Jalan Kaki Santai dari Spot Riyadi Hingga Candi Ijo

Jalan Kaki Santai dari Spot Riyadi Hingga Candi Ijo
Jalan Kaki Santai ke Candi Ijo.

Kemarin, saya dan beberapa teman kantor mengagendakan sebuah acara jalan kaki bareng dengan tujuan Candi Ijo. Buat anak sepeda, Candi Ijo merupakan spot yang cukup mencemaskan dengan elevasi yang cukup tinggi. Saya termasuk yang belum berani ke sana dengan alasan… belum siap lahir batin. Jarak tempuhnya memang tidak sejauh ke Pakem, tapi turunannya curam.

Kami memulai jalan dari Spot Riyadi. Motor dititipkan di sana yang parkirannya cukup luas. Dari terakhir kali saya ke sana, banyak bangunan baru. Tidak hanya meja-meja dan bangku-bangku kayu yang terlindungi atap, tapi juga ada jembatan untuk selfie dan camping ground. Tidak hanya pesepeda yang senang kemari, wisatawan lokal kekinian pun tidak mau kalah. Tempat ini buka dari pagi, mengingat salah satu andalannya adalah spot sunrise. Kalau untuk spot sunset adalah di Candi Ijo.

Kami membeli perbekalan dan setelah menanyakan arah kepada di pemilik warung, kami pun berangkat sekitar pukul 7 pagi. Hari tampak mendung, berharapnya sepanjang hari akan seperti seperti ini.

Jalan yang kami lewati adalah jalan setapak dengan lapisan semen. Sesekali kami melewati rumah penduduk yang tampak sepi. Mungkin juga ada yang kosong. Saya salah memilih sepatu. Beberapa kali saya nyaris tergelincir ketika menginjak jalan berbatu karena mengenakan sneakers. Pakai sandal gunung jauh lebih aman. Ah, apa boleh buat. Saya bahkan tidak menyangka akan melewati rute yang sama ketika bersepeda ke Tebing Breksi beberapa waktu lalu. Minimnya infrastruktur saya rasa membuat Spot Riyadi dan beberapa spot terdekat sulit menarik minat pengunjung. Buat apa dibangun sedemikian rupa kalau jalanannya saja membahayakan orang?

Jalan Kaki Santai dari Spot Riyadi Hingga Candi Ijo

Kami sempat salah mengambil jalan yang malah mengantarkan kami ke Candi Barong. Candi ini menurut saya termasuk yang terawat, tapi ya, lagi-lagi perkara jalanan yang tidak memadai. Tiket masuk ke Candi Barong hanya 5.000 per orang. Ada serombongan pesepeda yang juga tengah mengaso di sana. Mereka sekilas melihat ke arah saya yang sengaja mengenakan jersey sepeda. Hanya jersey yang paling nyaman dipakai dengan matahari yang pasti akan sangat menyengat.

Setelah bersantai sejenak, kami putar balik menuju jalan yang ditunjukkan penjaga loket. Sedari awal, dia sudah bilang bahwa jarak yang akan kami tempuh itu jauh. Padahal, itu hanya sekitar 2 kilometer kok. Segitu jauh? Apa kabar saya yang pernah jalan kaki 16 kilometer?

Jalan kaki memang dianggap sebagai sebuah olahraga superberat ketimbang bersepeda meskipun jika membandingkan kalori yang terbakar, bersepeda mampu membakar kalori tiga kali lipatnya. Ditambah lagi, kami mungkin dilihat seperti orang yang mau piknik. Padahal, saya saja sampai lupa pakai sunblock hingga pasrah jika muka nantinya akan semerah kepiting rebus selama beberapa hari.

Jalanan yang kami lewati sebelum menemukan aspal mulus adalah bebatuan. Di kanan kiri adalah pohon-pohon jati yang meranggas karena musim kemarau panjang. Tanah-tanah kering meretak menjadi bongkahan-bongkahan. Matahari mulai terasa menyengat. Saya menaikkan masker sampai ke pangkal hidung. Itu memang tidak akan membebaskan saya dari efek terbakar, setidaknya mengurangi sedikit deh.

