It’s Only the End of the World (2016); Film Tentang Kehebohan Saat si Anak Kedua Pulang

It's Only the End of the World (2016); Film Tentang Kehebohan Saat si Anak Kedua PulangIt’s Only the End of the World (2016). Sumber gambar: IMDBIt’s Only the End of the World (2016) berjudul asli Juste la fin du monde berhasil memenangkan Grand Prize of the Jury dan Prize of the Ecumenical Jury Cannes Film Festival 2016. Best Actor, Best Editing, Best Director di ajang César Awards 2017.

Diadaptasi dari naskah drama karya Jean-Luc Lagarce oleh sutradara muda berdarah Kanada, Xavier Dolan (Mommy, Laurence Anyways). Dia mengundang 5 aktor Prancis untuk bertandang ke Quebec saat proses pengambilan gambar yang hanya 6 hari. Di sana ada Nathalie Baye (Catch Me If You Can, Le petit lieutenant) sebagai ibu; Vincent Cassel (My King, Tale of Tales, Beauty and the Beast) sebagai Antoine; Marion Cotillard (From the Land of the Moon, La Vie en rose, Allied) sebagai Catherine, istri Antoine; Léa Seydoux (Blue is the Warmest Color, Spectre, The Lobster) sebagai si bungsu Suzanne; Gaspard Ulliel (La danseuse, Saint Laurent, Hannibal Rising) sebagai Louis-Jean, si anak kedua yang minggat dari rumah.

Drama yang bersetting waktu hanya beberapa jam ini menghadirkan konflik keluarga yang sederhana namun memancing penonton merasa ketar-ketir sendiri. Kedatangan Louis-Jean—yang telah 12 tahun pergi dari rumah—terbilang mendadak. Ibu dan si bungsu masih sibuk di dapur ketika taksi yang mengantar Louis berhenti di depan rumah. Selain memikirkan makanan, ibunya pun berpakaian dan berdandan dengan make-up yang berlebihan hingga mirip transgender demi menyambut putra kesayangannya yang gay. Mengomel-ngomellah Suzanne hingga terdengar oleh Antoine dan Catherine yang melihat ke luar dari jendela.

Semenjak Louis datang, kita disuguhkan dengan pertengkaran antarsaudara sedarah. Antoine dan Suzanne tidak ada akrab-akrabnya, meskipun di tengah-tengah mereka ada Catherine yang hanya berstatus menantu.

Louis adalah pria kalem dan banyak tersenyum. Dia sudah terbiasa dengan keributan-keributan itu. Hanya saja, dia masih merasa asing dengan keberadaan Catherine dan Suzanne. Ketika dia pergi, adiknya itu masih kecil dan bahkan tidak ingat padanya. Sekarang, Suzanne sudah menjelma gadis cantik dengan tato dan kebiasaan merokok.

Tidak bisa dipungkiri, ada yang mengganjal dengan kehadiran Louis. Semua orang menyadari itu, tapi mereka menyimpan dalam batin masing-masing. Louis datang memang tidak tanpa maksud. Dia ingin mengabarkan pada mereka, bahwa dirinya sekarat. Dia menunggu momen yang tepat untuk bicara, di tengah-tengah orang yang sedikit-sedikit saling lempar umpatan. Bahkan ketika umpatan itu diarahkan kepadanya dari sang kakak yang benci betul padanya.

Catherine pun berusaha untuk mengakrabkan diri, dengan bahasanya sesekali salah ucap. Saya jujur tidak paham kesalahan ucap apa yang dilakukannya, tersebab saya tidak punya bekal bahasa Prancis. Suzanne mengajak Louis melihat kamarnya, memperlihatkan kartu pos yang dikumpulkannya. Mereka semua punya kartu pos.

Selama jauh dari rumah, Louis seakan menjaga jarak. Dia jarak menulis surat ataupun berusaha mendekatkan diri pada sang adik. Ibunya membahas akan hal itu ketika mereka berbicara berdua. Ibunya berharap dia mau setidaknya mengundang Suzanne untuk mengunjunginya sekali waktu.

Sementara, ketika bicara empat mata dengan Antoine saat membeli rokok, kakaknya seperti enggan mendengarkan kisah apa pun darinya. Ketika Louis menceritakan kedatangannya, Antoine mengatakan itu sama sekali tidak penting. Antoine menutup dirinya rapat-rapat. Dia paling sinis dan dingin.

Dengan Catherine, Louis tidak punya bahan yang bisa dibicarakan. Catherine adalah sosok yang takut dengan sang suami. Berada di balik bayang-bayang Antoine.

It’s Only the End of the World adalah kejadian beberapa jam saja. Dibuka dengan kedatangan dan ditutup dengan kepergian. Louis menyadari kedatangannya hanya memancing keributan di antara orang-orang yang menyukainya dan yang antipati padanya. Ibunya tahu, Louis ingin menyampaikan sesuatu, tapi Antoine malah membuat alasan untuk mengantar Louis pergi dari sana.

Ada kalanya, kita harus mengalah. Kehadiran kita bisa jadi menjadi duri bagi orang lain. Terlebih sejak remaja, orientasi seksual Antoine tidak ditutup-tutupinya. Lelaki yang pernah menjadi teman dekatnya dulu sudah meninggal. Maka, lebih baik pergi saja dan biarkan keluarga kembali tenang. Kematian itu adalah sesuatu yang pasti. Suatu saat, mereka toh pasti akan tahu.

Saya menyukai teknik penyuntingan gambar yang dilakukan sendiri oleh sang sutradara. Ada momen-momen yang dipercepat, dibuat blur, lalu angle pengambilan gambar, dan teknik digital juga.

Film ini mendapat sambutan kritikus di Prancis, namun dicela habis-habisan oleh kritikus Inggris dan Prancis.

Trailer It’s Only the End of the World:

Jogja, 18 Maret 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response