Jogja Women Cyclist 3 Bertemu Srikandi Inspirasi Bagi Negeri Jilid 1-5

Jogja Women Cyclist 3

Jogja Women Cyclist #3 kali ini lebih istimewa dengan bergabungnya Srikandi Inspirasi Bagi Negeri jilid 1-5. Srikandi Inspirasi ini adalah para pesepeda perempuan yang “jam terbang”-nya sudah di atas rata-rata. Ketika kami bersepeda bersama, sangat terlihat endurance mereka terjaga dengan baik.

Rute kami untuk kali ini adalah Hotel Puri Pangeran di Jl. Masjid menuju The Riverside Jogja Hotel, sebuah tempat penginapan yang asri di daerah Pakem. Total jarak yang saya tempuh menurut Runtastic adalah 47 kilometer. Tidak begitu jauh memang, namun kontur jalan yang menanjak halus dan panjang. Dengan menyusuri Jl. Ngelempongsari Raya ke utara hingga Warung Idjo, dengan kecepatan sedang, adalah tantangan tersendiri. Road captain, Mas Candra, melaju di depan. Kadang saya bisa berada tepat di belakangnya, tapi sering didahului pesepeda lain yang punya daya tahan lebih. Inilah bedanya dengan bersepeda sendirian di mana saya bisa rehat begitu mulai lelah. Dengan bersama rombongan, jalan terbaik adalah berusaha menyamai ritme.

Para Srikandi saya perhatikan, memasang gear depan paling besar. Sementara saya memilih gear tengah atau kecil untuk diam-diam mengumpulkan tenaga. Kalau saya dengar cerita-cerita dari mereka, etape-etape yang mereka lalui sudah kelas 1000km di sejumlah event yang diselenggarakan. Mereka tidak semuanya memacu kecepatan dari awal. Mereka lebih santai di belakang, namun kayuhan yang stabil. Teknik ini memang lebih baik ketimbang semua tenaga dikerahkan di awal, sisanya lemas.

Jogja Women Cyclist 3
Warung Ijo

Jarak dari Warung Ijo ke The Riverside hanya 3 kilometer. Terdiri dari cottage-cottage yang tenang. Ada kolam renang juga dan pasti airnya akan menyegarkan tubuh yang sudah dipenuhi keringat.

Ketika kami tiba, hidangan sego megono dan lauk-pauknya sudah tersedia untuk kami. Bagi yang masih belum cukup mengganjal perut dengan gorengan di Warung Ijo, bisa menambahnya dengan hidangan tersebut. Saya kurang berselera melihat nasi. 3 biji gorengan sudah membuat lapar hilang hingga saya kembali ke kosan pukul 1 siang.

Di sana, ada 2 sesi sharing. Pertama, sharing seputar dunia bersepeda dengan Mbak Aristi. Sebenarnya saya lebih penasaran dengan apa itu Srikandi Inspirasi, namun tidak saya ungkapkan. Saya hanya bertanya seputar tips bersepeda sendirian bagi perempuan secara saya belakangan memilih jadi lone cyclist ketimbang dengan komunitas.

Kedua, adalah sharing dengan Mbak Aning, seorang pakar batik. Apa yang dibahasnya adalah kreasi kain batik tanpa jahit. Tentu saja dengan praktik langsung. Ada banyak kreasi yang bisa dicoba-coba dengan ikat sana-ikat sini. 4 Srikandi menjadi modelnya. Wah memang menarik, dan cantik-cantik sekali kreasinya. Mau yang sedikit maskulin dengan dibuat berbentuk celana, atau ala putri raja dengan lipatan di belakang, tinggal pedenya memakai yang mana.

Berpakaian itu modalnya pede, kata Mbak Aning berulang-ulang.

Perjalanan pulang, kami memecah ke beberapa kelompok. Mas Candra melesat di depan. Saya tidak mampu mengejar meskipun tinggal meluncur saja sebenarnya. Matahari cukup terik, maklum sudah pertengahan hari. Di belakang saya ada 2 Srikandi yang mengekor, tapi akhirnya kami terpisah di perempatan Mirota Kampus. Saya terjebak kemacetan panjang, mereka lewat trotoar.

Karena jarak tidak begitu jauh atau memang sempat mengisi tenaga, saya tidak diserang kantuk seperti kemarin. Lapar itu pasti, tapi rasa pusing maupun mengantuk adalah imbas kekurangan oksigen, kata Mbak Aristi.

jogja women cyclist 3

Saya tidak tahu lagi kapan bisa bertemu para Srikandi ini. Mereka adalah role model buat para pesepeda yang sedang menaikkan level macam saya. Bahwa kata Mbak Aristy di tengah sharing-nya, bersepeda itu bukan perkara jauh-jauhan atau ngebut-ngebutan, tetapi me-maintain diri dengan sebaik-baiknya.

 

Jogja, 15 Mei 2016

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response