itu hanya kepala dari bahan lateks, tapi kan ceritanya tetap kepala. Juga orang-orang yang berlumuran darah, kaki anjing yang dimasak, sampai pemerkosaan.

Trailer High Rise:

Jogja, 19 Maret 2017

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response