Ke Bandung Naik Kereta Api untuk #KampusFiksi dan Jalan-Jalan

Di minggu terakhir Februari ini, tim #KampusFiksi, di mana saya menjadi salah satu bagiannya, mendapat undangan ke Bandung, tepatnya  Toga Mas Buah Batu untuk pelatihan menulis di hadapan kurang lebih 100 peserta. Ini pertama kalinya kami berangkat dengan formasi lengkap ke kota lain yang hitungannya cukup jauh.

Ke Bandung Naik Kereta Api untuk #KampusFiksi dan Jalan-Jalan
Sumber gambar: dok. TapakRantau

Tiket dan akomodasi sudah bukan lagi hal yang perlu saya pikirkan, karena pihak kantor yang mengurusnya. Saya, di satu sisi memang memikirkan betapa lelahnya keluar kota di akhir minggu. Tapi di sisi lain excited karena pertama kalinya naik kereta api.

Ya, satu-satunya moda transportasi yang belum pernah saya rasai adalah kereta api. Saya hanya melihat di film-film atau acara berita, sebatas itu itu.

Maka, berangkatlah kami berenam (pak bos membawa keluarganya) ke Bandung dengan KA Lodaya eksekutif, dengan harga tiket 265.000, agak mahal karena weekend, dari Statiun Tugu. Akhirnya saya masuk ke stasiun tidak sebatas mengantar orang yang akan berangkat ke tempat lain.

Ke Bandung Naik Kereta Api untuk #KampusFiksi dan Jalan-Jalan
Sumber gambar: dok.TapakRantau

Kereta berangkat 15 menit dari jadwal keberangkatan pukul 20.00. Karena malam hari, saya tidak terlalu merasakan pergerakan kereta dan coba menikmatinya saja.

Sudah menjadi kebiasaan buat saya, jika berada di dalam kendaraan, saya pasti tidur. Entah, meski tanpa meminum Antimo, keinginan tidur itu datang begitu cepat. Sementara teman di sebelah saya sibuk bermain gadget maupun mambaca buku.

Awalnya saya mencoba mengisi waktu dengan menulis draft novel perdana saya. Lumayan lama juga saya menikmatinya, yaa setengah jam lah. Selain ngantuknya sudah semakin parah, goncangan di kereta mulai mengganggu. Dan jujur, dengan seringnya mendengar atau melihat kejadian buruk di kereta, saya deg-degan juga. Tidur menjadi tidak nyenyak, meskipun sebenarnya mata saya sudah setengah hati buat melek.

Tapi momen perdana itu akhirnya berlalu dengan berhentinya Lodaya di Stasiun Bandung, pukul 3.30, tanggal 1 Maret. Tempat pertama yang saya tuju ketika turun dari kereta adalah toilet. Kebayang nggak, 7 jam lebih saya harus betah nggak ke toilet hanya karena 1 hal, saya berpikir kalau toilet di gerbong hanya satu dan letaknya di depan, sementara kami duduknya di kursi barisan belakang. Ya, padahal toilet itu ada di belakang, tepat di belakang kursi saya. Nah lho. Malu bertanya itulah akibatnya.

Kami lalu menggunakan taksi menuju tempat menginap kami di wilayah Geger Kalong, tidak jauh dari kawasan Daarut Tauhid. Nah, apa yang terlintas di kepala kami semua adalah sosok Aa’ Gym dengan sorban putih, jas abu-abu dan sarung. Plus logat Sundanya.

Nah, ketika saya melihat kompleks ini, saya tercengang, karena hampir seperti di sebuah objek wisata dengan deretan tempat penginapan. Berbekal alamat dari alumni #KampusFiksi, pak sopur kemudian mencari alamat tersebut. Tidak begitu sulit karena dia pastinya sering ke daerah ini.

Kami pun sampai di depan Guest House Athirah milik Ibu Dede (022-2008229). Rumah dua tingkat dengan 6 kamar. Satu kamar di bawah. Kemudian kamar-kamar lainnya di lantai dua. Satu kamar kapasitasnya bisa 5-10 orang dengan 3 kamar menggunakan sistem conecting.

Fasilitas di sini boleh dibilang lengkap. Ada 2 kamar dengan kamar mandi dalam, 2 kamar mandi luar, tanpa ada air panas. Cukup membuat greget juga buat yang takut mandi air dingin di pagi hari. Di sini tersedia dapur, dispenser, alat makan, teh, gula. Ada TV di lantai 1 dan lantai 2. Ruang tengah yang cukup luas untuk bercengkerama, balkon di salah satu kamar. Boleh dibilang komplet.

Setibanya di rumah itu, kami pun beristirahat. Di pagi harinya, sejumlah alumni #KampusFiksi mulai berdatangan. Jumlahnya ada 11 orang. Mereka kemudian berembuk seputar proyek menulis kolaborasi mereka. Terus terang, saya tidak berperan apa-apa di sana. Cuma karena bingung mau ngapain, saya tetap saja di sana hingga sore hari.

Keesokan harinya, kami pun menyiapkan acara #KampusFiksi di Togamas Buah Batu. Cukup jauh perjalanan kami, karena memang selain jarak akomodasi yang jauh, kemacetan pun jadi masalah lain.

Cerita sedikit mengenai event #KampusFiksi ini, sebenarnya berfungsi sebagai media promo #KampusFiksi reguler yang dilakukan dua bulan sekali oleh DIVA Press. Jika di versi reguler ada banyak materi yang diberikan dengan kru yang lumayan banyak, di roadshow hanya ada seputar keredaksian yang saya isi dan teknik penulisan oleh Pak Edi. Acara ini dihadiri hampir seratus peserta meski tempat yang tersedia tidak terlalu besar.

Setelah acara selesai, kami pun kembali ke penginapan dan malam harinya saya diajak belanja ke SUMMIT, sebuah FO di kota Bandung. Ngomong-ngomong soal FO, Bandung memang rajanya, dan kata orang harganya murah. Tapi, ketika saya perhatikan label demi label harga beberapa item, memang tidak ada yang murah. Saya tertawa dalam hati, ini sih nggak murah namanya. Murah buat yang kalangan atas sih iya. Setelah keliling-keliling, saya nyerah. Nggak ada satupun baju yang saya beli. Malah saya lebih tertarik beli makanan untuk oleh-oleh teman di kantor. Daripada ngeluarin duit ratusan ribu untuk satu potong baju, mending buat beli makanan dapet banyak.

Keesokan harinya, kami pun harus kembali ke Yogyakarta. Kami belum sempat ke Tangkuban Perahu maupun Kawah Ijen. Mungkin lain kali dan nggak pas weekend tentunya. Kami menumpang Argo Wilis kelas eksekutif dengan tarif 255.000, berangkat pukul 08.00 dan tiba 15.00.

Jogja, 3 Maret 2014

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response