Karimunjawa; Wisata Kepulauan di Utara Jepara Jawa Tengah

Karimunjawa; Wisata Kepulauan di Utara Jepara Jawa Tengah
Karimunjawa. Sumber gambar: TapakRantau

Datang dan bersenang-senang di Kepulauan Karimunjawa yang terkenal dengan terumbu karangnya serta disponsori kantor memang semacam kesempatan yang tidak bisa disia-siakan. Dan itulah yang selama tanggal 18-20 Mei 2013 saya nikmati bersama kawan-kawan pemenang lomba Traveling Note Competition.  Keberangkatan kami memang sempat tertunda 2 kali, dengan alasan yang sama,  tinggi ombak sudah lebih dari 2 meter dalam beberapa hari belakangan, sangat berisiko untuk menyeberang Jepara menuju Kepulauan Karimun. Dengan kapal Muria yang bertubuh besar dan berjalan lambat ataupun Bahari Express yang bertubuh lebih kecil dan berjalan cepat, sama saja risikonya. Jadi wajar saja ketika di keberangkatan ketiga, kami pesimis jadi berangkat. Tapi alhamdulillah, ombak sedang bersahabat hingga pihak sukawisata (silakan cek sukawisata.com) tidak melakukan pembatalan seperti sebelum-sebelumnya.

Saya pun packing dan membawa pakaian secukupnya (untuk 3 hari 2 malam) dan celana jins karena tidak niat berbasah-basah. Saya lebih antusias untuk memotret sebanyak-banyaknya karena di sana nantinya akan banyak spot keren untuk diabadikan. Tanggal 17 Mei, pukul 23.00, kami pun dijemput Mas Dodi dari Citra Travel (CP: 0853-693-007-89) dengan mobil berkapasitas 11 orang. Selain kami, memang ada 4 penumpang lainnya yang naik di Jogja meski tidak semuanya mengarah ke Dermaga Kartini. Waktu perjalanan yang ditempuh hanya 5 jam, kami melewati jalur alternatif sehingga lebih cepat ketimbang melewati jalur biasa. Kondisi jalan yang kami lewati tidak begitu mulus sehingga teman-teman saya di barisan belakan mengeluhkan hal ini.

Kami tiba di Dermaga Kartini pukul 4 pagi, masih sangat pagi dan Mas Dodi membiarkan kami sejenak di dalam mobil sebelum akhirnya kami pun turun untuk shalat Subuh. Saya dan teman-teman pun meletakkan barang-barang di Warung Bu Dyah sekaligus mengisi energi pada gadget masing-masing dan juga sarapan untuk menghindari masuk angin. Kapal kami dijadwalkan berangkat pukul 10.30, sementara KM Muria pukul 8 pagi. Sejam sebelum keberangkatan, salah satu utusan Sukawisata bernama Mas Uki menghubungi saya dan memastikan berapa anggota yang berangkat. Setelah urusan itu selesai, kami pun menunggu waktu loading kapal Cantika Express yang sudah merapat.

Kapal Cantika berkapasitas penumpang 268 penumpang (reguler dan VIP) meski jumlah yang naik lebih dari itu karena saya melihat ada bangku-bangku tambahan yang diletakkan di jalan setelah kapal mulai meluncur. Di dalam kapal penyeberangan ekspres yang ditempuh dalam waktu 1 jam 45 menit, kami mendapatkan jatah kue dan air mineral. Setelah menikmati makanan, saya dan teman-teman pun tidur karena selain mengantuk, AC di ruangan sangat dingin.

Kami tiba di Pelabuhan Karimun Besar menjelang tengah hari. Kami dikumpulkan oleh Mas Uki kemudian naik odong-odong (mobil pick-up) dan diantarkan ke homestay. Setelah menaruh barang dan shalat Zhuhur, kami dijemput menuju dermaga kecil untuk memulai aktivitas. Sebelum bernagkat,makan siang kami sudah tersedia dalam kotak. Oh ya selain kami berlima, ternyata kami juga bergabung dengan rombongan lain hingga jumlah kami sekitar 15 orang. Di antara mereka ada beberapa WNA juga. Titik pertama kami adalah Gosong, spot snorkeling yang terletak diapit 2 Pulau Cemara. Kami dipinjamkan peralatan snorkeling lengkap (google, pelampung, sepatu katak). Sekitar 30 menit kami berada di sini sekaligus untuk dokumentasi.

Kemudian perahu motor kami menuju Pantai Ujung Gelam. Sebuah pantai yang terhitung sempit namun memiliki eksotisme yang membuat segala lelah setelah snorkeling pun hilang. Di pantai ini, saya melihat banyak warung penjual makanan meski kami tidak begitu tertarik untuk makan. Ujung Gelam merupakan agenda acara terakhir kami di hari pertama. Setelah kami diantar pulang ke homestay masing-masing, kami bebas menentukan acara.

Hari berikutnya, jadwal kami lebih padat. Setelah sarapan, kami pun dijemput kembali ke dermaga. Pertama, kami menuju sebuah spot snorkeling yang terletak di dekat Pulau Tengah. Di sini, biota lautnya sangat beragam, ikan-ikan kecil pun bersilewaran di antara para peserta. Perjalanan ke spot ini cukup panjang, hampir sejam dan kapal begoyang-goyang ketika melewati laut berombak sedang. Pemandangan sepanjang perjalanan identik dengan warna biru dan hijau di laut maupun hijau pepohonan di pulau-pulau kecil.

