Kamis Kedua di Bulan Mei; Pitam Hitam yang Tak Pernah Putus Mengantarkan Dukacita Mendalam

Kamis Kedua di Bulan Mei; Pitam Hitam yang Tak Pernah Putus Mengantarkan Dukacita Mendalam
Kamis Kedua di Bulan Mei. Sumber gambar: pixabay.com

Kita lanjut ke cerpen nomor 13—angka yang begitu cantik—berjudul Kamis Kedua di Bulan Mei. Ditulis oleh Dhamala Shobita. Tidak banyak penulis keturunan etnis Tionghoa yang karyanya masuk dalam antologi cerpen ini. Cukup saya sayangkan karena Tragedi 98 sangat identik dengan intimidasi terhadap kaum minoritas—katanya—tersebut. Dan kenapa tidak digunakan sebagai salah satu wadah untuk merepresentasikan kegundahan yang telah berlarut-larut itu? Semoga lain kali.

Saya suka paragraf pembuka cerpen ini, mengingatkan saya akan Djenar Maesa Ayu yang senang bermain rima.

Payung hitam menjadi senjata, pakaian hitam yang membalut tubuh ikut serta. Biasanya, hujan rintik seolah ikut berduka, meskipun beberapa kali matahari lebih suka menemani mereka.

Mempertahankan konsistensi kesamaan bunyi pada suku kata terakhir di akhir kalimat dalam satu cerpen tentu saja tidak gampang. Butuh membongkar pasang, pasang bongkar, delete sana-sini. Lalu kapan menulis cerita jika sibuk menata rimbanya?

Si tokoh Aku adalah keturunan Tionghoa yang ditinggal pergi kedua kakaknya pada tragedi 98. Cerita ini bersetting di Medan. Meski demikian, Medan yang saya akui etnis keturunan Tionghoa-nya berlimpah ruah, juga mendapatkan dampak dari keganasan orang-orang yang merasa krisis ekonomi ini harus ada kambing hitamnya. Bahkan itu terjadi sebelum puncaknya di Jakarta. Tokoh Aku memiliki kakak bernama Arya Bima yang berkulit eksotis namun matanya sipit. Dan Lili, yang berkulit terang dan mata sipit. Keduanya bersekolah di ibu kota. Satu menyukai sejarah, satunya menyukai dunia kedokteran.

Satu yang saya sebenarnya tunggu-tunggu dari cerpen-cerpen yang ditulis oleh keturunan Tionghoa adalah eksplorasi bahasanya. Di tempat-tempat umum, biasanya mereka tidak berbicara dalam bahasa Indonesia. Mungkin yang mereka bicarakan rahasia. Di cerpen ini maupun cerpen Lengsernya Paman Gober tidak ada. Oh ya, saya hampir melupakan Frida. Tapi cerpen Bunga Ngarot berlatar Sunda, jadi tidak mungkin menggunakan bahasa Tionghoa.

Mama akan mengutukku dengan dialek Hokkien[1]-nya.

Hanya sebatas itu. Sehingga kita akan dibuat percaya bahwa memang sejumlah keturunan etnis Tionghoa sudah tidak menguasai bahasa asli nenek moyang. Jangankan mereka, ibu saya pun tidak pernah mau mengajarkan saya bahasa Mandailing, mungkin dengan alasan nasionalisme.

Kamis kedua di Bulan Mei semacam hari berkabung yang seharusnya menjadi hari libur nasional. Jika pun pemerintah masih belum bisa menyelesaikan perkara itu sampai tuntas, setidaknya disetarakan dengan Hari Buruh. Toh setiap tanggal 1 Mei, yang bukan buruh pun ikut menikmati liburnya. Mohon dipertimbangkan Pak Jokowi, agar libur di bulan Mei bertambah lagi. Setidaknya pula, dari situ terlihat empati dari pemerintah, bahwa ini bukan kasus kecil yang bisa ditutup begitu saja.

Tokoh Aku setiap tahun selalu membantu ibunya menyiapkan pita hitam untuk membuat karangan bunga yang akan dibagi-bagikan kerabat korban lainnya. Dua karangan bunga untuk Arya Bima dan Lili. Setiap tahun hingga sembilan belas tahun berlalu. Sebuah makam yang dianggap sebagai penanda peristirahatan terakhir Arya Bima menjadi tempat curahan kesedihan sang ibu.

Di depan nisan kayu dengan pahat nama Arya Bima, karangan bunga kecil dengan pita hitam diletakkan perlahan. Sembilan belas karangan bunga, sembilan belas pita hitam, sembilan belas kali momentum, entah ditujukan pada siapa. Apakah Arya Bima—kakakku—ataukah justru tanah biasa yang diyakini Mama sebagai makam seorang yang mati mulia.

