Janji Kecil di Tanah Dewa; Bahas Cerpen Rosanti Dwi Septiyani

Cerpen Janji Kecil di Tanah Dewa ditulis oleh Rosanti Dwi Septiyani dan termuat dalam antologi Gadis 360 Hari yang Lalu hlm. 145-159. Dan berikut sedikit bahasannya.

Tema 
Cinta lama yang bersemi kembali
Plot dan alur
Cerpen ini menggunakan alur maju dengan beberapa tahapan adegan:
  • Lian datang ke Serayu untuk menemui adik-adik tingkatnya yang akan berarung jeram
  • Bertemu dengan sosok Wisnu mantan kekasih dua tahun yang lalu.
  • Menghabiskan 3 hari bersama Wisnu dan kawan-kawannya.
  • Melakukan penelitian bersama Wisnu di Kompleks Candi di Dieng
  • Berciuman dan membuat janji untuk menyambung hubungan keduanya
Konflik
  • Konflik internal: dirasakan oleh Lian ketika ia bertemu kembali dengan sosok Wisnu, mantan kekasih yang dahulu pernah berpacaran dengannya selama enam bulan.(Sadar, Lian! Dia muridmu! Aku berteriak di dalam hati. Berusaha mengembalikan kesadaran otak yang hampir terhipnotis lagi olehnya. Oleh mata cokelatnya. Oleh senyumnya. Oleh segala hal yang ternyata tidak sedikit pun berubah setelah hampir dua tahun kami tidak bertemu. (hlm. 148)).
  • Konflik eksternal: bagaimana tokoh si Aku (Lian) menghadapi pandangan masyarakat terhadap hubungan dirinya dengan seorang lelaki yang usianya 7 tahun lebih muda.(Sekarang aku mulai berpikir tentang seorang dosen yang memacari mahasiswanya. Salahkah? Bukankah banyak dari rekanku yang juga memacari mahasiswinya? Apa karena aku wanita? Bukankah selama ini orang-orang terdidik itu terus berteriak tentang kesetaraan gender? (hlm. 152)).
  • Tahap penanjakan konflik: terjadi penanjakan konflik semenjak tokoh Aku bertemu dengan Wisnu, merasa salah tingkah sementara Wisnu bersikap biasa terhadapnya. Diceritakan bahwa selama dua tahun, ia memutus komunikasi dengan mantan kekasihnya.
  • Klimaks: klimaks dari konflik dalam cerita ini terjadi ketika keduanya berciuman di depan Candi Dewa Wisnu sebagai penjawab pertanyaan dari Aku mengenai perasaan Wisnu kepada dirinya. (Kedua tangannya meraih wajahku. Tepat di pipi. Memberikan sentuhan hangat yang mampu membuat dinginnya Dieng tak lagi terasa. Hanya kami. Hanya aku dan dia. Aku merasa seperti segala kegundahanku menghilang. Tidak ada lagi masa lalu yang menyedihkan, atau cibiran orang-orang itu. Hanya kami. Sekarang. Di sini. Tanpa ada bayangan kenangan itu lagi. (hlm. 157)).
  • Penyelesaian: sebuah janji yang diucapkan Wisnu kepada Aku bahwa ia akan menyelesaikan kuliahnya yang tinggal 1 semester lagi dan meminta Aku untuk menunggunya.(“Just answer it! Do you love me?” tanyanya dengan keyakinan yang jauh lebih besar dari sebelumnya. “Yes. Tapi, kamu harus tanyakan itu lagi satu semester dari sekarang. Aku akan menunggumu,” jawabku. (hlm. 158)).
Tokoh dan penokohan
  • Aku (lirik) atau yang disebut bernama Lian (Lian sebagai tokoh utama protagonis. Dalam cerita ini merupakan seorang mahasiswi yang tengah menempuh pendidikan S2 di Aberdem, Skonlandia, jurusan arkeologi (hlm. 150). Sosok yang sangat menyukai sungai dan arung jeram (hlm. 146). Di sisi lain tidak berani melawan tatanan dalam masyarakat yang memandang rendah hubungan antara seorang perempuan dengan lelaki yang jauh lebih muda (hlm. 152). Namun di akhir menunjukkan perubahan menjadi sosok yang berani berkomitmen (hlm. 158)).
  • Wisnu (Wisnu di dalam cerita ini menjadi tokoh utama protagonist. Seorang mahasiswa tingkat akhir yang menuju proses penulisan skripsi (hlm. 154). Sosok pemanjat yang berbakat di kelompok pencinta alam (hlm. 151). Seorang laki-laki setia yang menunggu mantan pacarnya kembali dari studi di luar negeri (hlm. 158)).
  • Edo (Edo memegang peranan sebagai tokoh pembantu. Teman seangkatan Lian yang setia dengan dunia arung jeram (hlm. 150). Sosok yang sangat mengenal pribadi seorang Lian (hlm. 150)).
  • Ratna (Ratna juga merupakan tokoh pembantu. Tidak menegang peranan penting, kecuali hanya muncul pada bagian awal cerita, yang menyambut dan mengangkatkan tas Lian (hlm.145-147))
Setting
  • Sungai Serayu
  • Dieng
Jogja, 13 Juni 2014

Leave a Response