Jalan Kaki Massal di The 7th Jogja International Heritage Walk 2015

Jalan Kaki Massal di The 7th Jogja International Heritage Walk 2015
Jalan Kaki Massal. Sumber gambar: TapakRantau

Adalah sebuah keasyikan jika di akhir minggu bisa benar-benar meluangkan waktu untuk kebutuhan olahraga tubuh, meninggalkan semua beban pikiran, memuaskannya hingga yang tersisa adalah kelelahan di kemudian hari. Hey, Sabtu bukan lagi hanya liburnya kaum Yahudi dari berbagai aktivitas. Maka, saya ikutlah program tahunan jalan kaki: The 7th Jogja International Heritage Walk. Acara berlangsung 2 hari, 14 dan 15 November. Hari pertama untuk jelajah kompleks Candi Prambanan dan sekitarnya. Hari kedua bagi yang berminat mengeksplorasi Imogiri. Jarak tempuh pun ada banyak pilihan. Yang saya dan rombongan teman-teman sekantor saya pilih adalah 10 kilometer. Saya jujur saja tidak ada bayangan jalan kaki sepuluh kilometer akan seperti apa rasanya dan berapa lama waktu yang dibutuhkan. Tapi dari 3 pilihan jarak tempuh; 5, 10, 20, lebih baik tengah-tengah saja kan?

Untuk mendaftarkan diri di acara jalan kaki skala internasional ini memang sangat mudah, tinggal hubungi panitia aja. Di website penyelenggara disediakan form pendaftaran, tapi rasanya kurang mantap. Acara yang ber-tagline: Save the Nature Respect the Culture ini tidak hanya kalangan orang Indonesia, tapi juga mancanegara dari sejumlah negara, seperti Korea, Jepang, Austria, dan lainnya ditandai dengan kibaran bendera-bendera selain merah putih.

Start pagi peserta jalan kaki 20 kilometer dimulai pukul 6. Ya, tentu saja mereka memang kudu berangkat lebih awal karena perjalanannya dua kali lebih jauh dari rute kami. Saya tidak habis pikir, mereka ini mungkinkah semenjak kecil memang tidak pernah naik kendaraan, sehingga terbiasa jalan jauh, atau bagaimana. Yang pasti barulah satu setengah jam kemudian peserta 10 kilometer meninggalkan garis start. Bisa jadi mereka finish sebelum kami.

Cuaca hari itu cerah. Syukurlah ketimbang hujan dan tidak terbayang betapa menyiksanya itu nanti. Kecerahan langit berlanjut sampai malam hari rupanya. Kami berlima memulai jalan kaki dengan santai, tidak seperti rombongan orang-orang asing yang langsung melesat dengan langkah-langkah dan panjang. Tidak menikmati pemandangan indah candi-candi, atau memang mereka sudah pernah melihat Prambanan sebelumnya. Lagi pula perjalanan ini panjang, mau hemat tenaga ceritanya.

Jalan Kaki Massal di The 7th Jogja International Heritage Walk
Candi Plaosan

Candi demi candi kami lewati. Candi Bubrah, Lumbung, Sewu, Plosan.  Jalanan setapak, melewati rumah-rumah warga, melewati persawahan, dengan petugas pramuka yang ditempatkan di setiap penunjuk arah. Saya sempat bertanya para salah satu petugas, mulai dari jam berapa mereka di sana. Pukul 6 pagi katanya. Rasanya tentu zhalim sekali jika mereka-mereka dengan tugas begitu menyiksa hanya dibayar seratus ribu. Sebagian besar titik penempatan mereka hanya diisi satu orang. Dan mereka selalu tegap berdiri ketika para peserta lewat. Kapan mereka duduk, sayangnya itu tidak sempat saya tanyakan.

Rute kami jujur saja sangat menyenangkan. Kami dibekali peta dan saya malas melihat peta yang membuat saya meragukan validitas jarak tempuh ini. Apakah tepat sepuluh kilometer atau lebih. Saya bukan seorang pejalan kaki yang rutin. Sejak kilometer pertama saya mulai merasakan lelah. Terlebih matahari bersinar tepat waktu. Inginnya selalu minum saja, tapi terlalu banyak minum selain menghabiskan perbekalan, juga akan menghambat gerak tubuh. Karena rombongan, kami sesekali berhenti. Tapi berhenti tidak berarti mengembalikan energi, tapi membuat otot terasa lebih lelah.

Ada 3 check point yang disediakan. Kami hanya melewati 2 check point saja. Di sana sudah didirikan tenda dengan minuman, buah, dan menu khusus untuk para peserta internasional. Apalah daya, kami hanyalah inlander yang mendapat jatah air mineral gelas dan buah semangka potongan kecil-kecil. Sementara rumput tetangga jauh lebih hijau dan menyegarkan. Cemburu memang tidak ada gunanya. Mereka tentu membayar lebih mahal untuk air mineral, minuman soda (walaupun aneh ketika sedang olahraga minum soda yang tidak baik untuk lambung), handuk dingin, dan es krim (ini juga pilihan yang aneh).

Peserta orang Indonesia jarang kami temui, atau mungkin mereka sudah jauh di depan kami yang sibuk mencari bahan untuk ditertawakan. Hey, kapan lagi bisa tertawa sesukanya? Tapi tawa kami harus berhenti karena salah satu teman merasa sakit. Untung kami berada di dekat check point. Tapi saya sayangkan karena tidak ada tenaga medis yang stand by di sana. Untuk acara dengan peserta sebanyak ini, saya rasa panitia lupa mempertimbangkan soal peserta yang butuh pertolongan cepat sewaktu-waktu. Menunggu ambulans saja harus bersabar seperempat jam. Lalu datanglah petugas dengan ambulans yang tanpa memeriksa teman saya, langsung memberikan obat sakit mag. Saya punya kakak dokter yang sangat galak dengan obat. Ayah saya saja pernah dimarahi karena memberi obat sakit kaki pada tetangganya yang juga sakit kaki. Obat bukan permen yang bisa diberikan tanpa pemeriksaan. Simbol obat adalah ular. Tahu sendiri ular punya bisa yang selain mengobati, juga mampu membunuh. Teman saya kemudian diantarkan ke dekat garis finish dan ditinggalkan begitu saja menunggu kami sampai. Tidak ada perawatan lebih lanjut, setidaknya memastikan sakit teman saya mereda.

Empat jam lebih baru kami melewati garis finish. Panasnya luar biasa dan tenggorokan tetap saja terasa kering meski sudah minum secukupnya. Semau rasa pegal berpusat di kaki. Luar biasa. Terakhir saya merasa seperti ini ketika hiking di Air Terjun Kedung Kayang dengan medan yang panjang dan bertangga-tangga. Rasanya keringat sudah tidak mampu lagi keluar dari pori-pori. Teman-teman saya pun bergeletakan di atas hamparan rumput di bawah pohon. Tapi, rasa lelah ini benar-benar menyenangkan. Lain kali saya hendak ikut lagi!

NB: Jika ingin ke Prambanan dari Jogja naik taksi, pastikan dulu tarifnya. Karena setengah kompleks Prambanan sudah berada di Jawa Tengah sehingga hitungannya bukan argo, tapi tarif luar kota.

 

Jogja, 18 November 2015

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response