Kata Sapaan; Cara Mudah Memahami Kata yang Definit dan Indefinit

Kata Sapaan; Cara Mudah Memahami Kata yang Definit dan Indefinit
Kata Sapaan. Sumber gambar: pixabay.com

Sebelum memulai bahasan seputar kata sapaan, saya mau ngasih contoh satu paragraf yang di sana terdapat sejumlah kata sapaan—yang ini sering luput dari perhatian penulis saat melakukan self editing.

Di sebuah kota kecil dengan hirup pikuk mulai pagi hingga sore hari inilah, aku tinggal bersama adikku, Indi. Kami menempati sebuah rumah di mana dulu ayah disibukkan dengan pesanan jahitan dari para tetangga, termasuk ayah Udin dan Eno. Seorang ayah adalah tulang punggung dalam keluarga. Setelah banyak peristiwa, kini akulah yang menggantikan posisi ayah. Setiap pagi, aku, Udin, dan ayahnya sudah berjalan kaki menuju stasiun, menunggu KRL.

Nah, dari paragraf tadi, mana aja kata “ayah” yang harus diawali dengan huruf kapital? Baiklah, akan saya jelaskan satu per satu fungsi “ayah” pada teks ini.

Pada kalimat “… di mana dulu ayah disibukkan…”, ayah di sini sebagai kata sapaan, harus diawali dengan huruf kapital. Jika ditambahkan dengan objek, maka barulah benar jika ditulis dengan huruf kecil.

Contoh: “…di mana dulu ayahku/ayah saya/ayah kami…” Otomatis sudah ada kepemilikan. Dan kata sapaan lain juga terdapat pada contoh di atas adalah “… kini akulah yang menggantikan posisi ayah.” Sementara ayah Udin, sudah jelas merujuk pada kepemilikan: ayah + udin. Ini serupa dengan ayah saya atau ayah kami atau ayahnya.

Lalu untuk ayah pada “seorang ayah” tetap ditulis dengan huruf kecil karena belum merujuk kepada seseorang, indefinit.

Bahasan ini sederhana, tetapi pada kenyataannya, proses editing bisa mengalami hambatan jika untuk penulis belum memahami sepenuhnya konsep kata sapaan sebenarnya seperti apa. Apalagi jika memakai sudut pandang orang pertama, seperti halnya contoh di atas. Untuk penceritaan dengan sudut pandang orang ketiga, tokoh sudah pasti akan definit.

Saya berikan contoh dengan memodifikasi paragraf contoh di atas.

Di sebuah kota dengan hirup pikuk mulai pagi hingga sore hari inilah, dia tinggal bersama sang adik, Indi. Mereka menempati sebuah rumah di mana dulu ayah mereka disibukkan dengan pesanan jahitan dari para tetangga, termasuk ayah Udin dan Eno. Seorang ayah adalah tulang punggung dalam keluarga. Setelah banyak peristiwa, kini dialah yang menggantikan posisi sang ayah. Setiap pagi, dia, Udin, dan ayah Udin sudah berjalan kaki menuju stasiun, menunggu KRL.

Tidak ada sama sekali kata ayah yang ditulis dengan huruf kapital, kan?

Semoga pembahasan singkat ini bermanfaat dan silakan perbanyak berlatih dengan kata sapaan baik berlatih dalam bentuk kalimat, paragraf, cerpen, maupun novel.

 

Yogya di malam hari, 4 Juli 2013

Leave a Response