Tentu saja itu bukan makam si putra sulung, sebab adalah salah satu aktivis yang hilang tanpa kabar.

Sementara Mama masih yakin bahwa makam dengan nisan bernama Arya di pemakaman Pondok Ranggon adalah milik putranya, Papa malah menceritakan versi lain padaku. Katanya, Arya menyatu dalam bara, menjadi abu dan mengapung ke udara.

Keluarga ini memiliki harapan sangat kecil jika Arya Bima masih hidup. Dugaan-dugaan keberadaan pemuda itu adalah sebuah hal yang samar-samar. Maka, tidaklah mengherankan jika dia telah dianggap meninggal dan ditandai secara simbolik. Atau sekalian saja dia ibarat telah menjadi abu, itu lebih mulia.

Kesedihan di Kamis kedua juga ditunjukkan dengan lagu Teresa Teng kesukaan sang ibu.

Semilir lagu Teresa Teng mengalun dari radio milik Mama. Aku tidak suka lagu Teresa Teng karena lagunya terlalu sedih, tetapi Mama suka. Mama suka suara mendayu-dayu dalam bahasa yang tidak kumengerti itu.

Jujur saja saya tidak pernah mendengar lagu yang dimaksud. Tapi berbeda dengan anak-anak muda yang muda baper dengan lagu yang liriknya yang sebenarnya terlalu eksplisit tentang cinta tak sampai atau terlalu sayang dengan mantan yang ternyata pencinta sesama, lagu Teresa Teng bagi sang ibu adalah media yang sanggup memuat segenap kenangan, kesedihan yang sama, kepahitan mendalam berkali lipat melebihi Mother of All Bombs yang baru-baru ini diluncurkan Amerika yang sedang bernafsu pamer senjata pada Korea Utara. Sang ibu menyukai lagu itu seolah cocok sebagai soundtrack lagu berkabung. Hitam seolah tidak cocok sebagai penanda kehilangan seseorang yang dicintai untuk selamanya. Lagu itu terus diputar meski yang mendengarkan bosan, karena lirik yang tidak dipahaminya, bahasa yang tidak dikuasai si Aku.

Nasib malang keluarga si Aku tidak hanya dengan hilangnya dua anggota keluarga, namun juga hilangnya harta benda setelah penjarahan.

Tapi Papa adalah orang baik. Beliau tidak marah ketika rukonya dijarah. Televisi, benda-benda elektronik yang dijual di toko, nyaris semuanya raib. Tidak bersisa. Papa bilang, mereka sebenarnya tidak ingin menjarah. Tetapi kesempatan membuat mereka melakukannya.

Apa daya para pemilik toko jika massa sudah mengamuk seperti besok sudah tidak ada hari lagi? Apa lagi yang bisa dilakukan selain pasrah dan memulai dari awal kembali. Mau menyalahkan siapa? Dibiarkan hidup sudah paling mending. Jangan harapkan polisi dengan keadaan bergejolak seperti itu.

…Kami membentang kain ulos milik tetangga samping rumah di jendela lantai dua, kemudian menutup rumah rapat-rapat.

Bahkan ada ulos mahal yang terbakar, bersama dengan sajadah yang digantungkan di ruko sebelahnya.

Pada cerpen Aku dan Peranku, salah satu cara untuk menghindari jarahan massa adalah dengan memasang tulisan “Milik Muslim” meskipun pemiliknya bukan muslim. Di cerpen ini, “penangkal” para penjarah adalah ulos dan sajadah. Ulos adalah barang mahal sebenarnya. Jangan kira orang-orang Batak dompetnya tipis. Satu helai harganya bisa jutaan. Ulos adalah ciri khas Batak, sajadah ciri khas muslim. Simbol pribumi. Dua simbol yang seyogianya tidak diserang. Tapi, toh pada akhirnya manusia lapar mata itu tak ambil pusing. Apalah arti sebuah simbo jika ada harta karun di dalam sana.

Cerpen Kamis Kedua di Bulan Mei merupakan uraian kisah flashback-forward yang menekankan pada tataran dukacita yang siapa pun yang berhari nurani akan merasakannya. Membuka kesadaran kita bahwa ini bukan duka bagi etnis minoritas semata. Ini duka bangsa Indonesia.

 

Jogja, 19 April 2017

[1] Salah satu dari cabang bahasa Min Selatan yang merupakan bagian dari bahasa Han.

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response