Jalur Selo Jawa Tengah; Menyusuri Gunung dengan Kelokan-Kelokan Tajam

Jalur Selo Jawa Tengah; Menyusuri Gunung dengan Kelokan-Kelokan Tajam
Jalur Selo Jawa Tengah

Setelah jalan-jalan ke Ketep Pass dan Air Terjun Kedung Kayang, jalur pulang yang saya pilih adalah via Selo kemudian Boyolali menuju Klaten dan Yogya. Rute yang baru terpikirkan oleh saya ketika masih berada di Kedung Kayang. Seperti halnya melewati jalanan yang berada di area gunung, identik dengan yang namanya kelokan-kelokan tajam, tanjakan dan turunan yang silih berganti. Saya sangat menikmati jalur ini, hingga bertemu dengan aspal yang mulai rusak. Saya tidak menghitung seberapa panjang kerusakan itu tapi bagi pengendara motor, sangat berbahaya.

 

Kecepatan saya tidak pernah lebih dari 60 KM/jam demi keamanan sendiri. Kendaraan roda 4 pun juga menurunkan kecepatan baik dalam kondisi jalanan sepi maupun cukup ramai.

Pemandangan hijau di kiri dan kanan yang hijau memang sangat menggoda mata ditambah lagi dengan udara yang dingin. Saya memakai jaket tebal dan udara masih juga terasa dingin. Perhatian saya kemudian semakin terfokus pada jalanan ketimbang pemandangan ketika kondisi jalan bukannya makin membaik, tapi kuantitas lubang-lubang semakin parah saja.

Hingga, mungkin saya begitu lelah hingga ban motor slip dan menjatuhkan saya sekaligus motor di jalanan yang sepi. Untungnya, kondisi jalan sepi dan kecepatan motor tidak tinggi. Motor saja terseret sampai tengah jalan dan satu-satunya benda yang paling saya cemaskan adalah: kaca mata. Setelah memastikan aman, barulah saya melihat kulit pungung tangan kiri saja sedikit terkupas juga di telapak tangan, lalu seperti biasa, lutut selalu menjadi sasaran. Saya hanya mengenakan celana kain sehingga terbayang sakitnya seperti apa. Dan kelak menjadi dua memar yang masing-masing sebesar genggaman tangan saya. Ada seorang bapak yang datang mengampiri dan memberdirikan motor saya lalu menepikannya dan seorang lelaki menyakan apakan saya baik-baik saja. Dengan mengangguk-angguk saya mengatakan saya baik-baik saja sambil memegangi lutut kiri.

Saya duduk beberapa saat sementara beberapa kendaraan lewat dengan kecepatan rendah. Setelah merasa cukup kuat, saya pun beranjak. Saya ucapkan terima kasih kepada bapak yang menolong saya tadi dan berjalan terpingcang-pincang ke motor saya. Footstepnya bengkok parah dan spionnya longgar. Sudahlah, motor ini memang sudah sekian kali terjatuh dan jatuhnya selalu bareng-bareng saya.

Hikmahnya, huff, pertama, berani bermain api berarti siap terbakar. Berani naik motor berarti risiko jatuh sudah suatu yang harusnya dipikirkan sejak awal. Kedua, mengancingkan helm adalah sebuah pengamanan yang sering diabaikan orang. Percayalah, itu akan sangat berguna ketika motor oleng dan kepala adalah organ tubuh yang sangat vital untuk dilindungi. Pusat kontrol saraf ada di sana. Dan untuk trip panjang-trip dalam kota juga iya sih-pastikan helmnya yang benar-benar pas dan nyaman di kepala. Ketiga, melewati jalan berbatu lebih aman ketimbang aspal bolong menurut saya. Kalau jalan berbatu, sejak awal kita nggak bakal kencang-kencang, sementara jalan aspal bolong-bolong tangan dan kaki harus rajin naik turun gigi dan main rem. Kalau motor oleng, jangan dilawan. Biarkan jatuh aja dan biarkan Tuhan memperlihatkan kebaikan dengan tidak membuat tulang patah atau mencabut nyawa seketika itu. Keempat, tunaikan shalat kalau sudah waktunya. Kelima, makan kalau sudah lapar. Keenam, istirahat kalau ngantuk.Ketujuh, pastikan kondisi rem depan dan belakang sama-sama prima. Ketujuh, jangan trauma. Jangan kapok untuk berkendara motor karena selalu ada keseruan di dalamnya.

Yogyakarta, 8 Februari 2015

Leave a Response