Jenny’s Wedding (2015); Film Tentang Pernikahan Sejenis si Anak Kesayangan

Jenny’s Wedding (2015); Film Tentang Pernikahan Sejenis si Anak Kesayangan
Jenny’s Wedding (2015). Sumber gambar: IMDB

Jenny’s Wedding mengingatkan saya akan Saving Face. Plot ceritanya tidak persis sama, tapi yang cepat membuat ingatan saya kembali akan film tersebut adalah pasangan Jenny (Katherine Heigl-Grey’s Anatomy) dan Kitty (Alexis Bledel-Gilmore Girl) tidak jauh beda dengan tipikal Will (Michelle Krusiec) dan Vivian (Lynn Chen). Orang tidak dengan mudah ngeh jika mereka bukan hanya sahabat tapi pasangan. Maskulin dan feminin menjadi konsep yang sangat samar. Samar artinya tetap ada meski tidak penting terlalu ditonjolkan.

Konflik utama Jenny’s Wedding muncul ketika Jenny memutuskan untuk menikahi partner yang telah lima tahun hidup bersamanya, Kitty. Mengapa Jenny menyembunyikan hubungan cintanya hingga begitu lama dari orang tua dan saudara-saudaranya, tentu karena dia tahu, keluarganya tipe tradisional yang tidak akan mudah menerima hubungan yang tidak biasa, tidak tradisional. Ibunya selalu berusaha mempertemukan Jenny dengan pria-pria baru setiap ada acara kumpul keluarga. Will juga mengalami hal yang sama saat dirinya datang ke Chinatown karena dipaksa ibunya, kan?

Jenny punya kehidupan yang sangat biasa dan tertutup. Dia tidak bergabung dengan komunitas lesbian, punya teman-teman lesbian, menjadi aktivis pembela hak asasi LGBT, dan sebagainya. Maka, wajar jika tidak ada yang sampai berpikiran, Jenny tidak tertarik pada laki-laki.

Setelah merasa yakin Kitty adalah teman hidup hingga akhir hayat, Jenny pun berbicara pada orang tuanya. Dia menghadap tidak untuk meminta persetujuan, tapi hanya mengabarkan. Pernikahan itu akan tetap terlaksana, meski keduanya tidak merestui. Jenny dan Kitty sudah punya kehidupan yang mapan. Tinggal di kondo, punya pekerjaan yang settle. Tak ada kurangnya lagi. Kurang punya surat nikah aja.

Sumber gambar: moviecracy.blogspot.co.id

Konflik yang adalah sepanjang Jenny’s Wedding tidaklah terlalu sulit untuk ditebak ujungnya akan seperti apa. Melihat keseriusan Jenny dan Kitty, pernikahan itu pasti tetap akan terjadi dengan atau tanpa keluarga dari pihak keluarga Jenny. Ada juga konflik sampingan, seperti misalnya hubungan Anne, adiknya Jenny dengan sang suami yang mulai ke arah retak. Sang suami sering pulang malam dan tidak peduli dengan rumah. Ada pula, teman-teman Rose, ibu Jenny, yang selalu ingin ikut campur dan mereka diam-diam membicarakan Jenny yang akan menikah dengan sesama perempuan sebagai sebuah ketidaknormalan. Juga sayang ayah yang waswas jika hubungan anaknya sampai ke telinga teman-temannya ke sesama pemadam kebakaran.

Jenny adalah anak kesayangan dalam keluarga. Wajar ketika dia berbuat sesuatu yang mengecewakan, dampaknya akan jauh lebih dahsyat. Setiap keluarga pasti ada anak kesayangan. Biasanya anak nomor satu. Dia akan menjadi bahan perbandingan oleh orang tua dengan anak-anak selanjutnya. Dia selalu menjadi sosok yang lebih bersinar. Kakak saya juga begitu dan lama-kelamaan, tiap-tiap anak akan paham dengan sendirinya bahwa bukan berarti orang tua tidak menyayangi yang lain. Tapi anak pertama seperti sebuah pembuka sejarah dalam keluarga. Namun dengan berjalannya waktu, rasa sayang itu pun akhirnya akan bergeser, tergantung mana anak yang lebih sayang pada orang tua. Mana yang lebih patuh pada orang tua. Saya jauh dari kategori itu.

Untuk ukuran film LGBT, Jenny’s Wedding menurut saya tidak terlalu bagus dan tidak meninggalkan kesan mendalam, beberapa slip editing juga terjadi jika benar-benar memperhatikan. Dibandingkan dengan Saving Face—yang berkelas festival, punya skenario yang kompleks namun sebenarnya sangat sederhana, twist yang sangat mengagetkan—tidak ada apa-apanya.

Trailer Jenny’s Wedding:

 

Jogja, 17 Desember 2016

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response