Jalan Kaki Santai dari Spot Riyadi Hingga Candi Ijo

Sebelum sampai di Candi Ijo, kami mampir dulu di Tebing Breksi. Salah satu dari teman saya belum pernah ke sana. Sekali jalan, kenapa tidak? Kami sengaja masuk menghindari petugas parkir. Setahu saya memang tiket masuknya gratis, dan kami tidak memarkirkan apa-apa. Mengapa harus membayar?

Di atas Tebing Breksi panasnya luar biasa. Tapi tidak menutupi antusiasme pengunjung yang datang dengan kendaraan pribadi maupun bus-bus besar. Ada panggung untuk acara keesokan harinya. Hari Sabtu memang tidak seramai hari Minggu, maklum masih ada yang memberlakukan 6 hari kerja. Kami lalu sekalian makan di salah satu warung yang tersedia. Berhubung porsinya kecil, tidak sampai kenyang betulan. Perut memang rasanya minta makan terus. Sehabis makan dan jalan sedikit, perut saya sudah lapar. Botol minum saya yang berisi satu liter Pocari Sweat masih tersisa seperempatnya. Asal tahu saja ya, meski direkomendasikan untuk menenggak minuman ion saat beraktivitas berat, rasanya rindu juga dengan air putih. Dan begitu menenggak air putih, setengah botol langsung habis.

Jarak dari Tebing Breksi ke Candi Ijo hanya 1 kilometer dengan masih menanjak tanpa ampun. Rasanya ingin melambaikan tangan pada kendaraan yang lewat agar mau membawa kami ke tempat tujuan. Di Tebing Breksi ada jip tur dengan rute Tebing Breksi-Candi Ijo. Ah, kami kuat kok. Sempat tertipu juga sih dengan plang dengan tulisan Candi Ijo, ternyata hanya pos jumputan ke Candi Ijo.

Tidak ada orang selain kami yang nekat berjalan kaki. Bule-bule saja yang terkenal senang berjalan kaki, eh malah naik kendaraan. Kalau dipikir-pikir, kami emang mungkin lagi nggak waras ya.

Jalan Kaki Santai dari Spot Riyadi Hingga Candi Ijo

Di Candi Ijo, kami rehat sejenak. Keringat saya bercucuran parah. Punggung tangan saya mulai memerah semenjak di Tebing Breksi. Saya sengaja menghindari cermin karena muka saja pasti merahnya level darurat. Kami memikirkan di mana tempat untuk makan. Teman-teman saya mungkin terlalu malu untuk mengakui bahwa perut mereka lapar. Saya sih tidak.

Panasnya cuaca tengah hari sudah membuat sebelah kepala saya terasa sakit. Ini biasanya berlangsung semalaman. Salah satu cara untuk menangkal sebelum menjadi penyakit adalah makan banyak dan minum panas. Tapi, apa boleh buat, karena kami tidak langsung pulang, tubuh saya ngambek. Sakit kepala makin parah. Kaki tidak terasa pegal, secara speed exercise membuat otot kaki cepat menguat. Sebelum azan Maghrib, saya sudah memakai jaket dan berselimut, plus kepala dan badan sudah dibalur minyak angin. Ini adalah fase yang paling saya benci dari diri saya setelah beraktivitas di bawah matahari terik. Jam 9 saya sempat terbangun, makan sedikit lalu tidur lagi. Sakit kepalanya masih belum juga minggat. Barulah besok paginya saya bangun dengan kepala yang sudah terasa ringan.

Saya lalu lanjut bersepeda yang saya rasa cukup untuk mengumpulkan tenaga kembali. Mengeluarkan racun-racun dari tubuh, entah itu racun dari gorengan, polusi udara, dan hal-hal berbahaya lainnya, dari keringat. Now, I feel really fine.

Sumber foto: Dok. TapakRantau, Ferdika, Desy Wijaya

 

Jogja, 24 September 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response