Judul; Nilai Jual Sebuah Buku dan Proses Penciptaannya

Judul; Nilai Jual Sebuah Buku dan Proses Penciptaannya
Judul. Sumber gambar: pinterest.com

Judul adalah poin pertama yang dilihat seorang customer ketika akan membeli produk, judul jugalah yang membuat seseorang mencari sebuah produk.Judul harus punya daya magnet, ditambah sampul yang total, blurb bikin penasaran, dan rekomendasi teman yang mendukung adalah sejumlah poin yang membuat sebuah produk buku dibeli customer. Semuanya saling mendukung.

Jangan anggap remeh sebuah judul. Ia ibarat nama, apalah arti sebuah nama. Oke, jangan ikuti si pujangga Inggis itu. Pada dasarnya tidak ada seorang pun yang mau dinamai buruk.

Tidak semua naskah yang akan diterbitkan oleh DIVA datang komplet dengan judul yang “punya daya magnet”.
Kalau memang begitu, maka sayalah yang harus memikirkan judul pengganti. Dan menemukannya itu tidak semudah membuka aib orang #eh. Ini adalah pekerjaan kreatif di mana otak kanan dipaksa untuk bekerja lebih keras. Udah pada tahu kan pembagian kerja otak kiri dan kanan? Kiri buat yang logika, kanan buat hal-hal yang di luar logika.

Hal-hal kreatif datang jika memang kondisi memungkinkan. Tapi, dalam sebuah industri, menunggu kondisi kondusif tentu akan membuang waktu.

Saya belajar membuat judul pertama kali dari Pak Edi kemudian dari buku-buku di toko. Bukan rahasia kalau judul buku punya tren. Pernah muncul tren judul buku yang ada kata “cinta”, sejak Ayat-Ayat Cinta, Munajat Cinta, Takdir Cinta, dan sebagainya.

Pernah juga tren buku dengan judul berbahasa Inggris, lalu berbahasa Indonesia, lalu nama negara, nama kota, nama desa, kecamatan, blablabla.

Tormented. Tercabik-cabik dalam bahasa kita. Salah satu judul dari kumpulan cerpen kiriman teman-teman SJFF Indonesia dan sekarang membuat saya terkejut dengan penjualannya yang tinggi. Apa karena judul buku itu maka bukunya laris? Atau karena gambar Super Junior di covernya? Tormented saya pilih karena hanya itu yang memungkinkan menjadi judul dari keseluruhan cerpen yang ada. Singkat dan maknanya dalam. Judul berbahasa Inggris itu jauh lebih menjual. Saya tidak bilang bahwa bahasa Indonesia kurang punya daya magnetik. Kosakata dalam bahasa Indonesia juga tidak kalah memberikan saya inspirasi. UNYUversitas, (masih) Menanti, Koin Cinta, dan lainnya. Tapi memang tantangannya lebih. Gimana caranya supaya tidak terkesan kaku tapi tidak juga beraroma alay.

Lalu saya akan mulai mengambil kertas dan corat-coret. Kalau belum menemukan yang sreg, ambil kertas baru, corat-coret lagi, entah sampai berapa kertas. Kadang kepala saya mengangguk-ngangguk dan bibir komat-kamit. Biasanya judul yang bagus itu yang mudah diucapkan.

Kalau sudah menemukan sedikit pencerahan, baru saya buka halaman baru di Word. Saya ketik lalu saya edit. Lalu saya copas ke email. Dan terakhir send ke Pak Edi. Dia biasanya memberikan jawaban cepat. Kalau pun lama, saya tunggu sambil mengerjakan yang lainnya.

Dulu, ketika baru pertama kali diberi kesempatan membuat judul, memang tidak pernah jauh-jauh dari judul asli, contohnya Aline’s Sky dan As Sweet as Blakberry. Kalau sekarang, bisa jadi sangat berbeda dari aslinya. Untuk beberapa judul yang memiliki kemiripan dengan novel teenlit DIVA, mau tidak mau saya merubah judulnya 100%, contoh ya, sebuah novel yang kemarin menang lomba #RomantikInspiratif, judulnya Summer Love.

Nah, pasaran banget kan 2 kata ini. Dan lagi, sebelumnya sudah ada novel Summer Sense dan Summer in Love. Nah lho. Akhirnya saya mengubahnya menjadi Fritz, salah satu tokoh utama dalam novel tersebut. Kenapa itu yang saya pakai? Ya, saya lagi nggak ada ide lain. Lagipula nama itu cukup manis kan? Dan sudah disetujui, so nggak perlu perdebatan deh ya.

Malam hari di Jogja, 15 Oktober 2013

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response