I, Tonya (2017); Biopic Figure Skater Dunia, Tonya Harding

in Film by
I, Tonya (2017); Biopic Figure Skater Dunia, Tonya Harding
I, Tonya (2017). Sumber gambar: IMDB.

I, Tonya mendapatkan 3 nominasi Golden Globes 2018 untuk kategori Best Performance by an Actress in a Supporting Role in a Motion Picture (Allison Janney), Best Performance by an Actress in a Motion Picture – Musical or Comedy (Margot Robbie), dan Best Motion Picture – Musical or Comedy dengan pesaing dari film The Disaster Artist, Get Out, The Greatest Showman, dan Lady Bird. Lawan-lawan yang cukup berat meskipun I, Tonya juga tidak main-main penggarapannya.

Margot Robbie mendapatkan saingan aktris terbaik dari Judi Dench (Victoria & Abdul), Saoirse Ronan (Lady Bird), Emma Stone (Battle of the Sexes), dan Helen Mirren (The Leisure Seeker).

Mengangkat kisah hidup Tonya Harding, seorang figure skater atau dalam bahasa kita diterjemahkan menjadi seluncur indah. Bukan ski es meskipun juga meluncur di atas lapisan es. Atlet kelahiran 12 November 1970 ini mendunia tidak hanya karena prestasinya di ajang Olimpiade, namun juga skandal kasus pemukulan yang membuat Nancy Kerrigan menderita cedera parah hingga membuat karier Tonya berakhir di tengah jalan sebagai hukuman atas perbuatannya.

Dalam film garapan sutradara berdarah Australia, Craig Gillespie ini, kita akan dibawa menyelusuri masa lalunya jauh sebelum Tonya menjadi salah satu dari delapan atlet perempuan yang mampu melakukan triple axel dengan sukses. Segalanya tidak dimulai secara instan. Sang ibu membawa Tonya ke sebuah tempat pelatihan seluncur indah di saat usianya masih 4 tahun, sempat ditolak karena masih terlalu kecil. Tapi Tonya bukan anak kecil biasa, dia belajar dengan sangat cepat dan menjuarai sejumlah turnamen dengan pesaing yang usianya jauh di atasnya.

Menginjak usia lima belas, dia berkenalan dengan si kumis Jeff Gillooly (Sebastian Stan), cinta pertama sekaligus kelak menjadi suaminya. Jeff selain berkumis juga senang memukul Tonya ketika mereka bertengkar. Adakalanya Tonya berniat meninggalkan pria itu, tapi kalau bukan Tonya, Jeff yang kemudian mengemis-ngemis minta balikan. Keduanya masih saling cinta. Jeff memang tidak setampan Perry Wright di serial Big Little Lies yang juga sangat abusive, tapi dia tipe suami yang setia dan yeah, melankolis. Walaupun itu kemudian berujung pada sebuah rencana jahat terhadap saingan berat Tonya di lapangan es.

Hubungan Tonya dengan sang ibu, LaVona Golden (Allison Janney) semenjak kecil sudah tidak baik. Keduanya sering bertengkar. Tonya adalah anak dari suami kelima. LaVona Golden seorang ibu yang keras, itu kemudian secara tidak langsung menurun pada Tonya, menjadikan gadis itu punya sifat yang keras kepala, tapi di sisi lain, obsesi LaVona Golden patut dipuji karena dengan begitu, Tonya masuk dalam ranah Olimpiade dan namanya membanggakan negara juga dunia.

Kelebihan Tonya adalah  kemampuannya untuk melakukan triple axel, teknik tersulit dalam seluncur indah, yaitu berputar tiga kali di udara dan mendarat dengan sukses. Saya akui, Margot Robbie masih jauh lebih baik ketimbang Emma Stone saat bermain tenis di Battle of the Sexes, tapi itu tidak membuatnya mampu benar-benar melakukan gerakan itu tanpa sentuhan CGI. Margot Robbie sudah punya dasar seluncur indah, ditambah dengan program latihan intens dan koreografi sebelum syuting dimulai, dia sudah cukup berhasil merepresentasikan sosok atlet yang diinginkan.

Film I, Tonya dihadirkan dengan menggabungkan antara wawancara—dengan Tonya, sang mantan suami yang berkumis itu, teman si mantan suami yang merencanakan pemukulan terhadap saingan Tonya, sang ibu yang dingin, dan mantan pelatih Tonya di waktu dan tempat berbeda-beda digabungkan reka adegan dengan sesekali tokohnya berbicara langsung ke kamera untuk menyangkal atau memperkuat asumsi. Jadilah nuansa komedi ikut mengalir dalam cerita yang ditulis skenarionya oleh Steven Rogers.

Kejayaan Tonya berakhir seperti halnya Lance Amstrong gegara terkait doping. Keduanya tidak berhenti begitu saja dari dunia olahraga. Lance masih mengikuti sejumlah turnamen triathlon sementara bawaan abusive Tonya dialirkannya pada olahraga tinju.

Dalam film I, Tonya yang berdurasi 119 menit ini, kita akan dibawa tidak hanya mengenal sosok Tonya Harding yang melegenda, tapi juga kerasnya persaingan dalam seluncur indah dan betapa terkadang angka yang didapatkan dari sebuah turnamen tidak murni semata-mata dari kemampuan, tapi juga imej yang dibangunnya di luar sana. Realitas yang sangat konyol tapi nyata.

Trailer:

Jogja 1 Januari 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

Latest from Film

Partners Section:

best thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appfree iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8
error: All contents protected, please contact email below to copy
Go to Top

Powered by themekiller.com sewamobilbus.com caratercepat.com bemp3r.co