I Can’t Think Straight (2008); Film Cinta Gadis India dan Yordania

I Can’t Think Straight (2008); Film Cinta Gadis India dan Yordania
I Can’t Think Straight (2008);. Sumber gambar: IMDB

Dari judulnya aja, udah kebaca banget ya kalau film ini pasti beraroma LGBT, ditambah dengan poster film yang menampilkan sosok Lisa Ray (Tala) dan Sheetal Seth (Leyla). Ini adalah film bagi keduanya menjadi pasangan lesbian setelah The World Unseen. Dan Sheetal Seth ini sepertinya aktris-yang-paling-doyan-menerima-tawaran-berperan- sebagai-lesbian-entah-mengapa, karena di tahun 2011, dirilis film Three Veils.

Back to I Can’t Think Straight. Film ini mengambil teknik penceritaan maju, diawali dengan persiapan pesta tunangan Tala dengan Hani di Jordania. Pernikahan akan dilaksanakan dalam enam minggu ke depan. Tala merupakan sosok perempuan matang yang sangat percaya diri. Beberapa kali ia tunangan selalu pupus di tengah jalan karena alasan tidak cocok. Tala merupakan perempuan berdarah Palestina tapi dia sempat mengaskan bahwa tidak semua orang Arab adalah muslim. Kehidupan keluarganya di Jordania terbilang modern. Ia sendiri tinggal di London.

Oh ya, di film ini terasa aroma yang anti-Israel, mengingat latar belakang sejarang kedua bangsa tersebut memang tidak pernah akur. Tapi itu tidak menjadi konflik utamanya. Hanya intermezzo.
Konflik muncul ketika sahabat Tala yang bernama Ali, mengenalkan sang pacar, Leyla. Leyla ini adalah seorang perempuan berdarah India yang keluarganya berlatar belakang muslim, tapiLeyla sendiri juga tidak memerankan tokoh religius. Leyla adalah sosok yang kaku dan tertutup. Penamplannya jauh dari glamor. Ia menekuni hobinya sebagai penulis, dan diam-diam menyembunyikan orientasi seksnya yang lebih cenderung ke perempuan. Sedikir banyak adiknya ini tahu, tapi tidak mempersoalkan.
Tala mulai menyukai Leyla ketika ia membaca salah satu tulisan Leyla. Ia menduga sebenarnya mereka ini “sama”. Keduanya ini menjadi dekat ketika di Oxford. And there was something happend between them. Tapi di luar dugaan, Tala-yang awalnya vokal seputar kebebasan hidup-merasa mereka tidak mungkin masuk ke dunia yang tidak diterima orang banyak. Sementara Leyla berpendapat, mereka tidak merusak suatu apa pun.

Sepulangnya dari Oxford, Tala dan Leyla dikejutkan oleh kedatangan sang ibu dan Hani. Rupanya pernikahan mereka dipercepat. Sudah tidak ada pilihan lain, Tala memilih untuk mengakhiri hubungannya dan berpisah sementara Leyla memohon agar Tala mempertahankan hubungan mereka. Karena hubungan itu pantas untuk diperjuangkan.

Setelah berpisah, mereka lalu digambarkan punya kehidupan sendiri-sendiri. Dalam fase itu, Leyla sama sekali tidak mau bicara dengan Tala bahkan ia sudah punya pacar baru. Selain itu, dia juga memberanikan diri untuk terbuka pada keluarga meski pada awalnya ia berbuat dosa besar oleh sang ibu.

Tala kembali ke London dan kembali kehidupannya. Ia bertemu dengan Ali yang mengaku sudah diputuskan oleh Leyla. Di sebuah acara, keduanya bertemu tanpa sengaja, hanya waktunya tidak tepat. Dari situ, Tala hanya bisa menyimpulkan sebenarnya Leyla masih menyimpan rasa buat dia. Beberapa pihak kemudian membantu penyatuan mereka kembali.

Akhir dari dari film ini memang klise dan maksa sih, tapi siapa yang nggak suka dengan happy ending? Film garapan Shamim Sarif ini memang layak tonton lebih dari sekali, karena saya perlu mengingat wajah tokoh-tokoh yang sekilas tampak mirip.

Trailer I Can’t Think Straight:

Yogyakarta, 6 April 2014

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response