Setelah lelah snorkeling, kami pun dibawa ke Pulau Tengah. Di sinilah kami dijadwalkan makan siang dengan menu ikan bakar. Di tepi dermaga, kami melihat ikan-ikan kecil yang berenang di dekat perahu. Di pulau ini juga terdapat penangkaran hiu meski jumlahnya tidak banyak. Pulau Tengah ini hampir sama dengan pulau-pulau di Kepulauan Karimunjawa, pantainya tidak begitu lebar, Jarak antara darat dengan air hanya beberapa langkah saja. Ada beberapa penjual ikan bakar di sini dan juga warung yang menyediakan kelapa muda. Satu cangkir kelapa muda dihargai 5.000.

Agen tur kami kembali mengajak para peserta melanjutkan perjalanan ke Pulau Kecil. Di sini adalah pulau yang memang berukuran kecil dan seperti milik milik pribadi dengan adanya sejumlah cottage kosong. Kami pun melanjutkan keasyikan snorkeling atau juga bisa mengeksplorasi pulau yang didominasi pepohonan semak. Di kejauhan terlihat bagian pantai berpasir putih yang cukup lebar.

Menjelang sore, perahu motor kami mengarah ke Pulau Menjangan Besar di mana terdapat penangkaran hiu. Jumlah hewan yang terkenal dengan siripnya ini jauh lebih banyak dari yang di Pulau Tengah dan ukurannya lebih besar. Di sini pun terdapat fasilitas berenang gratis dengan hiu. Tidak semua orang berani melakukannya meskipun satu pantangannya hanya satu, tidak boleh berdarah. Hiu-hiu ini berenang dengan cueknya di sekitar orang-orang yang masuk ke kolam Membuat bergidik juga karena mereka adalah hewan buas yang susah ditebak.

Sore mulai dekat. Waktu kami di penangkaran hiu sudah habis dan waktunya kembali ke Karimun Besar yang hanya ditempuh kurang lebih sepuluh menit saja. Mas Uki kemudian mengajak kami menuju Bukit Joko Tuwo untuk menanti sunset. Rombongan kami pun berjalan kaki menuju bukit sekitar 15 menit. Taris masuk ke tempat ini 5.000. Setelah melewati tempat pembayaran tiket, kami pun menaiki tangga-tangga tanah menuju spot yang dimaksud. Sebelum itu kami juga melihat fosil hiu raksasa yang dinamakan Joko Tuwo tadi. Menunggu warna jingga sunset memang butuh kesabaran. Beberapa peserta memutuskan turun dari bukit ini sebelum rona cantik itu benar-benar terlihat sementara kami tetap di sana dan memang akhirnya kamera saya berkali-kali mengabadikan momen itu sebelum hilang.

Inilah agenda terakhir kami. Esok hari sebenarnya kami sudah tidak punya acara lagi. Tapi Mas Uki menawarkan kami acara tambahan dengan sewa odong-odong setengah hari seharga 300.000. Kami berempat belas pun setuju ikut.

Acara di hari berikutnya dimulai pukul 05.00. Maklum namanya juga menunggu sunrise. Spotnya adalah Nirwana Resort, sebuah resor dengan pantai pribadi yang sayangnya dibiarkan kosong. Kami ditarik biaya masuk seharga 12.500/orang. Jalan menuju pantai cukup curam dengan baru yang disusun rapi dan tidak licin. Di tepi pantai terdapat beberapa kursi santai khas pantai. Sayang sekali memang pantai seindah ini tidak dirawat dengan baik dan sampah dibiarkan bertebaran entah siapa yang bertanggung jawab dengan kebersihannya. Kami lalu naik ke bangunan utama berbahan kayu yang berada di atas karang besar. Ketika kami mengintip ke dalam, saya bersiul karena sangat mewah dan kami bisa melihat kamar tidur di lantai dua dengan balkon yang langsung menghadap ke laut. Angin pagi bertiup sangat kencang dan untungnya saya memakai jaket. Kami menunggu sunrise tapi ternyata matahari tertutup awan hingga sama sekali tidak ada momen cantik saya dapatkan. Meski begitu, kami puas dengan beberapa spot eksotis termasuk karang-karang kecil.

Spot selanjutnya adalah Hutan Mangrove. Perjalanannya cukup panjang kami tempuh, sekitar satu jam dengan jalanan beraspal yang tidak begitu mulus. Melelahkan memang tetapi kami penasaran mengapa tempat ini direkomendasikan untuk dikunjungi. sampai di tujuan, tempat ini masih kosong. Penjaga loket belum datang. Sejenak, kami melihat peta hutan lalu mulai trekking mengikuti jembatan kayu yang membelah hutan. Di bagian hutan yang tidak terkena sinar matahari, terdapat banyak nyamuk. Tetapi begitu sampai di pos F (terdapat 6 pos) yang bisa memandang langsung ke pantai, nyamuk-nyamuk itu pun hilang. Pos F sengaja dibangun lebih panjang karena view di sini lebih luas. Tempat ini bersih dan terdapat tempat sampah yang kosong. Waktu terus berjalan, kami memutuskan hanya mengunjungi 1 tempat lagi yaitu rumah adat ketimbang pantai-pantai lainnya. Di spot ini. kami bisa melihat dua rumah adat Bugis dengan latar hutan juga kuburan yang terletak tidak jauh dari tempat mobil kami berhenti.

Dan itulah akhir dari tur kami selama di Karimunjawa. Masih banyak spot yang memang belum saya kunjungi di sini sebelum kapal cepat Cantika Express membawa kami kembali ke Dermaga Jepara, dan mudah-mudahan ada kesempatan lain lagi untuk bisa kembali dan melunasi semuanya 🙂

 

Biaya ke Karimunjawa via Sukawisata:
Travel Jogja-Jepara PP: 180.000/orang
Paket tur Sukawisata: 625.000/orang

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response