KampusFiksi14; Tantangan untuk Sebuah Metamorfosis

Sebuah hal baru menjadi keharusan bagi orang-orang yang mempercayai bahwa dinamika itu bekal untuk sebuah keabadian dunia. Bertahan dengan ketidaknyamanan adalah pilihan, tapi berubah adalah keputusan yang seharusnya diambil. Seperti halnya KampusFiksi14 ini, selalu ada hal-hal masih punya kemungkinan menyisakan celah-celah kecil, menutupnya dengan rapat, selagi mungkin, mengapa tidak dilakukan?

KampusFiksi14 hanyalah satu dari sekian usaha yang dipertahankan lebih dari sekadar mengumpulkan sejumlah orang dengan niatan menjadi penulis—novelis tepatnya, namun menjadi pintu untuk melihat seberapa banyak profesi dalam sebuah penerbitan itu sebenarnya.

 

Keluarga Besar KampusFiksi14

 

Menjadi penulis memang tidak seperti dokter yang memiliki institusi resmi dan direstui oleh pemerintah.  Aneh memang. Mengapa dunia seperti tidak berpihak pada para penulis, sementara para pemusik dan pelukis mendapatkan tempat yang menggiurkan?

Maka, jadilah orang-orang yang peduli pada dunia kepenulisan, membuat berbagai kelas-kelas privat sampai murid yang berjumlah puluhan dalam sekali pertemuan, salah satunya ya KampusFiksi14 ini. Apa yang dipelajari dalam KampusFiksi memang hanya sebatas teori-teori dasar menulis dan editing. Tidak lebih. Dengan pelaksanaan hanya tiga hari—sebelumnya dua hari—akan sebanyak apalah yang bisa diberikan kepada mereka-mereka yang berdatangan dari berbagai kota dan pulau? Materi-materi dalam KampusFiksi memang tidak sampai ke hal-hal hingga mendalami teori-teori sastra bahkan mencoba mengkritisi sebuah karya. Lalu ditambahi dengan praktik.

Di KampusFiksi14 satu pembaruan lagi dilakukan. Dengan memulai lebih awal, hari Jum’at malam, sebagai pemanasan dari praktik menulis cerpen. Kali ini, tantangan yang dibuat memang sedikit berbeda dari sebelumnya, yaitu membuat cerpen adaptasi dari novel yang ditulis pengarang terkenal lalu mengubah ending-nya.

Tujuan saya membuat tantangan ini sederhana saja, pertama kemampuan mengingat isi dari sebuah novel. Kedua, membuat satu imajinasi baru pada bagian penutup.

Ada banyak judul yang kemudian dipilih para peserta untuk diadaptasi, sebagian besar saya bahkan belum pernah membaca bukunya, sebab karangan dari para penulis yang tergolong baru. Sementara saya hanyalah seorang penikmat karya-karya lama, berputar-putar dengan novel garapan Mochtar Lubis, Fira Basuki, Djenar Maesa Ayu, Ayu Utami, Leo Tolstoy, Anton Chekov, dan yang sezaman dengan itu. Saya belum pernah membaca Tere Liye, Andrea Hirata, apalagi John Green. Saya baru mendapat gambaran dari isi tulisan mereka-mereka ini ya sekarang.

Membuat sebuah cerpen adaptasi memanglah sebuah pekerjaan sama sulitnya dengan membuat satu cerpen baru. Ibarat berjalan dengan memakai mantel yang tidak cocok ukurannya dengan tubuh sendiri. Salah mengambil langkah, maka eksekusinya akan menjadi berat.

Novel adalah dunia yang teramat luas dan kompleks. Di sanalah bergabung tokoh-tokoh dengan konfliknya masing-masing yang saling berkaitan. Mengambil salah satu tokoh adalah pilihan terbaik. Otomatis, konflik akan mengikuti di belakangnya.

Cerpen memang hanya perlu sedikit tokoh, konflik satu pun sudah lebih dari cukup. Ini yang saya tekankan pada peserta agar tidak merasa kesulitan menyelesaikan karya. Memang lagi-lagi, ada kepanikan-kepanikan tertentu yang membuat rancangan-rancangan cerita di dalam kepala menjadi campur aduk. Dengan perpanjangan waktu berkontemplasi, sepertinya rintangan yang begini-begini ini masih juga hadir kembali di saat praktik menulis cerpen berlangsung.

Menciptakan sebuah zona nyaman dalam peperangan rasanya perlu tangan Tuhan yang ikut berperan di sana. Hingga tidak perlu ada korban, tidak perlu ada pemenang, tidak perlu ada pengakuan kedaulatan. Di mana letak makna peperangan kalau begitu? Menjadi pertanyaan yang mengekor di belakang.

Meringkas alur menjadi hal yang sebagian besar dilakukan demi mencari aman. Alur yang kemudian berlari cepat meninggalkan tokohnya di belakang atau tokoh menjadi pilar kecil yang tidak lagi mengendalikan jalan cerita.

Hey tarik napas dulu dalam-dalam, dan pikirkan lagi.

Dalam tantangan itu, saya memberikan kebebasan kepada para peserta untuk mencuplik bagian dari novel pilihannya. Tulis apa yang paling melekat di dalam kepala, itu bagi saya tidak masalah. Lebih baik secuil emas ketimbang segenggam tanah kering, kan? Keputusan seperti itu boleh jadi belum terlintas di dalam benak.

Tidak mengapa, tantangan ini tidak akan membuat seseorang menjadi gagal dalam proses bermetamorfosis ke bentuk sempurna. Ini hanya satu tantangan kecil dan sekian banyak tantangan nyata kelak. Seperti halnya di kampus, gambaran pilihan-pilihan hidup mulai silih berganti memperlihatkan diri. Ada lawan yang siap menendang kita, ada kepanikan yang menjadi musuh psikologis seumur hidup, ada ketakutan memilih hingga akhirnya menarik diri sejauh-jauhnya, ada pujian yang siap dilemparkan untuk sebuah pekerjaan kecil. Itulah hidup. Hidup tidak pernah hampa.

Saya berharap, kontemplasi adalah sebuah kebiasaan wajib. Segalanya terjadi karena sebuah alasan. Tidak ada keberhasilan tanpa usaha. Bintang punya cahayanya sendiri yang takkan pernah cemburu pada cahaya bintang yang lain.

Kita selalu menunjuk-nunjuk bintang, meski tidak menantikannya seperti senja di setiap sore.

 

Jogja, 2 November 2015

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response