The Journey (2017), Album Perdana Rendy Pandugo

in Musik by
The Journey (2017), Album Perdana Rendy Pandugo
The Journey (2017). Sumber gambar: itunes.apple.com

Media streaming musik saat ini sudah semakin banyak dan punya kelebihannya masing-masing. Berterima kasihlah pada Myspace.com yang termasuk pelopor untuk mendengarkan musik tanpa harus mengunduh apalagi membayar. Saya termasuk generasi yang begitu bersyukur dengan adanya Myspace. Media yang membuat telinga saya lebih terbuka dengan musik folk-ballad dan musisi yang bersuara bagus-bagus meski tidak dilirik label besar.

Maka ketika orang mengatakan bahwa Rendy Pandugo adalah John Mayer versi Indonesia, saya kok krik-krik ya? Di luar sana, musik yang seperti dibawakan Rendy bukan hanya milik mutlak mantannya Taylor Swift dan juga Katy Perry ini. Walaupun memang, yang populer di telinga orang Indonesia adalah si Mayer.

Oh ya, kenapa saya sampai mendengarkan album The Journey milik Rendy Pandugo? Tumben lo suka cowok. Heh!

Tahu Spotify, kan? Tahu Spotify itu ada yang gratisan dan premium? Saya sempat lho sok kaya dengan membayar 49 ribu tiap bulan hanya untuk menghilangkan iklan-iklan yang mengganggu keasyikan mendengarkan musik. Udah gitu iklannya kayaknya cuma bikin beberapa dan diulang-ulang sampai bosan saya dengarnya. Dan yang paling sering adalah iklan agar beralih ke Spotify premium. Ya, saya sempat buang-buang uang sebelum sadar, kok nggak penting banget ya pengeluaran rutin itu?

Akhirnya saya balik ke versi gratisan, dunia yang beriklan, iklannya pun sekarang tidak hanya bikinan Spotify, tapi meluas ke produk. Ya Allah. Keterbatasan tidak bisa memilih lagu sesukanya jika diputar lewat hape. Dan musiknya bisa berhenti sendiri kalau ditinggal tidur.

Dari sekian banyak iklan yang diputar berulang dan unskippable itu, salah satunya adalah promo album Rendy Pandugo. Sudah berulang kali saya dengar dan mengabaikannya. Oh penyanyi Indonesia. Tahu dari namanya. Ini orang Padang apa ya? Biasanya kan ada potongan lagunya, oh oke dia nyanyi lagu bahasa Inggris. Coba ah dengerin lagu utuhnya. Saya lupa track yang mana yang diiklankan lalu mulai memutar dari track pertama berurutan.

Yang pertama judulnya Float in the Sky. Dari sound gitar yang pertama kali, aroma folk-country langsung mengikat molekul-molekul udara. Saya tidak merasakan pengaruh John Mayer, tapi Blake Shelton, Keith Urban, Rascal Flatt dan siapalah itu yang berkecimpung dalam musik country yang kental. Dari segi lirik lagu memang bukan ala gubahan musisi country yang khas dengan rasa pedesaan, kehidupan sehari-hari, soal truk, atau berada di bar. Hanya kulitnya yang country.

Kemudian, nuansa country memudar begitu memasuki track Silver Rain. Yang kata orang terpengaruh John Mayer, dimulai dari sini. Mulai ada sound elektronik yang disisipkan untuk menambah keceriaan lagu cinta yang menceritakan tentang seorang pria yang memuji kekasih yang tetap cantik setelah puluhan tahun kemudian. Proses perkenalan keduanya yang berjalan tidak mulus-mulus amat seperti kisah di novel Wattpad tapi ujung-ujungnya bahagia.

It’s been twenty years or so

And you’re still as beautiful as flowers grow

We’re not together we’re united

Smell of your skin is on my blanket

It’s our song don’t need no ring

Because of you I want to sing

We don’t need to say “I love you”

Cause I know where I’ve you

Track ketiga juga menjadi andalan album The Journey adalah I Don’t Care, mengalihkan kita dari John Mayer ke Sam Smith, musiknya maksud saya. Beberapa nadanya mirip dengan Stay with Me. Namun, range suara Rendy tidak sampai selebar Sam Smith yang bisa rendah lalu naik tinggi sampai falsetto. Rendy seolah bermain di nada-nada aman sepanjang album perdana yang hanya terdiri dari 11 track. Album yang bisa masuk playlist “Sudah Malam, Say, Bubu Yuk!”  yang tidak akan mengangetkan kamu hingga terjaga dari tidur sambil mengumpat, paling juga kamu kaget gara-gara waktunya iklan.

Track paling akhir menurut saya, serupa halnya dengan track paling pertama, berbeda dari 9 track yang mereka apit. Jika yang pertama country, maka yang ini agak jazzy-classic hingga bawaannya pengin mengulurkan tangan dan mengajak berdansa. Tahu lagunya Blue is the Warmest Color eh maaf, Blue ain’t Your Color milik Keith Urban? Kurang lebih bernada romantis menohok gitulah.

The Journey terdengar seperti sebuah album indie, eit tapi jangan salah, Sony Music Indonesia ada di baliknya. Promosi album dilakukan di beberapa negara Asia. Saya tidak tahu bagaimana dengan angka penjualan. Yang pasti video musiknya masih kalah populer dari musisi yang banyak dinyinyirin orang karena lagunya apa deh. Genre musik yang dibawakan Rendy  memang bukan yang disukai mayoritas penduduk Indonesia, ditambah lagi berbahasa Inggris semua. Situ pikir Indonesia bekas jajahan Inggris? Orang-orang yang menyukai lagu-lagu Rendy adalah mereka yang menyimak betul musik buatan luar negeri, yang suka nongkrong di kafe, yang tidurnya ditemani playlist buatan Spotify dengan pengikut jutaan, dan bukan fan nomor 1 Via Vallen.

Jogja, 31 Januari 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*